Pontianak (ANTARA Kalbar) - Penghasilan para penangkar ikan arwana jenis "Super Red" yang cukup menjanjikan sehingga membuat sebagian besar masyarakat di Kecamatan Semitau yang punya modal besar berlomba-lomba untuk mengembangbiakkan ikan arwana tersebut.

"Ibarat tinggal menunggu agar ikan arwana bisa hidup dengan baik, maka rezeki nomplok bisa datang kapanpun saja," kata H Dulkarim (45), salah seorang penangkar arwana jenis "Super Red" di kecamatan itu.

Bagaimana tidak, seorang penangkar di Kecamatan Semitau dan Suhaid yang berada di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum di Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat per bulannya bisa menghasilkan ratusan juta rupiah dari hasil penjualan anakan ikan arwana jenis "Super Red" ke Kota Pontianak, yang kemudian diekspor ke China, Jepang dan sejumlah negara lainnya.

"Saya kini tinggal menunggu indukan arwana bertelur dan menetas hingga menjadi anakan ikan yang siap jual," ujar Dulkarim.

Dulkarim mulai mengembangbiakkan arwana sejak sepuluh tahun lalu dengan modal awal Rp20 juta, dengan membuat kolam secara manual dan membeli dua ekor induk arwana satu jantan dan satu lagi betina.

Kini Dulkarim yang bisa menunaikan ibadah haji dari penangkaran arwana itu telah memiliki delapan kolam ukuran 6 X 12 meter itu memiliki aset sekitar Rp1,5 miliar dengan asumsi Rp200 juta per kolam.

Satu kolam ada sekitar delapan hingga sepuluh ekor induk, tujuh betina dan tiga jantan. "Satu jantan arwana bisa mengawini dua hingga tiga betina, agar perkembangbiakannya cepat," kata ayah tiga anak tersebut.

Dulkarim mengatakan, budidaya arwana memang membutuhkan perawatan khusus dan memerlukan tingkat keasaman air dan tanah tertentu. "Asal tingkat keasamannya tetap terjaga maka tidak berpengaruh meski lokasi kolam berada di dekat kebun sawit," katanya.

Dulkarim menambahkan, dari hasil usaha budidaya arwana ia mampu menyekolahkan anaknya hingga di perguruan tinggi di Jakarta jurusan kesehatan dan mampu membeli dua unit mobil.

Sementara Sukarman (44) salah seorang penangkar arwana di Suhaid mengatakan, dia menggeluti budidaya arwana baru dua tahun dengan modal kredit bank dan meminjam induk arwana milik keluarganya.

"Budidaya arwana butuh biaya besar, untuk membuat dua kolam saja saya merogoh "kocek" (saku) sekitar Rp50 juta, itu belum termasuk pengadaan induk yang per ekornya bisa seharga Rp15 juta untuk ukuran sedang," katanya.

Itu pun induk arwana tersebut harus dipelihara paling tidak satu tahun baru bisa menetaskan telur hingga menjadi anakan arwana, katanya.

"Genap dua tahun budidaya arwana saya sudah dua kali panen atau sebanyak 50 ekor dijual seharga Rp2,5 juta per ekor atau sebesar Rp125 juta," ujarnya.

Namun ia mengakui belum balik modal karena investasinya untuk dua kolam sekitar Rp300 juta.

Budidaya ikan arwana boleh dikatakan gampang-gampang susah, karena tidak semua penangkar arwana di dua kecamatan itu yang sukses. "Malah ada beberapa kolam milik warga setempat yang sudah belasan tahun tetapi belum juga panen," kata Sukarman.

Satu induk betina arwana bisa menetaskan telur hingga menjadi anak paling banyak 30 ekor atau senilai Rp75 juta atau bersihnya separoh dari jumlah itu setelah dipotong pembelian pakan, dan satu induk dalam setahun lebih dari sekali menetaskan telurnya.

Menurut data, yang ada di Kecamatan Semitau terdapat sekitar 100 penangkar arwana, dengan rata-rata memiliki lebih dari dua kolam, budidaya arwana mulai gencar dilakukan awal tahun 1990-an, ketika ikan arwana endemik TNDS mulai habis diburu oleh nelayan dan warga sekitar danau itu karena harganya yang tinggi.

Kecamatan Semitau dan Suhaid salah satu daerah penghasil arwana super red endemik Taman Nasional Danau Sentarum.

TNDS selama ini dikenal sebagai perwakilan ekosistem lahan basah danau, hutan rawa air tawar dan hutan hujan tropik di Kalimantan. Danau musiman yang berada di TNDS terletak pada sebelah cekungan sungai Kapuas, sekitar 700 kilometer dari muara yang menuju laut China Selatan.

Itu merupakan daerah tangkapan air, sebagai pengatur tata air bagi Daerah Aliran Sungai Kapuas. Daerah yang terletak di hilir Sungai Kapuas sangat tergantung pada fluktuasi jumlah air yang tertampung di danau tersebut.

Dari data WWF (World Wide Fund for Nature) Kalbar, TNDS memiliki ratusan jenis fauna, di antaranya mamalia (Mamal) sebanyak 147 jenis, hampir 64 persen mamalia di Kalimantan terdapat di TNDS, sebanyak 31 jenis reptilia (Reptil) salah satunya buaya katak (Crocodylus raninus) yang di asia telah dinyatakan punah sejak 500 tahun lalu, fauna jenis afes (burung) sebanyak 310, serta sebanyak 265 jenis ikan, dengan jumlah jenis ikannya lebih banyak dari semua jenis ikan air tawar di seluruh benua Eropa.

Kabupaten Kapuas Hulu memiliki luas kawasan lindung, taman nasional dan hutan lindung sekitar 1.626.868 hektare atau 54,59 persen, kawasan budidaya hutan sekitar 764.543 hektare atau 25,65 persen dan kawasan budidaya pertanian bukan danau sekitar 588.481 hektare atau 19,75 persen, serta kawasan danau sekitar 17.925 hektare.



Kembali kehabitat

Sebanyak delapan ekor induk ikan Arwana (Scleropages formosus) dilepasliarkan ke habitatnya di Danau Lindung Empangau, Kecamatan Bunut Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu, dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup.

Manajer Program Kalbar WWF - Indonesia, M Hermayani Putera mengatakan, empat ekor arwana merupakan bantuan dari WWF-Indonesia, dua ekor dari Dinas Perikanan Kabupaten Kapuas Hulu, dan dua ekor lainnya dari swadaya masyarakat.

"Pelepasan induk arwana ini adalah bentuk konkret masyarakat Empangau dalam memberi makna perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada 5 Juni setiap tahunnya," kata dia.

Arwana merupakan salah satu spesies ikan dilindungi dan masuk dalam daftar merah IUCN dengan status genting yang mengalami risiko kepunahan sangat tinggi di alam.

Perlindungan terhadap arwana sendiri diatur dalam UU No. 5 Tahun 1990, SK Mentan No.716/Kpts/Um/10/1980, dan PP No. 7 Tahun 1990.

Danau Empangau dikukuhkan menjadi danau lindung melalui SK Bupati Kapuas Hulu No 6 Tahun 2001 dengan luas kawasan lebih dari 124 hektare sekaligus komitmen pemerintah daerah setempat dalam mendorong pelestarian lingkungan hidup.

Bupati Kapuas Hulu AM Nasir mengatakan pemerintah siap memperkuat inisiatif masyarakat dalam mengelola Danau Empangau ini.

Masyarakat nelayan di Desa Empangau secara langsung mendapat manfaat dari pengembalian ikan arwana ke habitat alamnya.

Mereka memanen anak-anak ikan arwana dua kali setiap tahunnya. 10 persen dari manfaat yang diperoleh nelayan dikembalikan ke kas desa untuk kepentingan komunal seperti membangun pos polisi, perbaikan sarana ibadah, membayar tunjangan/honor para guru honorer di Desa Empangau, serta infrastruktur desa lainnya.

Pada kurun waktu 6 tahun (2004 dan 2009), total arwana yang dipanen oleh masyarakat sebanyak 192 ekor. Rata-rata produksi 32 ekor per tahun dengan total nilai Rp739,5 juta.

Setiap tahunnya, nilai tersebut terus bertambah. Selama September 2011 dan April 2012 masyarakat memanen sebanyak 26 ekor arwana.

Kepala Desa Empangau, Juniardi mengaku bangga lantaran prakarsa lokal ini sudah mulai dihargai dan diakui, tidak hanya di tingkat kabupaten dan provinsi, tapi juga di tingkat nasional. Ia mencontohkan tahun lalu, Kelompok Masyarakat Pengawas Danau Lindung Empangau berhasil meraih Juara Nasional.


(A057)

Editor: Zaenal Abidin
COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Kirim Komentar