Pontianak (ANTARA) - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disbunnak) Kalbar menggelar serangkaian agenda dalam rangka memperingati Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ke-189 dan peringatan Hari Rabies Sedunia 2025. Kegiatan tersebut merupakan bentuk apresiasi terhadap para insan dan masyarakat yang berperan aktif dalam dunia peternakan, sekaligus menjadi momentum evaluasi capaian yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah dan masyarakat setempat.
Kepala Disbunnak Kalbar, Heronimus Hero saat acara penutupan puncak peringatan menegaskan pentingnya kontribusi sektor peternakan terhadap PDRB dan perekonomian wilayah.
"Tentu arahnya kesejahteraan di bidang peternakan bergerak terus. Kita melihat bagaimana posisi peternakan dan kontribusinya pada PDRB dan ekonomi," ujar Hero.
Meski demikian, Hero mengakui adanya sejumlah tantangan yang dihadapi. Selain upaya meningkatkan produksi ternak, pemerintah juga fokus pada perlindungan ternak dari berbagai penyakit yang mengancam, baik bagi hewan maupun manusia.
"Memang beberapa hal kendala kita selain meningkatkan produksi ternak kita juga berupa tantangan dalam melindungi ternak dari berbagai penyakit," tambahnya.
Secara keseluruhan, kinerja sektor peternakan di Kalbar dinilai baik dan itu terus dimaksimalkan untuk kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat.
"Kinerja kita boleh dikatakan baik, meskipun beberapa kasus seperti African Swine Fever (ASF) dan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menjadi tantangan. Namun produksi unggas dan telur surplus. Untuk babi dan sapi masih defisit namun tersedia karena distribusi lancar," jelas Hero.
Fokus pada Pengendalian Rabies
Hero menyoroti secara khusus upaya pengendalian rabies. Hingga tahun 2025 ini, tercatat 16 orang meninggal dunia akibat rabies di Kalbar. Episentrum penyakit ini terletak di Kabupaten Landak, Sanggau, Ketapang, Bengkayang, dan Sekadau.
Ketersediaan vaksin rabies menjadi perhatian. Menurut Hero, saat ini hanya tersedia sekitar 42.000 dosis vaksin, yang baru memenuhi sekitar 20% dari kebutuhan. "Sehingga keterlibatan dan literasi terkait rabies penting. Rabies bisa dicegah," tegasnya, menekankan perlunya peran serta masyarakat dalam pencegahan.
PMK dan ASF dalam Kendali
Di sisi lain, pengendalian PMK dan ASF dilaporkan sudah menunjukkan hasil yang positif. Untuk ASF, saat ini berada dalam tahap pemulihan populasi ternak. Sementara untuk PMK, pengendalian dilakukan secara masif melalui vaksinasi yang gencar.
"Yang tertular PMK hanya 60 ekor sapi saja dan sudah sembuh 57 ekor. Untuk tiga ekor lainnya dilakukan pemotongan paksa," pungkas Heronimus Hero, mengindikasikan bahwa situasi PMK saat ini telah terkontrol dengan baik.
Dalam kegiatan Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ke-189 dan peringatan Hari Rabies Sedunia 2025 sejumlah acara dihadirkan mulai dari dialog interaktif, vaksinasi rabies, streril kucing, komunikasi informasi dan edukasi, pojok konsulatasi, bazar telur murah, pameran produk pangan asal hewan, senam ceria anak Indonesia, kampanmye sarapan sehat bergizi dengan produk hewan, kampanye hewan sehat, penyerahan sertifikat apresiasi dan acara puncak serta lainnya.
Melalui Bulan Bakti ini, Disbunnak Kalbar berharap dapat terus mendorong sinergi antara pemerintah dan masyarakat untuk memajukan kesejahteraan sektor peternakan dan menjaga kesehatan hewan di wilayahnya.
