Bandar Seri Begawan (ANTARA Kalbar) - Rakyat Brunei Darussalam dan warga negara Indonesia di negara kecil dan kaya minyak itu makin mudah mencari produk buatan Indonesia.
Menurut riset pasar dan survei produk 2011 jumlah produk itu hampir 3.500 jenis atau hampir tiga kali jumlah produk yang beredar setahun sebelumnya.
"Untuk mengetahui potensi ekspor produk Indonesia ke Brunei Darussalam, KBRI melakukan survei produk dan riset pasar. Kami menemukan jumlah produk Indonesia yang dipasarkan di Brunei naik dari tahun ke tahun," kata Duta Besar RI untuk Brunei Darussalam Handriyo Kusumo Priyo dalam perbincangan dengan ANTARA di Bandar Seri Begawan, Jumat.
Dubes menjelaskan, berdasarkan hasil survei produk dan riset pasar pada 2010, misalnya, produk Indonesia yang beredar di Brunei berjumlah 1.261 jenis dan jumlahnya naik tajam menjadi 3.497 jenis pada 2011.
Dubes yang didampingi Counsellor Andri Djufri Said dan Sekretaris I Deny Tri Basuki mengatakan peningkatan masuknya produk Indonesia khususnya makanan dan minuman dapat menjadi peluang di masa depan dalam meningkatkan ekspor Indonesia ke Brunei.
Sejumlah produk mie instan, kopi dan beberapa jenis makanan khas daerah termasuk yang paling digemari di negara yang berpenduduk hampir 500.000 jiwa ini.
Sejauh ini masih ada hambatan antara lain berupa belum adanya jaringan dan fasilitas dalam bentuk persetujuan perdagangan termasuk pembahasan mengenai regulasi impor, belum adanya angkutan laut langsung dan jalur transportasi langsung untuk pengangkutan barang, katanya.
Hubungan bilateral antara Indonesia dan Brunei telah berjalan sejak dibukanya perwakilan RI pada 1 Januari 1984. Memasuki tahun ke-28 hubungan bilateral, neraca perdagangan kedua negara dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi naik dan turun.
Nilai perdagangan keduanya berdasarkan data Kementerian Perdagangan RI hingga akhir Juni 2012 sebesar 391,9 juta dolar AS.
Brunei merupakan negara tujuan ekspor ke-39 bagi Indonesia dan negara pengimpor ke-23. Berdasarkan data Jabatan Pengembangan Kebijakan Ekonomi Brunei Darussalam, pada 2010 Indonesia menduduki peringkat ke-4 sebagai negara mitra dagang utama Brunei setelah Jepang, Korea Selatan dan Australia.
Produk utama ekspor Indonesia ke Brunei berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan RI berupa peralatan pengangkutan sedangkan Brunei mengekspor minyak dan gas ke Indonesia.
"Untuk meningkatkan kerja sama perdagangan dan menyeimbangkan neraca perdagangan Indonesia-Brunei pada 2011 dan 2012, KBRI Bandar Seri Begawan memfasilitasi keikutsertaan pengusaha Indonesia dalam berbagai pameran yang diselenggarakan Brunei," kata Handriyo.
Indonesia telah mengikuti antara lain pameran Consumer Goods Fair Part 1 and 2, Asian Delight Fair, Brunei Consumer and ICT Expo, BRIDEX dan Technology Expo 2011.
Trade Expo Indonesia
Terkait dengan penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) 2012 pada 17-21 Oktober 2012 di International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta, sebanyak 13 pengusaha Brunei menyatakan mereka akan menghadiri acara itu.
"Mereka ingin membeli furnitur dan produk makanan yang selama ini kabanyakan didatangkan melalui Singapura," kata Dubes Handriyo.
Di bidang perdagangan, kerja sama bilateral diharapkan makin meningkat dengan ditandatanganinya MoU di bidang kerja sama pertanian dan "letter of intent" di bidang kerja sama perikanan. Kedua pemerintah saat ini sedang dalam tahap finalisasi MoU kerja sama kesehatan dan kerja sama perikanan dan kelautan.
Di lain pihak, kerja sama "private-to-private" juga terus berjalan ditandai dengan semakin meningkatnya minat pengusaha kedua negara untuk bekerja sama, baik melalui keiikutsertaan dalam berbagai pameran dan temu usaha di Brunei maupun di Indonesia.
Sebagai tindak lanjut MoU di bidang pertanian, tim dari Jabatan Pertanian dan Agrimakanan Kementerian Industri dan Sumber-sumber Utama Brunei mengunjungi pertenakan sapi potong pada awal Mei 2012 dan melakukan pertemuan dengan pejabat di Kementerian Pertanian RI membahas kerja sama di bidang "acid sulphate soil improvements".
Menindaklanjuti kunjungan ke PT Natural Nusantara (NASA) di Yogyakarta pada Maret 2011, Dubes Handriyo mengatakan KBRI menawarkan peluang bagi penggunaan pupuk organik di Brunei yang memiliki struktur bergambut dan dijajaki kerja sama antara PT NASA dan pihak Brunei.
"Pihak Brunei menyatakan ketertarikannya untuk menggunakan teknologi dari PT NASA," katanya.
Saat ini pupuk produksi PT NASA sedang diujicobakan pada lahan di kawasan Labi, Brunei Darussalam. Pada 31 Mei 2012, Kadin Indonesia-Brunei Darussalam didirikan dengan tujuan untuk mendorong peran aktif pengusaha kedua negara.
(M016)
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2012
Menurut riset pasar dan survei produk 2011 jumlah produk itu hampir 3.500 jenis atau hampir tiga kali jumlah produk yang beredar setahun sebelumnya.
"Untuk mengetahui potensi ekspor produk Indonesia ke Brunei Darussalam, KBRI melakukan survei produk dan riset pasar. Kami menemukan jumlah produk Indonesia yang dipasarkan di Brunei naik dari tahun ke tahun," kata Duta Besar RI untuk Brunei Darussalam Handriyo Kusumo Priyo dalam perbincangan dengan ANTARA di Bandar Seri Begawan, Jumat.
Dubes menjelaskan, berdasarkan hasil survei produk dan riset pasar pada 2010, misalnya, produk Indonesia yang beredar di Brunei berjumlah 1.261 jenis dan jumlahnya naik tajam menjadi 3.497 jenis pada 2011.
Dubes yang didampingi Counsellor Andri Djufri Said dan Sekretaris I Deny Tri Basuki mengatakan peningkatan masuknya produk Indonesia khususnya makanan dan minuman dapat menjadi peluang di masa depan dalam meningkatkan ekspor Indonesia ke Brunei.
Sejumlah produk mie instan, kopi dan beberapa jenis makanan khas daerah termasuk yang paling digemari di negara yang berpenduduk hampir 500.000 jiwa ini.
Sejauh ini masih ada hambatan antara lain berupa belum adanya jaringan dan fasilitas dalam bentuk persetujuan perdagangan termasuk pembahasan mengenai regulasi impor, belum adanya angkutan laut langsung dan jalur transportasi langsung untuk pengangkutan barang, katanya.
Hubungan bilateral antara Indonesia dan Brunei telah berjalan sejak dibukanya perwakilan RI pada 1 Januari 1984. Memasuki tahun ke-28 hubungan bilateral, neraca perdagangan kedua negara dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi naik dan turun.
Nilai perdagangan keduanya berdasarkan data Kementerian Perdagangan RI hingga akhir Juni 2012 sebesar 391,9 juta dolar AS.
Brunei merupakan negara tujuan ekspor ke-39 bagi Indonesia dan negara pengimpor ke-23. Berdasarkan data Jabatan Pengembangan Kebijakan Ekonomi Brunei Darussalam, pada 2010 Indonesia menduduki peringkat ke-4 sebagai negara mitra dagang utama Brunei setelah Jepang, Korea Selatan dan Australia.
Produk utama ekspor Indonesia ke Brunei berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan RI berupa peralatan pengangkutan sedangkan Brunei mengekspor minyak dan gas ke Indonesia.
"Untuk meningkatkan kerja sama perdagangan dan menyeimbangkan neraca perdagangan Indonesia-Brunei pada 2011 dan 2012, KBRI Bandar Seri Begawan memfasilitasi keikutsertaan pengusaha Indonesia dalam berbagai pameran yang diselenggarakan Brunei," kata Handriyo.
Indonesia telah mengikuti antara lain pameran Consumer Goods Fair Part 1 and 2, Asian Delight Fair, Brunei Consumer and ICT Expo, BRIDEX dan Technology Expo 2011.
Trade Expo Indonesia
Terkait dengan penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) 2012 pada 17-21 Oktober 2012 di International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta, sebanyak 13 pengusaha Brunei menyatakan mereka akan menghadiri acara itu.
"Mereka ingin membeli furnitur dan produk makanan yang selama ini kabanyakan didatangkan melalui Singapura," kata Dubes Handriyo.
Di bidang perdagangan, kerja sama bilateral diharapkan makin meningkat dengan ditandatanganinya MoU di bidang kerja sama pertanian dan "letter of intent" di bidang kerja sama perikanan. Kedua pemerintah saat ini sedang dalam tahap finalisasi MoU kerja sama kesehatan dan kerja sama perikanan dan kelautan.
Di lain pihak, kerja sama "private-to-private" juga terus berjalan ditandai dengan semakin meningkatnya minat pengusaha kedua negara untuk bekerja sama, baik melalui keiikutsertaan dalam berbagai pameran dan temu usaha di Brunei maupun di Indonesia.
Sebagai tindak lanjut MoU di bidang pertanian, tim dari Jabatan Pertanian dan Agrimakanan Kementerian Industri dan Sumber-sumber Utama Brunei mengunjungi pertenakan sapi potong pada awal Mei 2012 dan melakukan pertemuan dengan pejabat di Kementerian Pertanian RI membahas kerja sama di bidang "acid sulphate soil improvements".
Menindaklanjuti kunjungan ke PT Natural Nusantara (NASA) di Yogyakarta pada Maret 2011, Dubes Handriyo mengatakan KBRI menawarkan peluang bagi penggunaan pupuk organik di Brunei yang memiliki struktur bergambut dan dijajaki kerja sama antara PT NASA dan pihak Brunei.
"Pihak Brunei menyatakan ketertarikannya untuk menggunakan teknologi dari PT NASA," katanya.
Saat ini pupuk produksi PT NASA sedang diujicobakan pada lahan di kawasan Labi, Brunei Darussalam. Pada 31 Mei 2012, Kadin Indonesia-Brunei Darussalam didirikan dengan tujuan untuk mendorong peran aktif pengusaha kedua negara.
(M016)
Editor : Nurul Hayat
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2012