Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten mengkaji tawaran investasi pengolahan sampah berbasis teknologi dari PT Solusindo Sampah Energi (SSE), yang diklaim mampu mengubah 100 persen limbah menjadi energi uap (steam) untuk kebutuhan industri.

Direktur PT SSE, Mahadir, di Serang, Rabu, mengatakan bahwa teknologi yang ditawarkan pihaknya mampu mengolah sampah tanpa perlu pemilahan awal dan hampir tidak menyisakan residu.

"Selama ini teknologi pengolahan sampah di Indonesia rata-rata hanya mampu mengolah sekitar 40 persen, sementara sisanya menjadi masalah baru. Kami menawarkan solusi tanpa pemilahan yang teknologinya merupakan pengembangan dari Jepang dan sudah digunakan di Singapura, Dubai, serta India," ujar Mahadir.

Ia menjelaskan, Banten ditargetkan menjadi lokasi proyek percontohan pertama di Indonesia pada tahun 2026. Melalui teknologi tersebut, setiap 1.000 ton sampah dapat diolah menjadi sekitar 2.400 hingga 2.500 ton steam yang siap dimanfaatkan oleh sektor industri.

Proyek ini, lanjut Mahadir, ditawarkan sebagai investasi murni swasta tanpa menggunakan anggaran pemerintah. Nilai investasi nya diperkirakan mencapai Rp4 triliun untuk kapasitas pengolahan 3.000 hingga 4.000 ton sampah per hari. Pihak perusahaan juga akan mengelola sistem logistik secara terintegrasi guna menjaga stabilitas pasokan bahan baku.

Menanggapi tawaran tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Banten, Wawan Gunawan, menilai pengolahan sampah menjadi steam sangat relevan untuk memenuhi kebutuhan kawasan industri di Cilegon yang selama ini masih bergantung pada turbin batu bara.

"Kebutuhan steam di kawasan industri Cilegon diperkirakan mencapai 600 ton per hari. Ini langkah yang baik terutama untuk menekan emisi karbon dan gas rumah kaca," kata Wawan.

Meski demikian, Wawan mengakui bahwa tantangan utamanya terletak pada ketersediaan bahan baku sampah. Pasalnya, sebagian timbulan sampah di Cilegon telah dialokasikan untuk program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang dicanangkan di beberapa wilayah Banten.

"Solusi yang paling memungkinkan adalah mengambil pasokan sampah dari daerah lain seperti Lebak dan Pandeglang melalui pendekatan lebih lanjut bersama investor," jelasnya.

Wawan menambahkan, hingga saat ini belum ada keputusan final dari Pemprov Banten. Namun, pimpinan daerah telah merespons baik usulan investasi tersebut, sembari mematangkan skema pengangkutan sampah dan operasional nya di masa depan.

Pewarta: Desi Purnama Sari

Editor : Admin Antarakalbar


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Barat 2026