Bengkayang, Kalbar (ANTARA) - “Bisa bayar pakai BRImo atau transfer?” tanya Mujidi sambil menggenggam sebungkus keripik pisang di sebuah toko oleh-oleh di Bengkayang.
Penjaga toko tersenyum kecil lalu menunjuk barcode Qris di dekat meja kasir. Mujidi pun segera membuka aplikasi BRImo di telepon genggamnya. Beberapa detik kemudian terdengar notifikasi transaksi berhasil.
“Sudah masuk, Pak,” jawab si penjaga toko.
Tidak ada dompet tebal, tidak ada hitung-hitungan uang kembalian. Semua berlangsung cepat hanya lewat sentuhan jari. Pemandangan seperti itu kini semakin akrab di Bengkayang, seiring penggunaan transaksi digital yang mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Bagi Mujidi (45), warga Kabupaten Bengkayang, mobile banking bukan lagi sekadar aplikasi untuk transfer uang. BRImo, menurut dia, sudah seperti “bank pribadi” aplikasinya juga seperti toko mini pribadi yang selalu ada di genggaman.
“Menurut saya BRImo itu seperti bank dan toko mini milik kita sendiri. Kita bisa simpan uang, top up saldo, belanja, bayar tagihan, bahkan bayar kredit rumah, mobil, motor juga bisa, dan kita yang kendalikan selama ada uangnya,” katanya pada ANTARA di Bengkayang , Sabtu.
Mujidi mulai menggunakan BRImo pada 2021, saat pandemi COVID-19 membatasi aktivitas masyarakat. Di masa itu, ruang gerak menjadi sempit. Pergi ke pasar tidak sebebas biasanya, sementara transaksi tatap muka juga mulai dibatasi.
“Waktu COVID itu gerak kita terbatas. Mau ke pasar susah, transaksi tatap muka juga dibatasi. Akhirnya saya download BRImo dan sejak itulah mulai menggunakan,” ujarnya.
Awalnya ia hanya mencoba-coba untuk kebutuhan sederhana. Namun perlahan, aplikasi tersebut menjadi bagian penting dari aktivitas hariannya. Dari membeli pulsa dan paket data, membayar tagihan, hingga berbelanja di marketplace, semuanya dilakukan lewat satu aplikasi.
Menurut dia, proses penggunaannya juga sangat sederhana.
“Tinggal pastikan rekening tujuan benar, nominalnya pas, lalu klik. Sekali tekan langsung bayar. Sangat simpel,” katanya.
Kemudahan itu membuatnya tidak lagi terlalu sering membawa uang tunai dalam jumlah besar. Selain lebih praktis, ia merasa transaksi digital juga lebih aman ketika bepergian.
“Kalau pakai BRImo kita tidak perlu bawa banyak uang cash di saku. Jadi lebih aman juga dari risiko kecopetan atau kehilangan,” ujarnya.
Tidak hanya untuk kebutuhan pribadi, BRImo juga digunakannya untuk berbagai urusan sehari-hari lain, termasuk mengirim uang kepada teman maupun membayar utang dengan cepat.
“Sekarang kalau ada kebutuhan mendadak atau mau kirim uang ke kawan, tinggal transfer saja lewat BRImo,” katanya.
Fenomena yang dialami Mujidi menjadi gambaran perubahan pola transaksi masyarakat di daerah. Mobile banking yang dulu identik dengan masyarakat perkotaan kini mulai menjadi kebutuhan harian hingga ke kabupaten seperti Bengkayang.
Bagi masyarakat dengan mobilitas tinggi, efisiensi waktu menjadi alasan utama menggunakan layanan digital. Mujidi mengaku proses login hingga transaksi biasanya hanya membutuhkan waktu singkat.
“Tidak sampai satu menit untuk login dan melakukan transaksi. Sangat efisien, apalagi untuk orang yang kesibukannya tinggi,” ujarnya.
Efisiensi itu pula yang membuat masyarakat tidak lagi harus datang ke kantor bank hanya untuk melakukan transaksi sederhana.
“Kalau saldo ada di BRImo, kita tidak perlu lagi harus ke bank,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui penggunaan layanan digital di daerah masih memiliki tantangan, terutama terkait jaringan internet. Di beberapa wilayah dengan sinyal lemah, transaksi digital belum bisa berjalan optimal.
“Kalau daerah yang sinyalnya bagus, BRImo sangat mudah digunakan. Tapi kalau daerah yang susah sinyal, ya tetap harus siapkan uang cash,” ujarnya.
Selama hampir lima tahun menggunakan BRImo, Mujidi menilai aplikasi tersebut cukup aman dan nyaman digunakan.
“Sejauh ini saya nilai masih aman. Tidak ada iklan-iklan aneh atau gangguan seperti aplikasi lain,” katanya.
Hal serupa juga dirasakan ibu rumah tangga di Bengkayang, Mikiliawati (42) yang mengaku terbantu dengan kehadiran aplikasi BRImo dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI.
Menurut dia, layanan digital tersebut tidak hanya memudahkan kebutuhan transaksi pribadi, tetapi juga membantu kelancaran usaha yang dijalankannya.
“Sebagai nasabah bank sangat terbantu sekali dengan aplikasi BRImo. Aplikasi ini sangat mempermudah dalam hal efisiensi waktu, terutama untuk saya sebagai ibu rumah tangga yang tidak harus pergi ke bank dan antre,” kata Mikiliawati.
Menurut dia, kemudahan tersebut membuat aktivitas sehari-hari menjadi lebih praktis karena tidak lagi bergantung pada jam operasional kantor bank.
Selain membantu kebutuhan rumah tangga, BRImo juga dinilai mendukung kelancaran bisnis yang dijalankannya, khususnya dalam proses pembayaran secara online baik antar rekening BRI maupun antarbank.
“Dengan aplikasi BRImo ini juga sangat mempermudah jalannya bisnis yang saya jalani dari rumah, dan bebas tempat dimana saja untuk proses pembayaran secara online, baik sesama bank ataupun beda bank,” ujarnya.
Ia menilai layanan digital perbankan kini menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat karena mampu menghemat waktu, tenaga, sekaligus mempercepat proses transaksi usaha.
Keberadaan BRImo juga dinilai sejalan dengan meningkatnya penggunaan transaksi digital di kalangan masyarakat yang mengutamakan kemudahan dan kecepatan layanan keuangan.
Pewarta: NarwatiUploader : Admin Antarakalbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.