Pontianak (ANTARA) - Suasana di Warung Kopi King, Simpang 4 Take, Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, tampak tak pernah benar-benar sepi. Di sela aroma kopi dan obrolan para pelanggan, satu per satu warga datang membawa kebutuhan berbeda-beda. 

Ada yang menarik uang gaji, mengirim uang untuk anak sekolah, membeli token listrik, hingga sekadar melakukan transfer antarbank.

Semua itu dilayani di sebuah warung kopi sederhana yang kini sekaligus menjadi agen BRILink di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia.

Bagi masyarakat Jagoi Babang, kehadiran agen BRILink bukan sekadar tempat transaksi, melainkan bagian dari akses inklusi keuangan yang mempermudah kehidupan warga di daerah yang jauh dari layanan perbankan.

Jagoi Babang sendiri merupakan salah satu kecamatan terdekat dengan perbatasan Malaysia. Dari kawasan itu, perjalanan menuju perbatasan hanya sekitar 30 menit, sementara menuju ibu kota Kabupaten Bengkayang bisa memakan waktu hingga dua jam.

Kondisi geografis tersebut membuat akses menuju kantor bank maupun ATM tidak selalu mudah dijangkau masyarakat, terutama pekerja perkebunan sawit dan warga pedalaman.

“Kalau ke bank kan jauh. Di sini kami buka sampai jam 10 malam, jadi masyarakat masih bisa transaksi setelah pulang kerja,” kata pemilik warung sekaligus agen BRILink, Sriyanti Lema (33), saat di temui ANTARA, Selasa. 

Perempuan yang akrab disapa Lema itu mengaku telah menjadi agen BRILink selama sekitar 3,5 tahun. Awalnya, ia bahkan tidak memahami program yang ditawarkan pihak BRI tersebut.

“Pertama cuma dikasih aplikasi barcode dari BRI, lalu tidak lama dikasih mesin EDC. Dulu sebenarnya sudah pernah ditawarkan, tapi saya belum terlalu paham. Rupanya jadi agen BRI,” ujarnya sambil tersenyum.

Kini, warung miliknya menjadi salah satu pusat transaksi masyarakat di desa tersebut. Bahkan, Lema merupakan penyedia agen BRILink kedua di wilayah itu yang ikut memperluas layanan keuangan hingga ke kawasan perbatasan.

Menurut dia, layanan yang paling sering digunakan warga adalah tarik tunai gaji perusahaan, transfer uang, pembayaran cicilan, pembelian token listrik hingga pengisian saldo dompet digital.

“Paling banyak transfer sama tarik tunai gaji. Ada juga yang bayar cicilan, beli token listrik, sampai top up dompet digital. Jadi masyarakat tidak perlu jauh-jauh lagi ke kota,” katanya.

Tak jarang, warga dari pedalaman datang malam hari hanya untuk mengirim uang kepada keluarga atau anak yang sedang sekolah di luar daerah.

“Kadang malam-malam masih ada yang datang mau transfer buat keluarga di kampung. Selama saldo dan modal masih ada, tetap kami layani,” ujarnya.

Perubahan pola transaksi masyarakat menuju layanan digital juga semakin terasa di kawasan perbatasan tersebut. Penggunaan transfer dan QRIS kini mulai menjadi kebiasaan baru warga karena dianggap lebih praktis dan aman dibanding membawa uang tunai dalam jumlah besar.

“Sekarang masyarakat perlahan-lahan dibiasakan ke digital. Kalau ke kota juga sekarang rata-rata sudah pakai QRIS. Dari sisi keamanan juga lebih baik daripada bawa uang cash terlalu banyak,” katanya.

Dalam sehari, layanan BRILink di warungnya bisa melayani puluhan transaksi. Saat jadwal pencairan gaji perusahaan sawit tiba, jumlah transaksi bahkan melonjak tajam.

“Hari biasa sekitar 50 sampai 70 transaksi. Kalau pas gajian bisa lebih dari 100 transaksi sehari,” ujarnya.

Di balik tingginya aktivitas transaksi tersebut, Lema mengaku tetap menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah kendala jaringan internet yang sesekali menghambat proses transaksi.

“Kendala paling sering ya jaringan, tapi tidak terlalu berarti. Sejauh ini masih bisa diatasi,” katanya.

Selain jaringan, maraknya modus penipuan digital juga menjadi perhatian. Ia mengaku pernah mendapati oknum yang menggunakan bukti transfer palsu untuk mengambil uang tunai.

“Ada yang datang bawa struk transfer, ternyata setelah dicek mutasi tidak ada. Rupanya struknya sudah diedit. Jadi sekarang kami lebih hati-hati dan selalu cek mutasi dulu sebelum kasih uang,” ujarnya.

Meski demikian, Lema tetap bersyukur karena kehadiran agen BRILink tidak hanya membantu masyarakat sekitar, tetapi juga ikut menggerakkan usahanya.

Ia berharap layanan dan dukungan dari BRI terus diperkuat agar akses keuangan masyarakat perbatasan semakin mudah dijangkau.

“Harapannya jaringan tetap stabil dan limit transaksi bisa ditambah supaya kami bisa melayani lebih banyak nasabah,” katanya.

Agen BRILink Sriyanti di Simpang 4 Take, Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalbar (ANTARA/Narwati)

Layanan mudah 

Guru SMAN 1 Jagoi Babang Fransisco mengatakan, kehadiran layanan Agen BRILink di Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, memberikan kemudahan bagi masyarakat perbatasan dalam mengakses berbagai layanan transaksi keuangan tanpa harus pergi ke pusat kota.

Dia mengatakan keberadaan BRILink sangat membantu masyarakat dalam melakukan berbagai transaksi keuangan sehari-hari.

“BRILink memudahkan transaksi, menyingkat waktu dan jarak, serta sangat membantu masyarakat dalam melakukan transaksi keuangan,” katanya di Jagoi Babang.

Menurut dia, masyarakat di daerah perbatasan sebelumnya harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk mengakses layanan perbankan, baik untuk menarik uang, transfer maupun pembayaran tagihan.

Sementara itu, Sekretaris Camat Jagoi Babang, Sunarto, mengatakan kehadiran BRILink di kawasan perbatasan memberikan dampak positif bagi masyarakat karena mampu memangkas jarak tempuh warga untuk mendapatkan layanan perbankan.

“Kehadiran BRILink di daerah perbatasan sangat bagus karena dapat memangkas jarak dan waktu tempuh warga untuk mendapatkan layanan perbankan. Hal ini juga menekan biaya perjalanan masyarakat yang selama ini cukup tinggi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, keberadaan layanan keuangan tersebut turut mempermudah pencairan bantuan sosial, mendukung transaksi masyarakat di wilayah perbatasan, serta memperkuat perputaran ekonomi lokal karena warga tidak lagi harus pergi ke pusat kota untuk bertransaksi.

Menurut Sunarto, terdapat sejumlah manfaat yang dirasakan masyarakat dengan hadirnya Agen BRILink di Jagoi Babang. Di antaranya efisiensi biaya dan waktu karena warga tidak perlu lagi melakukan perjalanan jauh hanya untuk menarik uang atau membayar tagihan.

Selain itu, layanan BRILink juga memberikan kemudahan akses transaksi keuangan bagi masyarakat desa dan wilayah perbatasan yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses layanan perbankan.

Ia menambahkan, keberadaan BRILink turut mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan masyarakat, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi kerakyatan di kawasan perbatasan.

“Biaya yang sebelumnya digunakan untuk perjalanan ke kota kini bisa dialihkan untuk kebutuhan usaha maupun operasional lainnya, sehingga lebih bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.

Pimpinan BRI KCP Bengkayang, Vendy Aries Martcahyo mengatakan, kehadiran Agen BRILink menjadi ujung tombak layanan keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) dalam memperluas akses perbankan hingga ke desa-desa dan wilayah perbatasan di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

Dia mengatakan Agen BRILink saat ini menjadi layanan yang paling dominan dan paling dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, khususnya di kawasan perbatasan yang memiliki keterbatasan akses terhadap kantor perbankan.

“Agen BRILink menjadi layanan yang paling terasa manfaatnya bagi masyarakat perbatasan karena mampu menghadirkan layanan keuangan lebih dekat dengan warga,” katanya. 

Menurut dia, melalui inovasi branchless banking atau layanan bank tanpa kantor, BRI menghadirkan berbagai layanan transaksi keuangan langsung di tengah masyarakat tanpa harus bergantung sepenuhnya pada kantor cabang.

Ia menjelaskan, pendekatan layanan BRI kini dilakukan melalui kombinasi Agen BRILink, layanan digital BRImo, serta jemput bola petugas bank ke lapangan guna memperluas jangkauan layanan keuangan.

Melalui Agen BRILink, masyarakat dapat melakukan berbagai transaksi seperti tarik tunai, transfer, pembayaran tagihan, hingga transaksi digital lainnya langsung di desa tempat tinggal mereka.

“Kehadiran BRILink membantu masyarakat memangkas jarak, waktu, dan biaya perjalanan karena warga tidak perlu lagi pergi jauh ke pusat kota hanya untuk melakukan transaksi perbankan,” ujarnya.



Pewarta: Narwati
Uploader : Admin Antarakalbar

COPYRIGHT © ANTARA 2026