Bengkayang (ANTARA) - Di balik perbukitan hijau perbatasan Indonesia–Malaysia, Dusun Kindau di Desa Sekida, Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat perlahan menasbihkan diri sebagai pusat ekonomi kreatif baru.
Kampung Kreatif Sekida dikenal dengan seni anyaman rotan dan bambu khas masyarakat Dayak Bidayuh Jagoi. Produk-produk kerajinan ini memiliki desain unik, nilai estetika tinggi, serta menjadi daya tarik utama wisatawan yang mencari suvenir autentik berbasis kearifan lokal.
Secara administratif, Kampung Kreatif Sekida berada di wilayah Desa Sekida yang terdiri dari tiga dusun yaitu Jagoi Sejaro, Jagoi Kindau, dan Jagoi Belida dengan luas 10.537 hektare dan berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia. Posisi strategis ini menjadikan kawasan tersebut sebagai pintu etalase budaya dan ekonomi kreatif masyarakat perbatasan.
Kampung kreatif Sekida ini dinobatkan sebagai juara 1 kategori destinasi belanja terbaik pada ajang anugerah pesona Indonesia (API) Award ke-9 2025 yang diselenggarakan di Bengkayang pada 18 November lalu.
Sejak ditetapkan sebagai Kampung Kreatif pada tahun 2017, desa berpenduduk suku Dayak Bidayuh ini berhasil menghidupkan perekonomian masyarakat melalui warisan budaya menganyam rotan, bambu, dan kayu. Sebuah tradisi turun-temurun yang kini berubah menjadi penggerak kesejahteraan.
Di Kindau, hampir seluruh rumah telah menjelma menjadi studio kerajinan. Setiap produk mulai dari bidai (tikar rotan), tas, dompet, ragak, kursi, meja, tempat HP hingga tempat botol minum dibuat seluruhnya dengan tangan, bernilai estetik tinggi, dan ramah lingkungan. Tradisi yang dahulu hanya berfungsi memenuhi kebutuhan rumah tangga kini berubah menjadi sumber penghasilan utama banyak keluarga.
Salah satu perempuan yang berperan besar dalam kebangkitan ekonomi ini adalah Fitri Nurjanah, pengrajin dan pendiri Finishing Kindau Kreatif sekaligus anggota kelompok sentra IKM Ton Sowa yang terdiri dari empat kelompok yaitu Juah, Kasah, Finishing, dan Mebel.
Fitri memulai usaha kerajinan rotan pada 2019. Saat itu usahanya masih kecil-kecilan, hanya dikerjakan di sela waktu luang. Namun baru setahun berjalan, pandemi Covid-19 melanda dan membuat banyak ibu rumah tangga di kampungnya kehilangan sumber penghasilan karena pembatasan aktivitas dan penurunan pendapatan keluarga.
Situasi itu mendorong Fitri mencari solusi agar para ibu tetap bisa memperoleh pemasukan tanpa harus keluar rumah. Dari situlah muncul gagasan untuk mengembangkan kembali tradisi menganyam, sekaligus memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran.
“Waktu itu semua orang terdampak Covid-19, sumber pendapatan turun. Saya berpikir, kenapa kita tidak konsisten saja menganyam dan hasilnya dijual? Dari situlah kami mulai mengumpulkan ibu-ibu untuk membuat kerajinan bersama,” kenangnya pada ANTARA di Bengkayang, Minggu.
Pada tahap awal, penjualan dilakukan secara konvensional kepada tetangga dan kerabat. Namun perlahan, Fitri bersama para anggota mulai memotret produk, mengunggahnya ke media sosial, dan memperluas jaringan pembeli. Untuk memudahkan koordinasi, dibentuklah kelompok sentra IKM sebagai wadah menampung hasil kreativitas warga, terutama para ibu rumah tangga yang terdampak ekonomi selama pandemi.
Fitri bercerita, di awal merintis, modal menjadi kendala utama. Produksi kecil-kecilan dilakukan dengan modal pribadi dan pemasaran hanya terbatas pada teman dekat. Titik balik terjadi ketika Fitri mulai berani memasarkan produk lewat unggahan marketplace Facebook dan respon datang sangat positif dari banyak pemesan.
Pada tahun 2021, Fitri memperoleh pembiayaan dari kredit usaha rakyat (KUR) Bank BRI sebesar Rp50 juta sebagai tambahan modal usaha. Pembiayaan tersebut menjadi motor akselerasi pengembangan usahanya.
“Ya, sangat membantu. Puji Tuhan tidak ada kendala yang berarti, semua berjalan sesuai SOP yang berlaku,” ujarnya.
Dampaknya langsung nyata. Omzet meningkat antara 30 hingga 50 persen, padahal sebelumnya hanya 10 hingga 20 persen. Produksi juga semakin besar sehingga Fitri mampu memberdayakan 10 ibu rumah tangga untuk menganyam setiap hari, sementara IKM Ton Sowa secara keseluruhan mampu memenuhi 100 hingga 200 pesanan per bulan atau sekitar 2.000 produk per tahun.
Selain pembiayaan, Bank BRI kerap membantu pemasaran dengan membawa serta produk Kindau saat mengikuti pameran dan promosi. Bank juga pernah membuatkan QRIS untuk kemudahan transaksi.
Pasar kerajinan Kindau pun berkembang hingga ke negeri jiran. Setiap Sabtu dan Minggu, para pembeli dari Malaysia (dikenal sebagai toke) datang ke kampung dan memborong banyak hasil kerajinan untuk dijual kembali di Pasar Serikin yang dikenal Weekend Market itu.
Selain itu, sebagian pesanan dikirim ke Malaysia melalui sistem purchase order. Akses ke Serikin cukup mudah, hanya sekitar satu jam perjalanan darat. Selain itu, warga Kindau yang berasal dari desa perbatasan memiliki fasilitas Pos Lintas Batas (PLB) yang memudahkan mobilitas ke wilayah tetangga.
Sinergi ekonomi kreatif dan sektor wisata juga semakin kuat setelah Kampung Kreatif Kindau menjalin kerja sama melalui MoU dengan Desa Wisata Jagoi. Desa Jagoi dikenal sebagai desa wisata terfavorit, sementara Kindau memiliki kapasitas produksi kerajinan yang tinggi. Wisatawan yang berkunjung ke Jagoi diarahkan untuk membeli oleh-oleh ke Kindau, sehingga aktivitas pariwisata langsung mengalir menjadi transaksi ekonomi bagi perajin.
Produk yang paling diminati wisatawan maupun pasar Malaysia adalah bidai atau tikar rotan. Harganya bervariasi tergantung ukuran, tingkat kesulitan dan motif yang dipesan, mulai dari Rp450 ribu hingga lebih dari Rp1 juta per lembar. Bentuk apresiasi terhadap kualitas produk ini juga dibuktikan dengan raihan bintang 2 pada lomba OVOP tingkat nasional.
Aktivitas ekonomi masyarakat kini semakin hidup. Siang hari mereka ke ladang atau kebun, sementara malam hari digunakan untuk menganyam.
Menurut Fitri, para pengunjung yang datang ke kampung wisata kerap diarahkan untuk berbelanja ke sentra kerajinan, sehingga penjualan semakin masif.
“Hasil kerajinan ini sangat membantu perekonomian keluarga, terutama bagi mereka yang menekuni bidang ini dengan konsisten,” katanya.
Fitri sendiri kini memperoleh pendapatan sekitar Rp5-10 juta per bulan. Stok rotan sebagai bahan baku juga masih stabil karena ada warga yang mencari rotan di hutan dan menjualnya kepada kelompok mereka.
Meski begitu, Fitri tidak menutup mata terhadap kebutuhan pengembangan berkelanjutan. Ia berharap pemerintah dapat memberikan dukungan pada sejumlah hal strategis, terutama perbaikan infrastruktur jalan menuju kampung.
“Banyak wisatawan datang mengeluhkan jalan kami yang sempit dan rusak,” ujarnya.
Ia juga berharap adanya kurikulum sekolah yang memasukkan keterampilan menganyam rotan, terutama di wilayah Sekida, agar generasi muda mencintai dan meneruskan tradisi leluhur. Selain itu, ia mendorong pemerintah pusat dan daerah membantu budidaya tanaman rotan agar bahan baku tetap tersedia untuk jangka panjang.
Kini Kampung Kreatif Kindau telah menjadi contoh nyata bahwa budaya dapat bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi yang mandiri. Masyarakat menjaga budaya, budaya menjaga kesejahteraan masyarakat. Tradisi menganyam yang diwariskan turun-temurun kini menjelma sebagai sumber harapan baru bagi masyarakat perbatasan.
“Semoga kreativitas warga Kindau terus memberikan harapan dan kesejahteraan. Kami menganyam sambil melestarikan tradisi budaya leluhur Dayak,” ujar Fitri.
Selain itu, pada awal Oktober 2025, ANTARA turut mewawancarai seorang penjual bidai di Pasar Serikin, Sarawak, Malaysia, Maria yang telah berjualan kerajinan tangan sejak puluhan tahun lalu. Selama lebih dari dua dekade berjualan di kawasan perbatasan itu, ia menyaksikan langsung bagaimana produk anyaman dari Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, semakin diminati pembeli lintas negara.
“Produk di sini banyak diambil dari Jagoi Babang. Bidai menjadi yang paling laris. Pembelinya bukan hanya warga Malaysia, tetapi juga dari Brunei Darussalam dan India (Tamil),” katanya.
Maria menuturkan, permintaan terhadap bidai relatif stabil dan cenderung meningkat menjelang perayaan adat, pesta panen, hingga musim liburan akhir tahun. Karena Pasar Serikin buka hanya pada Jumat, Sabtu, dan Minggu, lonjakan permintaan biasanya terasa kuat pada akhir pekan.

“Setiap bulan ada saja pesanan khusus. Ada yang untuk keperluan rumah, dekorasi kafe, sampai acara budaya. Kalau akhir pekan, pembelinya ramai sekali,” ujarnya.
Harga bidai bervariasi, mulai dari 125 ringgit Malaysia untuk ukuran kecil hingga 480 ringgit untuk ukuran besar. Bidai bermotif Dayak dengan warna alami bambu dan rotan termasuk motif enggang, kelarai, dan bunga rimbang, disebutnya paling disukai pembeli asing karena nilai estetika dan kualitasnya.
Selain bidai, sejumlah kerajinan asal Bengkayang juga mendapat sambutan baik di pasar tersebut, seperti bakul, kursi rotan, tas anyaman, bubu ikan, hingga tudung saji. Produk-produk ini sebagian besar dipasok oleh perajin di desa-desa perbatasan seperti Jagoi Babang, Jagoi, Sekida, dan Kindau.
“Pembeli Malaysia banyak cari bakul dan tas untuk dekorasi rumah. Wisatawan Brunei suka tudung saji dan kursi rotan. Barang dari Bengkayang ini kuat, cantik, dan masih dibuat tangan,” ucapnya.
Pasar Serikin sendiri merupakan salah satu pusat perdagangan lintas batas terbesar di Sarawak. Pada akhir pekan, pasar yang beroperasi sejak akhir 1990-an itu rata-rata dikunjungi 8.000–12.000 orang per hari, dan dapat mencapai lebih dari 15.000 pengunjung saat libur panjang. Sebagian besar datang untuk membeli produk Indonesia yang dinilai berkualitas dengan harga kompetitif.
Baginya, permintaan stabil dari Pasar Serikin tidak hanya membuka peluang ekonomi, tetapi juga berperan penting dalam menjaga keberlanjutan kerajinan tradisional.
Dengan permintaan yang terus mengalir setiap akhir pekan dan pesanan khusus setiap bulan, hubungan dagang alami antara Jagoi Babang dan Serikin terbukti menjadi salah satu motor ekonomi budaya yang telah bertahan lebih dari dua puluh tahun dan terus menghidupi banyak perajin di wilayah perbatasan.
BRI jemput bola layani KUR
Bank Rakyat Indonesia (BRI) Kantor Cabang Pembantu (KCP) Bengkayang terus memperluas jangkauan layanan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga ke wilayah perbatasan melalui pendekatan jemput bola. Langkah ini dilakukan untuk memastikan pelaku usaha kecil di daerah terpencil tetap memperoleh akses modal dan pendampingan usaha secara merata.
Pemimpin BRI KCP Bengkayang, Vendy Aries Martcahyo, mengatakan sejak 2021 hingga November 2025 pihaknya telah menyalurkan KUR kepada 127 nasabah aktif dengan total plafon Rp35,8 miliar. Penyaluran itu belum termasuk pembiayaan yang dilakukan melalui kantor unit BRI yang tersebar di berbagai kecamatan Bengkayang.
Menurut dia, penyaluran KUR di wilayah perbatasan menghadapi berbagai kendala, terutama terkait legalitas usaha. Banyak pelaku UMKM belum memiliki dokumen usaha seperti Nomor Induk Berusaha (NIB) maupun Surat Keterangan Usaha (SKU), yang menjadi persyaratan dasar pengajuan kredit.
Selain itu terdapat calon nasabah yang memiliki riwayat kredit bermasalah di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK maupun usaha yang dinilai belum stabil atau belum layak dibiayai. Tidak sedikit pula ditemukan perbedaan antara data yang diajukan dengan kondisi lapangan.
Meski demikian, pendekatan jemput bola yang dilakukan mantri BRI membantu proses verifikasi dan pembinaan secara langsung. Kunjungan rutin dilakukan untuk memantau perkembangan usaha, mendengarkan keluhan, sekaligus memberi edukasi mengenai kelengkapan legalitas dan pembukuan.
“Melalui kunjungan lapangan, kami dapat memastikan usaha berjalan baik, memahami kebutuhan mereka, serta membantu menyiapkan syarat administrasi,” ujar Vendy.
Ia menjelaskan, mayoritas nasabah KUR BRI KCP Bengkayang bergerak pada sektor perkebunan yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat perbatasan. Selain itu terdapat pelaku usaha saprotan, pengolahan hasil kebun, peternakan, toko sembako, hingga pelaku usaha makanan dan minuman.
BRl juga memperkuat akses layanan di perbatasan melalui kantor unit yang hampir ada di seluruh kecamatan. Warga di kampung-kampung terluar dapat mengajukan pembiayaan langsung melalui mantri di kantor unit terdekat, termasuk pengrajin Kampung Kreatif Sekida yang dilayani oleh BRI Unit Seluas dan Sanggau Ledo.
Keberadaan agen BRILink turut membantu pelaku UMKM mengakses layanan transaksi harian tanpa harus datang ke kantor bank.
Dalam jangka panjang, BRI menyiapkan sejumlah strategi untuk memperkuat pertumbuhan UMKM perbatasan, mulai dari penyaluran KUR berbasis klaster komoditas, transformasi digital melalui penggunaan aplikasi BRImo, pendampingan pemasaran melalui e-commerce, hingga fasilitasi keikutsertaan UMKM pada kegiatan UMKM Expo.
“BRI berkomitmen tidak sekadar menyalurkan modal, tetapi juga melakukan pembinaan berkelanjutan untuk membantu pelaku UMKM naik kelas dan memperluas pasar,” kata Vendy.
Ia menambahkan, hingga saat ini belum ada desa berstatus Desa BRIlian di wilayah KCP Bengkayang. Namun pembentukan desa binaan itu dimungkinkan apabila terdapat desa yang dinilai memiliki potensi kuat untuk dikembangkan.
Melalui penguatan kapasitas UMKM, peningkatan literasi digital, dan layanan jemput bola hingga ke pelosok perbatasan, BRI menargetkan seluruh pelaku usaha termasuk yang berada di daerah paling terpencil tetap mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang dan mandiri.
Dorong UMKM masuk pasar digital
Pemerintah Kabupaten Bengkayang semakin serius mempercepat transformasi digital sektor ekonomi kerakyatan melalui penguatan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)
Dengan memberikan pendampingan dan pelatihan khusus untuk meningkatkan kemampuan pelaku UMKM memanfaatkan teknologi pemasaran digital agar produk Bengkayang tidak hanya bersaing di tingkat lokal, tetapi juga mampu menembus pasar nasional dan internasional.
“Perubahan pola konsumsi saat ini menjadikan pemasaran digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Pelaku UMKM harus memanfaatkan teknologi untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing,” ujar Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis.
Termasuk pada UMKM yang bergerak di bidang kerajinan tangan. Sebab katanya, saat ini masih sedikit pelaku usaha yang memanfaatkan teknologi digital dalam memasarkan produknya sehingga ruang gerak untuk promosi jadi terbatas.
Menurut Bupati, sebagian besar UMKM di Bengkayang masih mengandalkan pemasaran konvensional dan belum mengoptimalkan platform digital, marketplace, maupun sistem branding berbasis media sosial. Jika tidak segera beradaptasi, pelaku UMKM dikhawatirkan akan tertinggal dalam persaingan pasar.
Dalam mendorong transformasi digital tersebut, Pemerintah Kabupaten Bengkayang menjalankan berbagai strategi terpadu, antara lain peningkatan kompetensi pemasaran digital melalui pelatihan, fasilitasi legalitas usaha, hingga promosi daring melalui katalog, etalase virtual, dan platform UMKM berbasis digital seperti Sikutter.
Selain itu, pemerintah juga memperluas peluang pasar melalui integrasi UMKM ke dalam e-katalog lokal, sehingga produk lokal dapat diserap melalui belanja pemerintah. Langkah ini dinilai menjadi peluang strategis bagi UMKM untuk memperkuat pertumbuhan usaha secara berkelanjutan.
Bupati mengingatkan peserta untuk tidak sekadar menguasai aspek teknis pemasaran digital, tetapi juga mampu membangun kualitas produk, citra merek, dan pelayanan.
“Teknologi hanya alat. Yang paling menentukan adalah inovasi dan konsistensi pelaku usaha dalam memberikan yang terbaik kepada konsumen,” ujarnya.

Lindungi karya kerajinan bidai
Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, mendorong para pelaku industri kreatif di daerah itu untuk segera mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) guna melindungi karya dan motif khas lokal dari penyalahgunaan pihak lain.
Ketua Dekranasda Bengkayang, Anita, mengatakan perlindungan hukum melalui HAKI menjadi langkah penting agar karya perajin dan seniman memiliki kekuatan paten dan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
“Pelaku kreatif harus mengurus hak cipta mereka dengan mendaftarkan HAKI ke Kemenkumham. Langkah ini untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya perlindungan hak cipta dan paten,” ujarnya.
Ia menegaskan, pendaftaran HAKI sangat dibutuhkan untuk melindungi motif-motif khas daerah, terutama dari praktik penjiplakan yang kerap dilakukan oleh pelaku industri kreatif lain. Menurutnya, perlindungan hukum akan memberikan kepastian bagi perajin dalam berkreasi.
“Kita tidak ingin karya atau motif kita dicuri atau dicaplok pihak lain. Dengan mendaftarkan HAKI, kita menghargai kreativitas para seniman dan perajin agar mereka semakin semangat berkarya,” kata Anita.
Anita mencontohkan adanya kasus kerajinan anyaman Bidai asal Bengkayang yang sempat diklaim sebagai produk luar negeri. Produk tersebut dijual dengan label “Made in Malaysia”, padahal dibuat oleh perajin lokal Bengkayang.
“Ini menjadi pelajaran penting. Karena ada kasus hasil kerajinan Bidai kita diklaim pihak luar. Maka para pengrajin harus mengurus HAKI agar karya mereka terlindungi,” ujarnya.
Terkhusus untuk pelaku usaha bidai di Jagoi Babang akan didampingi untuk pengurusan HAKI, mengingat kampung kreatif Sekida bukan sekedar kampung belanja skala kecil tetapi sudah menjadi tempat belanja terkenal dan diakui secara nasional.
Dengan perlindungan HAKI, lanjut dia, perajin dapat memastikan karya mereka tidak disalahgunakan serta memiliki nilai tambah yang dapat meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha.
Ia berharap kedepan, semakin banyak produk khas Bengkayang baik kerajinan tangan, kuliner lokal, maupun karya budaya lainnya yang memiliki perlindungan hukum dan nilai ekonomi yang kuat.
Dekranasda Bengkayang juga berkomitmen untuk terus mendukung pelestarian budaya sekaligus pengembangan ekonomi kreatif di daerah tersebut. Anita mengajak masyarakat untuk turut melindungi dan melestarikan warisan budaya lokal, termasuk dengan bangga menggunakan motif-motif Bengkayang dalam berbagai produk kerajinan.
