Kamis, 29 Juni 2017

Indonesia Bantu Negara Afrika Kembangkan Kapasitas Pertanian

id pertanian, kapasitas, negara afrika, rpjmn
Indonesia Bantu Negara Afrika Kembangkan Kapasitas Pertanian
Ilustrasi pertanian organik (ANTARA FOTO)
Jakarta (Antara Kalbar) - Komitmen Indonesia untuk membantu pembangunan negara-negara lain masih berlanjut dan terus meningkat secara kualitas dan kuantitas.

Peran aktif Pemerintah Indonesia dalam beberapa forum dan organisasi internasional, seperti G20, APEC, dan ASEAN mencerminkan kemauan Indonesia untuk membagi pengetahuan dan pengalaman kepada negara lain.

Bahkan, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, Kerja sama Selatan-Selatan menjadi salah satu prioritas dalam kebijakan pembangunan Indonesia.

Kerja sama Selatan-Selatan adalah kegiatan pertukaran sumber daya, teknologi, dan pengetahuan antara negara-negara berkembang yang juga dikenal sebagai negara-negara Selatan global.

Pada 2017, Direktorat Kerja Sama Teknik Kementerian Luar Negeri RI berencana melaksanakan 15 program pengembangan kapasitas bagi negara-negara di kawasan Asia, Pasifik, Afrika, Timur Tengah dan Karibia.

Keseluruhan program tersebut merupakan komitmen Pemerintah Indonesia dalam kerangka Kerja Sama Selatan-Selatan yang bertujuan untuk memajukan kerja sama pembangunan antarnegara berkembang.

Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Kerja Sama Teknik Kementerian Luar Negeri bekerja sama dengan Kementerian Pertanian memberikan pelatihan untuk pengembangan pertanian bagi warga dari negara-negara Afrika melalui kerja sama pengembangan kapasitas.

"Sebagai negara yang telah membangun kapasitas tertentu di bidang pertanian, Indonesia berkomitmen untuk membantu sesama negara-negara berkembang lainnya dalam meningkatkan kapasitas berbagai aspek pertanian," kata Widi Hardjono, Kepala Pusat Pelatihan Pertanian Kementerian Pertanian RI.

Program pengembangan kapasitas di bidang pertanian untuk warga Afrika itu dilaksanakan di Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Cara Tani di Kuningan, Jawa Barat mulai 14 Maret hingga 1 Mei 2017.

Program "International Training on Agricultural for African Countries" itu diikuti 12 peserta dari 11 negara Afrika yaitu Zimbabwe, Angola, Ethiopia, Gambia, Madagaskar, Sudan, Kenya, Mozambik, Tanzania, Nigeria, dan Namibia.

Menurut Widi, pelatihan pertanian yang diberikan pemerintah Indonesia tersebut bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keahlian para petani Afrika dalam menanam padi dari sejak menabur benih sampai masa panen, proses teknologi padi, produksi jagung, cara penanaman dan perawatan pohon kopi.

Dalam pelatihan itu, para peserta juga akan mempelajari cara mengolah singkong dan ubi jalar yang dari segi komoditas banyak terdapat di negara-negara Afrika.

"Peserta pelatihan juga akan bertukar ide tentang pertanian yang ramah lingkungan. Peserta akan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan tentang pembenihan, penanaman hingga panen serta tentang teknologi pengolahan pangan," ujar Widi.

Dia mengatakan, pada akhir pelatihan, para peserta dari Afrika itu harus mempresentasikan Rencana Aksi untuk meningkatkan produktivitas dan keterampilan untuk diversifikasi pangan dan pengolahan dengan sistem "zero waste" di negara masing-masing.

Para peserta dari 11 negara Afrika menyampaikan rasa terima kasih kepada Pemerintah Indonesia yang telah memberikan pelatihan tersebut.

Budidaya Sebagian besar dari peserta berharap dapat mempelajari teknik budidaya padi, manajemen irigasi, serta teknologi pertanian dan produksi pangan yang efektif. Mereka berharap ilmu yang didapat di Indonesia bisa dibawa ke negara masing-masing untuk meningkatkan pertanian di Afrika.

"Saya merasa senang mendapat kesempatan datang ke sini untuk mempelajari pertanian Indonesia dan ketika kami kembali pulang ke negara masing-masing, kami dapat menerapkan ilmu yang kami dapat di sini," kata Salisu Mawaida Suleiman, salah seorang peserta pelatihan dari Nigeria.

Suleiman yang bekerja untuk Kementerian Pertanian Nigeria mengatakan bahwa selama di Indonesia dia ingin meningkatkan keahlian dan pengetahuannya di bidang pertanian, khususnya tentang budidaya padi.

Menurut dia, Indonesia merupakan negara yang tepat untuk mengadakan pelatihan pertanian karena sektor pertanian Indonesia dinilai baik oleh negara-negara Afrika, terutama dalam hal produksi padi.

"Dalam hal pembangunan kapasitas, Indonesia mempunyai kemampuan yang sangat mumpuni, khususnya untuk pertanian," ujar Suleiman.

Kegiatan pelatihan pertanian itu pun diharapkan dapat merekatkan hubungan Indonesia dengan negara-negara Afrika.

Selatan-Selatan Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemlu Niniek Kun Naryatie mengatakan pelatihan pertanian untuk negara Afrika yang diberikan oleh pemerintah RI melalui program pengembangan kapasitas itu merupakan komitmen Indonesia dalam menjalankan Kerja Sama Selatan-Selatan.

"Kerja Sama Selatan-Selatan adalah bagian dari kebijakan politik Indonesia, di mana kita membantu negara-negara Afrika untuk mengisi kemerdekaan mereka dengan kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka," ujar dia.

"Kita memilih melakukan pelatihan pertanian ini bukan hanya karena Indonesia baik dalam sektor ini, tetapi juga karena pertanian memang tulang punggung dari ekonomi kita," lanjut dia.

Dia meyakini bahwa bantuan pengembangan kapasitas yang diberikan pemerintah RI kepada negara-negara Afrika pada gilirannya akan memberikan manfaat bagi Indonesia, terutama manfaat jangka panjang.

"Selalu di dalam kegiatan Kerja sama Selatan-Selatan dikaitkan dengan diplomasi hasilnya tidak langsung. Kita tidak bisa langsung merasakan manfaatnya," ucap Niniek.

Dia menilai program bantuan kapasitas itu dapat mempererat hubungan kedua negara melalui "people-to-people contact" yang meningkat dengan mengundang warga Afrika mengikuti pelatihan langsung di Indonesia.

"Warga Afrika yang sudah datang ke Indonesia dan ikut pelatihan dengan dibiayai, paling tidak mereka akan menjadi 'friends of Indonesia' dan itu bermanfaat, namun kita mungkin tidak bisa merasakannya sekarang. Tetapi itu suatu hari akan kembali ke kita," kata dia.

Niniek juga menilai bahwa bantuan kapasitas tersebut akan membawa manfaat ekonomi bagi Indonesia di masa depan.

"Tentu kalau kita melatih mereka di sini dan mereka sudah terbiasa menggunakan benih tanaman unggul dari Indonesia, nantinya mereka pasti beli benih dari kita. Kemudian produk kita dikenal oleh mereka, misalnya mereka bilang beras kita enak, maka ke depan mereka bisa saja impor beras dari Indonesia," jelas dia.

Namun, Niniek menekankan bahwa manfaat ekonomi jangka panjang itu harus dikejar oleh kalangan bisnis dan sektor swasta Indonesia.

Dia menyebutkan manfaat jangka panjang lainnya adalah dukungan politik dari negara-negara Afrika bagi Indonesia di berbagai forum internasional, misalnya dukungan bagi upaya Indonesia untuk menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB.

Terlepas dari manfaat yang bisa diperoleh Indonesia, kata Niniek, program bantuan pengembangan kapasitas itu memang sudah komitmen Indonesia untuk membantu negara-negara Afrika.

"Sejak KAA (Konferensi Asia-Afrika) kita yang membuat mereka sadar bahwa kemerdekaan harus direbut, lalu setelah merdeka maka itu harus diisi dengan kesejahteraan," tutur dia.

Komitmen Indonesia membantu negara-negara Afrika memang dijalankan secara konsisten, tidak hanya sampai meraih kemerdekaan tetapi juga mengisi kemerdekaan dengan kegiatan untuk menuju kesejahteraan.

Editor: Admin Antarakalbar

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0114 seconds memory usage: 0.37 MB