Pontianak, Kalbar (ANTARA) - Bank Indonesia mengingatkan Kalimantan Barat menghadapi sejumlah tantangan ekonomi yang perlu segera diantisipasi, mulai dari potensi kenaikan inflasi akibat tingginya harga energi hingga ancaman melemahnya sektor pertanian dan industri pengolahan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

"Kondisi ekonomi global saat ini masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan harga minyak dunia dan aliran modal asing. Ini tentu berdampak terhadap nilai tukar dan perekonomian nasional maupun daerah," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat Doni Septadijaya di Pontianak, Jumat.

Saat Forum Group Discussion Hasil Sinergi Keuangan Daerah (SIKADA) Regional Kalimantan Barat di Pontianak, Kamis (21/6/2026), ia juga menyampaikan gejolak harga minyak dunia dan gangguan rantai distribusi global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi stabilitas ekonomi nasional maupun daerah.

Ia menjelaskan harga minyak dunia sempat melonjak hingga mencapai 130 dolar Amerika Serikat per barel akibat terganggunya jalur distribusi kapal tanker internasional.

Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap biaya energi dan distribusi barang di berbagai daerah, termasuk Kalimantan Barat.

Menurut Doni, salah satu dampak yang mulai terlihat di Kalbar adalah disparitas harga LPG subsidi tiga kilogram di sejumlah daerah yang berpotensi meningkatkan biaya produksi dan memicu kenaikan harga kebutuhan masyarakat.

"Kita melihat masih ada disparitas harga LPG subsidi tiga kilogram di beberapa daerah. Hal ini perlu menjadi perhatian karena akan berdampak pada biaya produksi dan harga barang di masyarakat," tuturnya.

Selain tekanan inflasi energi, Bank Indonesia juga menyoroti ancaman terhadap sektor pertanian akibat berkurangnya luas lahan produktif.

Padahal sektor pertanian masih menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat di Kalimantan Barat, terutama di wilayah pedesaan.

Tidak hanya itu, sektor industri pengolahan juga dinilai menghadapi tantangan akibat hambatan pasokan batu bara yang dibutuhkan industri pengolahan alumina di Kalimantan Barat.

"Ada beberapa risiko yang perlu kita antisipasi, mulai dari penurunan luas lahan pertanian, tantangan ekspor hingga hambatan pasokan batubara untuk industri pengolahan alumina," kata Doni.

Meski demikian, Bank Indonesia menilai ekonomi Kalimantan Barat masih cukup resilien dibandingkan sejumlah wilayah lain. Pertumbuhan ekonomi daerah masih ditopang sektor perdagangan besar dan pertambangan serta konsumsi rumah tangga yang relatif kuat.

Menurut Doni, berbagai kegiatan keagamaan dan budaya daerah turut menjaga perputaran ekonomi masyarakat sehingga konsumsi rumah tangga tetap bergerak positif.

"Konsumsi rumah tangga masih cukup kuat. Berbagai event keagamaan dan budaya daerah ikut mendorong aktivitas ekonomi masyarakat," tuturnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat Harisson, menegaskan pemerintah daerah terus memperkuat koordinasi bersama Bank Indonesia, OJK dan sektor perbankan guna menjaga stabilitas ekonomi daerah.

Ia mengatakan penguatan sinergi diperlukan agar kebijakan fiskal dan sektor jasa keuangan mampu menjawab tantangan ekonomi global sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi daerah tetap berkelanjutan.

"Kita harus terus memperkuat sinergi agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat yang lebih berkualitas," kata Harisson.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat juga mendorong penguatan sektor usaha baru di luar industri sawit dan pertambangan, termasuk memperbesar peran UMKM agar ekonomi daerah lebih tahan terhadap tekanan global.

Bank Indonesia menilai UMKM memiliki potensi besar menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru karena lebih fleksibel dan memiliki pasar yang lebih luas dibanding sektor berbasis komoditas.

"UMKM relatif lebih tangguh dan memiliki peluang pasar yang lebih beragam. Ini bisa menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi baru di Kalbar," kata Doni.



Pewarta: Rendra Oxtora
Uploader : Admin Antarakalbar

COPYRIGHT © ANTARA 2026