Jakarta (ANTARA) - Psikolog Klinis lulusan Universitas Indonesia Ratriana Naila Syafira, M.Psi., Psikolog membagikan ragam aktivitas menarik yang dapat dilakukan orang tua bersama anak-anak sebagai pengganti bermain gim daring atau gawai.
"Orang tua perlu membantu cari kegiatan alternatif yang sesuai dengan usia perkembangannya masing-masing," kata Ratriana saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Selasa.
Pada anak usia balita, Ratriana mengatakan fokus utama orang tua perlu ditujukan ke stimulasi pada aspek-aspek perkembangan anak baik fisik, kognitif, bahasa, sosioemosional, sensori dan yang paling penting adalah semua kegiatan difokuskan untuk interaksi dua arah.
Misal membaca buku secara interaktif di mana orang tua tidak hanya membacakan cerita, tetapi juga menanyakan kembali tanggapan anak. Anak juga dapat diminta untuk memegang suatu barang, olahraga, menyusun balok, menggambar atau mewarnai dan bermain plastisin.
Kemudian pada anak usia 6 sampai 12 tahun dapat memanfaatkan waktu sebanyak-banyaknya untuk mengeksplorasi kegiatan yang berfokus pada kemandirian, keterampilan sosial, pemecahan masalah.
Dikarenakan pada usia ini biasanya anak sudah sekolah, anak dapat mengikuti ekstrakurikuler, bermain permainan papan kegiatan kreatif seperti eksperimen atau membuat kerajinan, membantu aktivitas sehari-hari berupa memasak sederhana, atau merapikan kamar.
Memasuki usia di atas 12 tahun, katanya, biasanya minat bakat sudah mulai terbentuk. Maka bisa diikutkan komunitas, klub olahraga, atau organisasi mulai perbanyak diskusi yang setara dengan orang tua.
"Di usia remaja biasanya sudah butuh banyak privasi atau ruang, tapi orang tua tetap harus siap sedia hadir untuk jadi tempat berpulang yang aman bagi anak," ujar dia.
Menurut Ratriana untuk membangun waktu berkualitas bersama anak orang tua perlu hadir secara utuh tanpa distraksi.
"Jadi jangan hanya berdampingan tapi kegiatan masing-masing, responsif. Dengarkan anak, tanggapi dan konsisten," katanya.
Mengutip sebuah hasil riset, ia mengatakan bahwa 15 sampai 30 menit yang berkualitas dengan perhatian penuh lebih baik bagi kelekatan anak dengan orang tua dibandingkan berjam-jam tapi tidak penuh perhatian.
Waktu berkualitas bisa sesederhana makan bersama sambil mengobrol, sikat gigi bersama dan membaca buku.
Ratriana turut menekankan bahwa penggunaan gawai yang berlebihan tidak secara langsung menyebabkan anak menjadi tertutup atau rentan terhadap kekerasan. Tetapi dalam kondisi tertentu, pola penggunaan yang tidak sehat bisa berkontribusi ke arah sana.
Ia menyebut pada masa balita hal yang paling krusial adalah terbentuknya kelekatan yang aman dengan pengasuh utama. Ketika anak lebih banyak berinteraksi dengan layar dibandingkan dengan manusia apalagi orang-orang terdekatnya, ada risiko ia kehilangan kesempatan untuk belajar rasa aman yang sebenarnya.
"Anak bisa tidak terbiasa mengekspresikan emosi secara terbuka, tidak merasa dipahami atau direspons secara konsisten, jadi anak lebih sulit membangun atau mengenali rasa aman dalam sebuah relasi," ucapnya.
Apabila anak berubah menjadi tertutup atau menarik diri, ia menilai hal itu bukan semata karena bermain gawai tetapi karena kebutuhan emosionalnya tidak terpenuhi dari figur kelekatan pada orang tua maupun pengasuh utamanya.
"Bagaimana kaitan dengan kekerasan? Anak jadi lebih sulit mencari pertolongan atau bahkan menyadari dirinya berada dalam situasi yang tidak aman. Jadi kunci utamanya tetap balik ke orang tua, orang tua yang hadir secara emosional, responsif, hangat, terbuka dan membuat anak merasa diterima apa adanya, akan menjadi faktor protektif yang kuat," tambahnya.
Pewarta: Hreeloita Dharma ShantiUploader : Admin Antarakalbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.