Pelatihan ini merupakan kolaborasi antara KIPP, Confucius Institute Universitas Tanjungpura (Untan), dan Sekolah Tinggi Bahasa Harapan Bersama (STBHB). Selama tiga bulan ke depan, para peserta akan mengikuti pelatihan bahasa Mandarin kejuruan secara intensif yang disusun sesuai kebutuhan industri di kawasan industri Kabupaten Kayong Utara.
Direktur Confucius Institute Untan, Ina, S.E., M.Ed., dalam acara penandatanganan kesepakatan bersama, mengatakan bahwa bahasa Mandarin saat ini merupakan kemampuan penting dalam komunikasi global. Dengan sistem pembelajaran yang terstruktur dan ilmiah serta frekuensi latihan yang proporsional, peserta diharapkan mampu mencapai keterampilan berbahasa Mandarin sesuai target yang telah ditetapkan.
“Kami menyadari bahwa kebutuhan penguasaan bahasa Mandarin semakin tinggi. Penguasaan bahasa Mandarin kejuruan dapat menciptakan SDM terampil yang mampu mengisi peluang kerja yang tersedia. Dengan kemampuan tersebut, peserta pelatihan diharapkan dapat bekerja secara efektif dan efisien di lingkungan industri,” ujarnya.
Ina menambahkan bahwa menjadi kehormatan sekaligus tantangan bagi tim pengajar untuk melatih keterampilan bahasa Mandarin kejuruan. Agar pelatihan berjalan efektif, peserta akan dibagi ke dalam lima kelas sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung lebih fokus dan efisien. Kerja sama dengan pihak swasta ini merupakan perwujudan fungsi perguruan tinggi dalam melayani masyarakat dan mendapat dukungan penuh dari Universitas Tanjungpura.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Pendidikan Sekolah Tinggi Bahasa Harapan Bersama (STBHB), Dr. Hartono Azas S.E., M.B.A., menyampaikan apresiasi kepada perusahaan atas terselenggaranya program tersebut. Ia menilai pelatihan ini penting dan strategis dalam meningkatkan kompetensi SDM, khususnya dalam menyambut era hilirisasi aluminium yang terhubung dengan mitra bisnis internasional, terutama Tiongkok.
“Ini merupakan bentuk kolaborasi yang baik antara perusahaan dan lembaga pendidikan. Penguasaan bahasa Mandarin diharapkan mampu memperlancar komunikasi kerja, meningkatkan efisiensi operasional perusahaan, serta memperkuat profesionalisme di lingkungan industri,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa ke depan akan terjadi alih teknologi dan alih pengetahuan kepada putra-putri bangsa, khususnya yang berasal dari Kabupaten Kayong Utara.
Sementara itu, Government Relations KIPP, Sumarno, menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang perusahaan dalam menyiapkan tenaga kerja asal Kayong Utara dan Kalimantan Barat agar siap menghadapi tantangan global.
“Bahasa Mandarin menjadi kompetensi penting dalam rantai nilai industri yang kami jalankan. Karena itu, KIPP tidak hanya merekrut, tetapi juga berinvestasi dalam peningkatan kapasitas SDM generasi muda Kalimantan Barat agar mampu bersaing dan berkembang bersama perusahaan,” katanya.
Seluruh peserta akan mengikuti pelatihan bahasa Mandarin intensif di Pontianak dengan pengajar bersertifikat dan penutur asli (native speaker), serta kurikulum yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan industri. Materi pelatihan mencakup bahasa Mandarin dasar hingga menengah yang setara dengan standar internasional Hànyǔ Shuǐpíng Kǎoshì (HSK) tingkat 2 atau HSK 3 dasar, percakapan teknis dan bisnis, dan pengenalan budaya kerja di sektor industri manufaktur.
Dari total 140 peserta, sebanyak 30 persen berasal dari Kalimantan Barat, termasuk Kabupaten Kayong Utara. Setelah menyelesaikan pelatihan bahasa, peserta akan melanjutkan pelatihan ke Tiongkok untuk mendalami pengoperasian mesin smelter dan refinery atau ditempatkan langsung di Pulau Penebang sebagai operator atau engineer sesuai kebutuhan operasional perusahaan. Peserta yang telah menyelesaikan seluruh rangkaian pelatihan masih akan melanjutkan tugas kerja selama sekurang-kurangnya satu setengah hingga dua tahun di posisi yang relevan dengan pelatihan guna memastikan terjadinya alih pengetahuan, kesinambungan kompetensi, serta dampak ekonomi bagi daerah asal peserta.
