Jumat, 21 Juli 2017

Harga Cabai Rawit di Ketapang Capai Rp120 Ribu

id Ketapang, cabai rawit, rawit
Harga Cabai Rawit di Ketapang Capai Rp120 Ribu
Ilustrasi - Petani cabai. (Foto Antara)
    Ketapang (Antara Kalbar) - Harga cabai rawit di Kabupaten Ketapang sejak beberapa hari terakhir menembus angka Rp120 ribu per kilogram.
    Hal tersebut dikarenakan pasokan di sejumlah sentra berkurang dan serta tingginyanya harga modal yang mencapai Rp100 ribu hingga Rp110 ribu per kilogram.
    Salah seorang pedagang sayur di Pasar Tradisional Rangga Sentap Ketapang, Miska (46) mengatakan, harga cabai rawit saat ini mencapai Rp120 ribu per kilogram atau naik hampir 100 persen dibanding sebelumnya yang di kisaran Rp70 ribu - Rp80 ribu per kilogram.
    "Kenaikan harga ini terjadi sejak awal tahun 2017 lalu. Kenaikan tersebut berdasarkan informasi yang diperoleh disebabkan oleh tanaman cabai diserang hama sehingga petani gagal panen dan membuat pasokan berkurang,’" kata dia.
    Adanya kenaikan harga ini membuat pendapatannya berkurang. Untuk menghindari hal tidak diinginkan, ia terpaksa mengambil cabe rawit secukupnya untuk berjualan.
    Dikatakannya, selain cabai rawit harga sayuran lainnya yang mengalami kenaikan yakni kubis dari Rp15 ribu menjadi Rp23 ribu per kilogram dan bawang merah dari Rp35 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram.
    Sementara itu, untuk jenis cabai lainnya justru tetap tidak mengalami kenaikan sepertu harga yakni cabai merah dari Rp50 ribu, cabai hijau Rp35 ribu dan cabai keriting besar tetap dengan harga Rp70 ribu per kilogram. "Semoga harga cabai rawit ini bisa kembali normal seperti biasa,’" tuturnya.
    Sementara itu, salah seorang pembeli warga Sepakat Kecamatan Delta Pawan Ketapang Rosadalina (40) mengaku keberatan adanya kenaikan harga cabai ini. Pasalnya kenaikan harga kebutuhan hidup juga terjadi di kebutuhan lainnya seperti bahan bakar minyak hingga tarif STNK dan BPKB. "Kenaikan harga ini sangat disayangkan. Apalagi tidak dibarengi dengan kenaikan atau penambahan pendapatan masyarakat biasa," keluhnya.

Editor: Teguh Imam Wibowo

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0103 seconds memory usage: 0.34 MB