Bengkayang (ANTARA) - Sore itu, suara riuh anak-anak terdengar dari sebuah rumah panggung di Dusun Sungkung II, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang. Di dalam rumah, cahaya lampu bohlam menggantikan temaram pelita yang dulu menjadi satu-satunya sumber penerangan. Di pojok dapur, terdengar suara lembut rice cooker menanak nasi—sebuah pemandangan yang dulu mustahil ditemui di pedalaman perbatasan ini.
“Semenjak ada listrik, jaringan internet pun ikut masuk karena bisa bantu berdirinya tower. Sekarang masak sudah jarang pakai kayu bakar, kecuali yang belum mampu beli rice cooker. Ini mungkin perubahan nyata yang kami rasakan,” tutur Awam (29), warga Sungkung II, sambil tersenyum bangga menceritakan kepada ANTARA, Rabu (22/10).
Bagi Awam dan warga lainnya, kehadiran Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) di wilayahnya ibarat mimpi di siang bolong. Bertahun-tahun mereka hidup dalam kegelapan, hanya ditemani cahaya pelita dari minyak tanah dan senter seadanya. Malam hari bukan waktu untuk beraktivitas, apalagi bepergian, karena minimnya penerangan membuat perjalanan berisiko.
“Dulu kalau ada orang sakit malam-malam, susah sekali mau pergi ke puskesmas. Gelap sekali. Sekarang lampu terang, jalan lebih mudah,” kenang Awam.
Kondisi kini jauh berbeda. Seiring masuknya listrik, masyarakat Sungkung merasakan perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan. Aktivitas rumah tangga menjadi lebih mudah, pelayanan kesehatan dan pendidikan semakin lancar. Anak-anak bisa belajar di malam hari tanpa takut kehabisan minyak tanah. Ibu rumah tangga pun mulai memanfaatkan listrik dan jaringan internet untuk berjualan dari rumah.
“Informasi sekarang cepat sekali didapat. Kami bisa tahu harga barang, kabar keluarga di kota, bahkan jualan online,” ujar Awam.
Selain membuka akses terhadap teknologi, kehadiran listrik juga membawa dampak ekonomi. Warga tak perlu lagi mencari kayu bakar ke hutan setiap hari. Waktu dan tenaga bisa dialihkan untuk usaha lain yang lebih produktif. Listrik juga membuat aktivitas ekonomi menggeliat, terutama bagi usaha kecil yang membutuhkan penerangan atau daya listrik.
Namun, di tengah rasa syukur itu, warga masih menyimpan satu harapan: akses jalan. Jalan yang layak diyakini menjadi kunci bagi peningkatan ekonomi masyarakat Sungkung.
“Kalau jalan bagus, hasil bumi bisa cepat dijual. Kami bisa tambah sejahtera,” harap Awam.
Ia juga berharap, kemajuan teknologi dan hadirnya listrik tidak mengubah karakter warga Sungkung yang dikenal sederhana, saling membantu, dan dekat dengan alam.
“Kami senang sudah maju, tapi jangan sampai lupa adat, jangan lupa lingkungan,” pesannya.
Dari desa terpencil ke desa terang
Desa Sungkung merupakan nama daerah terpencil di perbatasan Indonesia dan Malaysia bagian timur. Secara administratif berada di Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.
Desa Sungkung dulunya merupakan desa yang gelap dan terisolasi. Masyarakat desa ini hidup dalam keterbatasan, tanpa akses listrik yang memadai. Aktivitas sehari-hari hanya dapat dilakukan pada siang hari, dan malam hari hanya diterangi oleh lampu minyak atau pun api unggun.
Namun, semuanya berubah ketika listrik mikrohidro hadir di desa itu. Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) yang dibangun di sungai yang mengalir di desa ini berhasil menghasilkan listrik yang cukup untuk menerangi desa mereka.
Masyarakat di desa Sungkung sangat gembira dengan hadirnya listrik mikrohidro ini. Mereka dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih mudah dan nyaman. Anak-anak dapat belajar dengan lebih baik karena memiliki penerangan yang cukup. Ibu-ibu dapat melakukan pekerjaan rumah tangga dengan lebih efisien, karena memiliki listrik yang stabil.
Dengan adanya listrik mikrohidro, desa Sungkung juga menjadi lebih maju. Masyarakat desa ini dapat menikmati fasilitas-fasilitas modern, seperti televisi dan internet. Mereka dapat terhubung dengan dunia luar, dan memiliki akses ke informasi yang lebih luas. Mereka lebih mudah berkomunikasi dengan sanak saudara yang tinggal di luar desa.
Hadirnya listrik mikrohidro di desa Sungkung juga membawa dampak positif bagi perekonomian masyarakat. Mereka dapat memulai usaha-usaha baru, seperti warung-warung kecil, kerajinan tangan dan juga pengolahan hasil pertanian.
Dalam lima tahun terakhir, desa Sungkung telah berubah menjadi desa dengan status maju. Masyarakat desa ini telah menikmati manfaat dari listrik mikrohidro, dan telah dapat meningkatkan kualitas hidup mereka. Desa Sungkung telah menjadi contoh bagi desa-desa lain di Indonesia, bahwa listrik mikrohidro dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di desa-desa terpencil sebagai bentuk kemandirian energi.
Pada awalnya, masyarakat desa Sungkung hanya memiliki akses listrik yang terbatas. Mereka harus menggunakan generator diesel yang mahal dan tidak ramah lingkungan. Itupun tidak semua warga mampu membeli. Sisanya mereka menggunakan pelita sebagai penerang. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk mencari alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan listrik mereka.
Untuk mendapatkan listrik pada 2015, pemerintah Kabupaten Bengkayang bersama pemerintah desa melakukan survei dan studi kelayakan untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) di desa Sungkung. Tim survei menemukan bahwa desa Sungkung memiliki potensi aliran sungai yang cukup besar untuk menghasilkan listrik mikrohidro.
Setelah melakukan survei dan studi kelayakan, kemudian rencana pembangunan dimasukkan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Desa (APBDesa). Mereka memulai proses pembangunan dengan membersihkan lahan dan memasang pipa-pipa yang diperlukan.
Setelah itu, mereka memasang turbin air yang akan mengubah energi kinetik air menjadi energi listrik. Mereka juga memasang generator yang akan mengubah energi listrik menjadi listrik yang dapat digunakan dengan didampingi tim ahli.
Proses pembangunan pembangkit listrik mikrohidro memakan waktu beberapa bulan.
Masyarakat desa Sungkung bekerja keras untuk memastikan bahwa pembangkit listrik mikrohidro dapat beroperasi dengan baik. Akhirnya, pada hari yang ditunggu-tunggu, pembangkit listrik mikrohidro di desa Sungkung resmi beroperasi. Masyarakat desa Sungkung sangat gembira karena mereka dapat menikmati listrik yang stabil dan terjangkau.
Proses pembangunan dilakukan pada 2016 di desa Sungkung III, tepatnya di dusun Senoleng, dan untuk pertama kali listrik hadir pada 2017. Kemudian disusul dusun lainnya pada 2020-2021 di dusun Batu Ampar. Begitu juga dengan desa Sungkung II dan desa-desa lainnya di Kecamatan Siding.
Setelah miliki akses listrik yang stabil dan terjangkau, warga mulai membeli alat-alat elektronik untuk kebutuhan rumah tangga, seperti lampu LED, televisi, kulkas dan kipas angin.
Setelah pembangkit listrik mikrohidro beroperasi, pengeluaran untuk penerangan desa Sungkung turun drastis. Mereka hanya perlu mengeluarkan biaya operasional dan perawatan pembangkit listrik mikrohidro dari biaya yang dihitung Rp5.000 per bola lampu setiap bulannya.
Jika rumah tangga menambah elektronik lainnya seperti televisi di bayar Rp15 ribu, rice cooker penanak nasi Rp10.000, dan kulkas Rp100 ribu. Yang berati rata-rata pengeluaran rumah tangga perbulan dengan pemakaian elektronik lengkap sekitar Rp130-150 ribu perbulan. Sedangkan ketika harus memakai diesel, mereka mengeluarkan biaya hingga Rp500 ribu per bulan.
Dibandingkan lagi jika menggunakan minyak tanah, mereka mengeluarkan sekitar Rp150 ribu- Rp200 ribu per bulan untuk membeli minyak tanah dan perawatan pelita. Selain itu minyak tanah juga sangat langka.
Pembangunan swadaya masyarakat
Kepala Desa Sungkung II, Maman Kurniawan, menceritakan pembangunan PLTMh itu sepenuhnya dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Tenaga kerja berasal dari warga desa sendiri, sementara pendanaannya bersumber dari dana desa pada 2019, saat kepemimpinan kepala desa sebelumnya.
“Pembangunan ini lahir dari kesepakatan bersama antara pemerintah desa dan masyarakat, agar manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh warga,” ujarnya.
PLTMh Sungkung II memanfaatkan aliran Sungai Anif, sekitar satu kilometer dari pemukiman penduduk. Saat ini, listrik tersebut menerangi sekitar 100 kepala keluarga, sekolah, serta rumah ibadah dengan kapasitas 48 KVA. Menurut Maman, pembangunan itu menjawab kerinduan panjang masyarakat terhadap penerangan.
“Sekarang warga Sungkung seluruhnya sudah menikmati listrik. Kami selalu mengingatkan agar turbin dijaga dan hutan di sekitar sungai tetap lestari. Area PLTMh harus steril dari penebangan,” katanya.
Kehadiran listrik membawa perubahan besar bagi kehidupan warga. Aktivitas ekonomi dan sosial meningkat pesat, jaringan telekomunikasi menjangkau desa yang dulu terisolasi, dan akses layanan keuangan mulai terbuka.
“Sekarang sudah ada layanan BRI Link, warga bisa transaksi tanpa harus turun ke pasar Bengkayang yang jaraknya sangat jauh. Perubahannya luar biasa,” ujarnya.
Sementara untuk biaya listrik, masyarakat membayar Rp5.000 per bola lampu setiap bulan. Iuran tersebut digunakan untuk perawatan turbin dan upah petugas yang menjaga serta mengoperasikan sistem setiap hari. “Kalau satu rumah pakai dua atau tiga lampu, tinggal dikalikan saja,” jelas Maman.
Cerita serupa datang dari Desa Sungkung III. Kepala desanya, Sujianto, mengisahkan perjuangan membangun PLTMh di tengah pandemi Covid-19 pada 2020. Meski anggaran desa harus mengalami refocusing untuk penanganan kesehatan, pembangunan tetap dilanjutkan karena dianggap sangat vital bagi warga.
“Keduanya sama-sama penting, tapi kami putuskan tetap lanjut. Warga juga gotong royong membantu bahan dan tenaga, sehingga pembangunan bisa cepat selesai,” ujarnya.
PLTMh Sungkung III berdiri di Sungai Aweh, Dusun Batu Ampar, dengan anggaran sekitar Rp400 juta. Jarak dari pemukiman ke lokasi sekitar tiga kilometer. Daya yang dihasilkan mencapai 380 volt, mampu menerangi 368 kepala keluarga.
Sebelumnya, pada 2010, PLTMh pertama di kawasan itu dibangun di Dusun Medeng melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) dengan anggaran Rp350 juta dan kapasitas 40 kWh untuk 140 kepala keluarga.
Kini, hampir seluruh warga Sungkung menikmati listrik dan jaringan telekomunikasi.
“Sekarang rata-rata sudah punya kulkas, televisi, alat masak listrik. Warga bisa jual es atau menyimpan daging untuk dijual. Perubahan ekonomi terasa sekali,” kata Sujianto.
Dukungan pemkab Bengkayang
Pemerintah Kabupaten Bengkayang terus menunjukkan keseriusannya mewujudkan visi “Bengkayang Terang” sebagai bagian dari program prioritas pembangunan daerah. Melalui kerja sama dan sinkronisasi dengan PLN serta sejumlah pihak terkait, Pemkab Bengkayang mendorong percepatan pemerataan listrik hingga ke pelosok desa, salah satunya melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh).
Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis, menuturkan bahwa upaya memperluas akses listrik menjadi komitmen utama pemerintah daerah dalam masa kepemimpinannya yang kedua. Menurutnya, kemandirian energi merupakan fondasi penting bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Sinkronisasi dengan PLN dan pihak terkait dilakukan agar rencana pembangunan kelistrikan bisa berjalan cepat dan terarah. Desa-desa yang belum teraliri listrik akan segera mendapat pasokan energi,” ujarnya.
Sebastianus menjelaskan, potensi sumber daya air di sejumlah wilayah telah dipetakan untuk pengembangan PLTMh. Pemerintah desa bersama PLN dan masyarakat setempat juga dilibatkan agar pembangunan berjalan efektif dan berkelanjutan.
“Kita sudah bahas dan survei bersama mengenai sumber air yang bisa dimanfaatkan sebagai pembangkit. Dalam waktu dekat, beberapa titik akan mulai dibangun,” katanya.
Bengkayang sendiri kini menjadi salah satu daerah dengan potensi energi terbesar di Kalimantan Barat. Di wilayah ini berdiri dua PLTU besar, yaitu PLTU 1 Bengkayang berkapasitas 2x100 megawatt (MW) dan PLTU 3 Bengkayang 2x50 MW. Selain itu, pembangunan PLTMh berkapasitas 32 MW sedang berlangsung, dan satu lagi berkapasitas 11 MW segera menyusul. Padahal, kebutuhan listrik seluruh wilayah Bengkayang hanya sekitar 5,6 MW.
Kelebihan daya ini menjadi peluang bagi pemerintah daerah untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mendukung program transisi energi bersih nasional. Bengkayang bahkan sedang menyiapkan proyek pembangkit listrik berbasis biomassa dari sampah, bekerja sama dengan PLN serta sejumlah perusahaan asal Tiongkok, seperti CGL dan EGCL.
“Kita sudah masuk tahap kajian dan rencananya pada November nanti pihak PLN bersama perusahaan mitra akan meninjau langsung lokasi rencana pembangunan listrik biomassa,” ujarnya.
Selain biomassa, potensi panas bumi juga mulai dilirik di Kecamatan Siding, daerah perbatasan Indonesia–Malaysia. Hasil penelitian awal menunjukkan adanya sumber panas bumi yang berpotensi dikembangkan menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Geotermal (PLTG) berkapasitas 2x50 MW. Jika terealisasi, Bengkayang akan menjadi salah satu kabupaten di Kalimantan Barat yang memiliki tiga jenis pembangkit berbeda: PLTU, PLTMh, dan PLTG.
Pemerintah daerah juga menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Universitas Tanjungpura (Untan) untuk mengkaji kemungkinan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di masa depan. Kajian dilakukan bersama Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) sebagai bagian dari rencana jangka panjang kemandirian energi.
“Studi awal sudah berjalan, dan pada 8 November nanti akan dilaksanakan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) yang melibatkan pemerintah provinsi, kabupaten, dan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Pemkab Bengkayang juga berupaya menghidupkan kembali proyek PLTU 2 Bengkayang yang sempat mangkrak di kawasan Samudera Indah, Batu Payung, dan Tanjung Gundul. Rencana pembangunan dengan kapasitas 2x50 MW itu ditujukan untuk memperkuat pasokan listrik di kawasan industri dan perbatasan.
Semua langkah tersebut, kata Sebastianus, merupakan bagian dari visi besar menuju daerah mandiri energi.
“Kita ingin Bengkayang tidak hanya cukup untuk dirinya sendiri, tapi juga bisa menjadi penyokong energi bagi wilayah lain di Kalimantan. Mandiri energi berarti mandiri ekonomi, sosial, dan pembangunan,” ujarnya.
Ia menambahkan, jika seluruh proyek energi rampung, Bengkayang akan memiliki kapasitas hampir satu gigawatt. Dia optimistis, dengan daya sebesar itu, Bengkayang bukan hanya mencukupi kebutuhan sendiri, tapi juga bisa berkontribusi bagi sistem energi Kalimantan.
Bupati berharap pembangunan sektor energi di Bengkayang terus sejalan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan. Pembangunan PLTMh dan pembangkit berbasis energi terbarukan diharapkan menjadi contoh bahwa pembangunan bisa berjalan beriringan dengan pelestarian alam.
“Bengkayang harus menjadi daerah yang terang, berdaya, dan berkelanjutan. Ini bukan hanya soal listrik, tapi soal masa depan masyarakat yang mandiri,” ujarnya.
Solusi desa terpencil
PLTMh termasuk ke dalam sumber energi baru terbarukan yang layak disebut sebagai energi bersih, kata pemerhati lingkungan, yang juga ketua komunitas pencinta alam Tana' Panyanggar Kalbar, Hatari.
Menurut dia, pembangunan PLTMH sangat penting dalam membantu pemerintah menanggulangi krisis energi yang sedang terjadi saat ini terutama untuk meningkatkan rasio kelistrikan pada daerah-daerah terpencil yang tidak mampu dijangkau jaringan listrik PLN.
PLTMh cukup menjawab akan krisis energi, sehingga Kalbar tidak bergantung kepada pasokan energi dari negara tetangga Malaysia, yang energi listriknya juga di hasilkan dari Hidroelektrik Bendungan Bakun yang menghasilkan Daya 2.400 MW.
"Paling tidak mengurangi ketergantungan kita terhadap pasokan listrik dari Malaysia, agar Kalbar juga ada kemandirian dan ketahanan energi," ujarnya.
Potensi tenaga air dari sungai yang mengalir sangat memungkinkan untuk bisa sedikit mengatasi krisis energi, setidaknya untuk dimanfaatkan masyarakat yang tinggal di daerah sekitar aliran sungai, yaitu dengan membangun desa mandiri energi melalui pemanfaatan potensi mikrohidro yang ada di wilayah tersebut.
Selain pertimbangan biaya pembangunan yang tergolong lebih murah, biaya operasional dan pemeliharaan PLTMh pun lebih murah dibanding dengan menggunakan mesin diesel berbahan-bakar solar.
Jika terjadi kerusakan pada insalasi PLTMh, tidak sulit untuk mendapatkan suku cadang, karena sudah banyak yang diproduksi di Indonesia. Masyarakat yang memanfaatkan PLTMh juga akan terdorong untuk memelihara lingkungan hidup di sekitarnya.
Selain itu katanya, potensi energi bersih yang bersumber dari air memiliki konsekuensi yaitu pelestarian lingkungan hidup, terutama di wilayah tangkapan air di hulu sungai. Sebab kalau tidak ada perlindungan terhadap alam, maka bisa saja suplai air menjadi berkurang atau bahkan hilang.
Sehingga menjaga lingkungan sangat penting, supaya suplai air penggerak turbin tetap lancar mengalir sepanjang tahun menjadi hal yang mutlak harus dilakukan. Karena itu daya dukung lingkungan hutan tangkapan air di hulu sungai tetap terjaga baik menjadi kunci bertahannya PLTMh/PLTA.
" Ya salah satu yang harus dilakukan adalah terus mengajak masyarakat menjaga lingkungan hutan dan melaksanakan penghijauan agar sumber kekayaan energi bersih yang di manfaatkan untuk PLTMh/PLTA berupa air bisa berkelanjutan. Dukungan semua pihak guna menjaga hutan dan lingkungan harus terus diupayakan. Kalau sampai tidak bisa menjaga aliran air, maka produksi listrik juga akan terkena dampaknya," ujarnya.
Dikatakan dia, PLTMh memiliki banyak manfaat dari berbagai aspek. Dari aspek kepentingan lingkungan hidup, penggunaan PLTMh memberikan sumbangan yang sangat berarti dalam penghematan energi. Selain itu, juga berkontribusi terhadap perbaikan mutu lingkungan hidup karena mengurangi penggunaan bahan bakar fosil yang berdampak terhadap polusi udara, hujan asam, dan efek rumah kaca.
Sementara dari aspek kepentingan kehutanan, tujuan pembangunan PLTMh adalah membangun perekat hubungan positif antara hutan dan masyarakat. Ini ditujukan untuk meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat di dalam dan sekitar hutan agar secara swadaya bersedia menjaga dan melestarikan fungsi hutan.
"Karena tanpa sadar pun masyarakat akan terjun langsung menjaga kelestarian hutannya. Seperti beberapa contoh yang sudah ada PLTMh, mereka dengan sendirinya bersama-sama menjaga kawasan sungai. Kelestarian fungsi hutan ini akan menjamin kontinuitas hasil air yang akan bermanfaat bagi masyarakat itu sendiri maupun masyarakat di bagian hilirnya," ujarnya.
Menurut amatnya, beberapa pengembangan PLTMh di beberapa tempat mampu menstimulasi ekonomi pedesaan. Dalam konteks upaya menggiatkan partisipasi, pembangunan PLTMh tidak berakhir pada hasil listrik saja, melainkan sebagai katalis dari kegiatan pemberdayaan masyarakat.
"Dan jika bisa di kelola secara mandiri oleh masyarakat bisa jadi Pendapatan Asli bagi daerah tersebut. Tentu untuk mengoptimalkan hal tersebut diperlukan kerjasama semua pihak mulai dari proses perijinan sampai proses pemasangan, perawatan dan juga alih tehnologinya," ujarnya.
Energi yang diperoleh dari air ini juga menyiratkan makna mengajak menjaga kelestarian alam. Masyarakat bergotong-royong menjaga hutan di hulu agar sungai tetap terjaga dengan baik, karena mereka sudah merasakan manfaat akan kelestarian hutan.
Uploader : Admin Antarakalbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.