Singkawang (ANTARA) - “KUR BRI bukan sekadar pinjaman, tapi menjadi napas tambahan bagi usaha saya.”

Kalimat itu diucapkan Nur Anitawaty H (32) atau akrab disapa Nita, pemilik usaha Dimsum Yumcha Singkawang, saat menceritakan perjalanan usahanya yang tumbuh dari jualan rumahan saat pandemi hingga kini mampu membuka cabang baru di Kota Singkawang.

Bagi Nita, perempuan asal Singkawang, Kalimantan Barat program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) menjadi titik penting dalam perkembangan usahanya. Tambahan modal dari KUR membantu dirinya meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pasar, hingga menjaga keberlangsungan usaha di tengah tantangan ekonomi.

Usaha Dimsum Yumcha Singkawang sendiri telah berjalan sekitar tiga tahun. Namun perjalanan bisnis itu bermula jauh sebelum usaha dimsum berkembang seperti sekarang.

Nita mengatakan, saat pandemi COVID-19 melanda pada 2020, dirinya bersama sang suami berusaha mencari tambahan penghasilan karena kondisi ekonomi saat itu cukup sulit. Berbekal modal pribadi dan tabungan, mereka mulai berjualan donat secara daring melalui Facebook.

“Awalnya kami jualan donat online dan diantar langsung dari rumah ke rumah pelanggan. Selain itu juga jualan soto dan risol secara online,” katanya pada ANTARA di Singkawang, Sabtu.

Seiring waktu, mereka melihat peluang usaha dimsum yang dinilai memiliki prospek lebih menjanjikan. Selain digemari berbagai kalangan, produk dimsum juga bisa disimpan dalam bentuk frozen food sehingga memiliki daya tahan lebih lama.

“Awalnya dari hobi makan dimsum, lalu kami melihat pasarnya bagus dan bisa berkembang,” ujarnya.

Kesempatan berkembang datang ketika dirinya memperoleh fasilitas pembiayaan KUR dari BRI pada 2024. Menurut dia, proses pengajuan dilakukan secara transparan, mudah dan cepat.

Dana KUR tersebut langsung dialokasikan untuk modal kerja, mulai dari penambahan stok bahan baku hingga investasi mesin produksi agar usaha menjadi lebih efisien dan produktif.

“Dengan tambahan modal dari BRI, kami bisa menyetok bahan baku lebih banyak untuk memenuhi pesanan yang meningkat, serta investasi mesin produksi,” katanya.

Ia menyebut tambahan modal tersebut membuat stok bahan baku meningkat hingga dua kali lipat. Dampaknya, omzet usaha ikut terdongkrak sekitar 20 hingga 30 persen setiap bulan.

Tak hanya itu, perkembangan usaha juga terlihat dari bertambahnya jaringan pemasaran. Jika sebelumnya hanya berjualan secara sederhana di pinggir jalan, kini Dimsum Yumcha Singkawang telah memiliki cabang kedua di Jalan Diponegoro setelah sebelumnya membuka outlet di depan Masjid Raya Singkawang.

“Alhamdulillah sekarang sudah punya outlet dine in dan pasar kami semakin luas,” katanya.

Dalam operasional usaha, Dimsum Yumcha Singkawang juga telah memanfaatkan layanan transaksi digital menggunakan QRIS BRI guna memudahkan pelanggan melakukan pembayaran.

Nita mengaku memilih KUR BRI karena telah lama menjadi nasabah BRI sehingga memiliki kepercayaan terhadap layanan dan program pembiayaan tersebut.

Selain pembiayaan, ia juga merasakan dukungan lain dari BRI berupa pembinaan dan kesempatan mengikuti berbagai pameran UMKM maupun event besar yang melibatkan pelaku usaha binaan BRI.

Menurut dia, dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam memperkenalkan produk kepada masyarakat lebih luas sekaligus memperkuat branding usaha.

Meski usaha terus berkembang, Nita mengakui tantangan UMKM pada 2026 masih cukup kompleks. Mulai dari kenaikan harga bahan baku yang tidak stabil, pengelolaan marketplace dan data pelanggan, hingga kesulitan mendapatkan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan dan loyalitas tinggi.

Owner Dimsum Yumcha Singkawang Nur Anitawati (ANTARA/Narwati)

Selain itu, proses pengurusan legalitas seperti sertifikasi halal, BPOM, dan izin edar lainnya juga membutuhkan biaya serta waktu yang tidak sedikit.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, ia menilai bunga pembiayaan KUR yang relatif ringan membantu pelaku usaha tetap menjaga harga jual agar kompetitif tanpa mengurangi kualitas produk.

“Ditengah kenaikan harga bahan baku, biaya rendah dari KUR BRI memungkinkan saya menjaga harga jual tetap kompetitif tanpa mengorbankan kualitas, sehingga pelanggan tetap loyal dan usaha tidak terhenti,” katanya.

Ia berharap program KUR BRI dapat terus berlanjut dan diperluas agar semakin banyak pelaku UMKM memiliki kesempatan berkembang dan naik kelas.

“Kami berharap program ini terus berlanjut tanpa batasan kuota agar semakin banyak UMKM yang bisa naik kelas,” ujar Nita.


Sementara itu,  PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus memperkuat perannya sebagai penyalur utama Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Indonesia dengan realisasi penyaluran mencapai Rp47,09 triliun kepada 947 ribu nasabah sepanjang Januari hingga Maret 2026.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi saat  Press Conference Kinerja Keuangan BRI Triwulan I 2026 di Kantor Pusat BRI, Kamis, 30 April 2026  mengatakan, penyaluran tersebut menjadi bagian dari komitmen perseroan dalam memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai tulang punggung ekonomi nasional.

“Segmen UMKM tetap menjadi pilar utama dalam portofolio pembiayaan BRI, dengan total penyaluran mencapai Rp1.211 triliun,” ujar Hery.

Menurut dia, penyaluran KUR tersebut tidak hanya mencerminkan luasnya jangkauan layanan BRI, tetapi juga menjadi katalis dalam mendorong pertumbuhan usaha produktif, meningkatkan kapasitas UMKM, hingga membuka lapangan kerja di berbagai daerah.

Secara keseluruhan, hingga akhir Maret 2026, total kredit dan pembiayaan BRI tercatat tumbuh 13,7 persen secara tahunan atau year on year (YoY) menjadi Rp1.562 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang konsistensi perseroan dalam memperkuat pembiayaan di segmen UMKM.

Selain fokus pada pembiayaan, BRI juga terus menjalankan program pemberdayaan masyarakat dan pelaku usaha guna memperkuat ekonomi kerakyatan. Hingga akhir Maret 2026, program Desa BRILian telah membina lebih dari 5.245 desa di seluruh Indonesia.

Hery menambahkan, model bisnis BRI yang berfokus pada pembiayaan mikro dan UMKM memberikan keunggulan dari sisi manajemen risiko karena portofolio pembiayaan tersebar luas pada jutaan nasabah dengan plafon relatif kecil.

Selain itu, total aset BRI tercatat meningkat 7,2 persen YoY menjadi Rp2.250 triliun. Rasio profitabilitas perseroan juga menunjukkan perbaikan dengan Return on Assets (ROA) meningkat menjadi 2,8 persen dan Return on Equity (ROE) naik menjadi 18,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 17,1 persen.



Uploader : Admin Antarakalbar

COPYRIGHT © ANTARA 2026