Pontianak (ANTARA) - Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura (FISIP Untan) yang tergabung dalam Klub Riset Teras Komunika melibatkan anak-anak dari Forum Anak Kota Pontianak sebagai mitra riset untuk melakukan mitigasi bencana.
"Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH). Dalam pelaksanaannya sebanyak 48 partisipan mengikuti kegiatan tersebut, terdiri dari 25 anggota Forum Anak Kota Pontianak yang berperan sebagai co-peneliti, serta 23 peneliti muda dari Teras Komunika. Mereka berkolaborasi untuk mengkaji strategi komunikasi mitigasi bencana berbasis anak dengan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR)," kata Ketua Tim PKM-RSH Dwi Kartini Apriza di Pontianak, Jumat.
Menurutnya, selama ini anak-anak lebih sering diposisikan sebagai penerima informasi kebencanaan. Melalui penelitian ini, pihaknya ingin menunjukkan bahwa mereka juga mampu menjadi komunikator yang menyampaikan pesan mitigasi secara kontekstual dan efektif.
Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, katanya, anak-anak dilibatkan sepenuhnya dalam berbagai aktivitas ramah anak seperti focus group discussion (FGD), pemetaan risiko bencana di lingkungan tempat tinggal, menggambar lingkungan ideal, serta wawancara mendalam tentang solusi mitigasi yang mereka gagas sendiri.
Pembina Tim PKM-RSH Joshua Fernando menyampaikan bahwa anak-anak tidak hanya menjadi peserta pasif, tetapi juga turut menyusun strategi komunikasi bencana berdasarkan pengalaman dan sudut pandang mereka.
"Anak-anak tidak hanya menyampaikan pengalaman, tetapi juga merancang strategi komunikasi yang mereka anggap relevan. Mereka memilih media, menyesuaikan pesan, dan mengajak teman sebaya untuk berperilaku tangguh," kata Joshua.
Melalui kerangka teori komunikasi Covello dan Sandman (2001), tim peneliti yang menamai diri mereka Bintang Tanggap menemukan bahwa anak-anak menunjukkan pemahaman terhadap hazard (jenis dan lokasi risiko) serta outrage (respons sosial dan emosional) dalam konteks kebencanaan.
Hasil riset ini mengindikasikan bahwa anak-anak memiliki kapasitas sebagai aktor komunikasi yang mampu menyampaikan pesan mitigasi secara kontekstual dan empatik. Temuan tersebut juga mengungkap bahwa pola komunikasi kebencanaan di Pontianak selama ini masih bersifat satu arah, di mana anak lebih sering menjadi penerima informasi.
Namun, melalui proses partisipatif yang dilalui dalam penelitian ini, anak-anak mulai menunjukkan kemampuan berpikir kritis, memetakan risiko, serta menawarkan solusi konkret dalam pengurangan risiko bencana di lingkungan mereka.
Dari hasil itu, tim peneliti berencana merancang model komunikasi kebencanaan ramah anak yang berbasis partisipasi dan suara anak. Model tersebut diharapkan dapat diterapkan tidak hanya di Kota Pontianak, tetapi juga di berbagai daerah lain sebagai strategi komunikasi bencana yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
"Temuan ini menjadi pijakan awal untuk mengembangkan pendekatan komunikasi bencana yang mengakui anak sebagai subjek perubahan, bukan sekadar penerima informasi," kata Dwi Kartini.
