Surabaya (Antara Kalbar) - Komedian Tukul Arwana membuka rahasia tentang potongan rambutnya yang cepak saat berbicara dalam "Motivamor" (Motivasi Bergaya Humor) di hadapan ratusan mahasiswa di Aula Lantai 1 Rektorat Unair Surabaya, Kamis.

 "Soal rambut itu, saya sebenarnya ingin menjadi anggota reserse (polisi), tapi saya punya kelemahan fisik, lalu saya terjun menjadi seniman, tapi seniman yang memiliki disiplin militer. Wal asri, demi waktu, menghargai waktu memang kunci sukses saya," ucapnya.

Dengan nada humor, ia mengaku dirinya pernah berambut panjang, sehingga ketika bercermin justru cerminnya yang kabur. "Tapi, cita-cita saya itu dilaksanakan anak angkat saya yang sekarang menjadi kanit (kepala unit) di Polres Malang," ungkapnya.

Dalam acara yang merupakan kerja sama Pertamina dengan Pusat Pembinaan Karir dan Kewirausahaan (PPKK) Unair itu, seniman yang juga presenter itu membeberkan lima kunci sukses yakni disiplin, menghargai orang, kerja keras, selalu belajar, dan bakti orang tua.

"Disiplin saya memang seperti militer, kalau diundang jam 05.00 WIB, saya sudah datang jam 04.00 WIB. Bagi saya, minta maaf gara-gara terlambat itu nggak ada," kata anak dari tukang jahit dan pedagang cabai itu.

Menurut "host" dari acara "Bukan Empat Mata" di televisi itu, dirinya juga selalu menghargai orang lain. "Kalau kita mengecilkan orang lain, maka kita akan kecil. Saya selalu mendengarkan orang lain, meski saya sudah pernah mendengar ucapannya," tuturnya.

Untuk kerja keras, ia mengaku dirinya merasa seperti melamar pekerjaan setiap hari. "Jadi, setiap hari itu seolah-olah baru, setiap hari juga selalu 'selamat pagi' terus. Untuk belajar, kita juga bisa membaca buku atau belajar dari pengalaman orang," ujarnya.

Di hadapan ratusan mahasiswa dari Unair, ITS, dan sejumlah kampus di Surabaya itu, ayah dari dua anak itu menceritakan pengalaman saat belum sukses. "Saya sering makan dengan utang kepada pemilik warung," katanya.

Selain itu, Tukul juga mengaku pernah menjadi penyiar radio bersama Eko Patrio, Komeng, Tarzan Srimulat, dan sebagainya. "Saat itu saya masih kontrak, tarif kontrakan sekitar Rp150.000, tapi gaji saya sebagai penyiar hanya Rp75.000, jadi tekor," ucapnya.

Namun, anak dari empat bersaudara itu kini sukses, sehingga dirinya dapat membeli rumah kontrakan itu dan kini membeli lagi rumah di kanan dan kiri rumah kontrakan itu untuk dikontrakkan kepada orang lain.

"Jadi, jangan takut dengan keadaan, tapi kuasai keadaan," kata seniman yang berencana menerbitkan buku 'Sang Penghibur - Tukul Arwana' bersamaan HUT ke-50 pada Oktober mendatang.

Motivamor itu tidak hanya bersifat motivasi dan humor, karena Tukul Arwana juga menghibur mahasiswa dengan melantunkan sebuah lagu dan mengajak penyanyi Surabaya, John Sapulette untuk menyanyi bersama.

Pewarta: Edy M Ya'kub

Editor : Zaenal A.


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2013