Pontianak (ANTARA) - Yayasan Kolase bekerja sama dengan proyek Flood Impacts, Carbon Pricing, and Ecosystem Sustainability (FINCAPES) memperkenalkan metode Photovoice sebagai sarana partisipatif untuk mendengarkan suara warga mengenai risiko banjir di Kota Pontianak, Kalimantan Barat.
"Proyek FINCAPES merupakan bagian dari kemitraan pembangunan Indonesia–Kanada yang dijalankan bersama Fakultas Matematika dan Lingkungan Hidup, University of Waterloo, Kanada. Program ini merupakan komitmen bersama terhadap aksi perubahan iklim, keberlanjutan lingkungan, dan ketangguhan bencana. Yayasan Kolase menjadi mitra lokal FINCAPES yang menjalankan program Photovoice di Pontianak," kata Ketua Yayasan Kolase Andi Fachrizal di Pontianak, Kamis.
Ia menambahkan, sebelumnya FINCAPES bersama Universitas Syiah Kuala Banda Aceh telah melakukan studi pemodelan banjir di Pontianak sepanjang 2024. Hasil studi tersebut telah diserahkan kepada Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Pontianak.
Dari hasil kajian, Pontianak dinilai memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap banjir.
"Ketinggian rata-rata Kota Pontianak hanya 0,4 hingga 1,5 meter di atas permukaan laut, sehingga sangat dipengaruhi oleh pasang laut. Terlihat bahwa Pontianak sangat rapuh terhadap banjir," tuturnya.
Selain faktor topografi, kondisi drainase yang tidak optimal serta perilaku masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan memperburuk situasi. Dari penelitian di 29 kelurahan di enam kecamatan, ditemukan 21 kelurahan yang tergolong sangat rentan terhadap banjir.
Menurutnya, masih banyak warga yang memandang banjir sebagai fenomena tahunan yang biasa, padahal tren ketinggian air terus meningkat.
"Kami ingin tahu bagaimana warga memaknai banjir, baik sebagai ancaman maupun bagian dari kehidupan mereka sehari-hari," katanya.
Melalui pendekatan Photovoice, masyarakat diajak mendokumentasikan pengalaman dan pandangan mereka tentang banjir secara visual.
"Photovoice adalah studi komunikasi partisipatif berbasis visual. Warga akan memotret dan menarasikan situasi banjir di lingkungan mereka," kata dia.
Program Photovoice akan berlangsung hingga Januari 2026, melibatkan 30 warga Pontianak dari berbagai latar belakang sosial, usia, dan gender, termasuk kelompok rentan seperti perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas.
Andi juga menyoroti ancaman jangka panjang akibat kombinasi pasang laut, curah hujan tinggi, penurunan muka tanah, dan kepadatan permukiman. Berdasarkan hasil riset FINCAPES, penurunan muka tanah di Pontianak mencapai lebih dari satu sentimeter per tahun, terutama di kawasan utara dan tenggara yang didominasi lahan gambut.
"Jika tidak ada intervensi kebijakan, pada 2050 ketinggian banjir di Pontianak bisa mencapai 1,5 meter. Artinya, sebagian wilayah kota berpotensi tenggelam," katanya.
Meski demikian, ia mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Pontianak yang mulai menata drainase dan parit di sejumlah wilayah seperti di Jalan Sepakat 2 dan Kampung Yuka sebagai upaya menghadapi ancaman iklim.
"Sungai Kapuas tidak pernah membelah kota, justru menyatukannya. Karena sungainya dulu ada, baru kemudian kotanya. Ini yang harus kita jaga sebagai bagian dari peradaban sungai," tuturnya.
Sementara itu, Manajer Program Photovoice Yayasan Kolase Arief Nugroho mengatakan, Photovoice merupakan metode berbasis fotografi komunitas yang menggabungkan dokumentasi visual dengan pemberdayaan masyarakat.
"Metode ini tidak hanya menjadi alat pendokumentasian isu sosial seperti banjir, tetapi juga memberdayakan warga agar menjadi agen perubahan, memperluas jaringan, serta menjembatani komunikasi antara masyarakat dan pemerintah," kata Arief.
Ia menambahkan, kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran, kapasitas, dan partisipasi masyarakat dalam upaya pencegahan dan adaptasi terhadap risiko banjir.
"Kami ingin menggali persepsi publik terhadap banjir, terutama dari kelompok rentan seperti perempuan, lansia, pekerja informal, pemuda, dan penyandang disabilitas," katanya.
Melalui program ini, Yayasan Kolase dan FINCAPES berharap hasil dokumentasi visual warga dapat menjadi bahan pertimbangan kebijakan dan memperkuat strategi ketahanan banjir di Kota Pontianak.
