Purwokerto (ANTARA) - Akademisi Universitas Islam Negeri Prof KH Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto Muridan mengatakan ibadah haji menjadi momentum reflektif untuk mengingatkan kembali kesadaran manusia tentang hakikat dirinya sebagai hamba Allah SWT di tengah kehidupan modern.

"Haji bukan sekadar ritual tahunan umat Islam, melainkan perjalanan spiritual yang mengajak manusia kembali menyadari posisinya sebagai hamba Allah," katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Senin.

Dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Saizu itu mengatakan kehidupan modern telah mendorong banyak orang mengukur keberhasilan melalui aspek material, pengakuan publik, hingga citra digital yang ditampilkan di ruang sosial.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat manusia terkadang berorientasi pada penampilan lahiriah, sementara dimensi batiniah dan spiritual kurang mendapatkan perhatian.

Ia mengatakan salah satu simbol paling kuat dalam ibadah haji adalah ihram yang merepresentasikan pelepasan identitas sosial dan atribut duniawi.

"Saat jutaan orang mengenakan pakaian yang sama, semua berdiri setara sebagai hamba di hadapan Allah," katanya.

Ia menilai pesan kesetaraan dalam ihram menjadi sangat relevan di tengah masyarakat modern yang masih kerap menitikberatkan pada atribut sosial.

Selain ihram, kata dia, talbiyah yang terus dikumandangkan selama pelaksanaan haji juga memiliki makna teologis dan psikologis yang mendalam.

Menurut dia, kalimat labbaik Allahumma labbaik (aku penuhi panggilan-Mu ya Allah) bukan sekadar bacaan ritual, melainkan deklarasi kepatuhan total seorang hamba kepada Tuhan.

"Talbiyah mengajarkan pergeseran orientasi hidup, dari yang semula berpusat pada ego menuju penghambaan yang tulus kepada Allah," katanya.

Ia mengatakan momentum wukuf di Arafah menjadi puncak refleksi spiritual karena manusia dihadapkan pada kesadaran akan kefanaan hidup dan keterbatasan dirinya.

"Di Padang Arafah, tidak ada kemegahan dunia yang dapat dibanggakan. Yang tersisa hanyalah doa, penyesalan, harapan, dan pengakuan atas kelemahan diri di hadapan Sang Pencipta," katanya.

Dia juga mengingatkan pentingnya mengedepankan substansi ibadah haji di tengah pendekatan seremonial dan simbolik.

"Haji yang mabrur menjadi momentum melahirkan pribadi yang lebih jujur, rendah hati, sabar, dan memiliki kepedulian sosial yang lebih kuat," katanya.

Ia menegaskan ibadah haji di era modern tidak boleh berhenti sebagai pengalaman spiritual individual, tetapi harus menghadirkan transformasi moral dan sosial yang nyata di tengah masyarakat.

"Oleh karena itu, haji perlu dipahami secara lebih substantif dan reflektif sebagai perjalanan batin untuk memulihkan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan dirinya sendiri," kata Muridan.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Akademisi: Ibadah haji ingatkan hakikat manusia sebagai hamba Allah



Pewarta: Sumarwoto
Uploader : Admin Antarakalbar

COPYRIGHT © ANTARA 2026