Bengkayang (ANTARA) - Sebuah mobil berwarna putih berhenti di depan Toko Victory di Simpang Take, Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang. Dari dalam kendaraan, Miki (42) bersama beberapa rekannya turun dan berjalan menuju meja kasir yang berada di sisi dalam minimarket tersebut.

Perempuan asal Bengkayang tersebut sedang dalam perjalanan menuju kawasan Titik Nol Perbatasan Indonesia-Malaysia di Jagoi Babang. Sebelum melanjutkan perjalanan, ia menyempatkan diri singgah untuk menarik uang tunai melalui layanan Agen BRILink yang tersedia di toko tersebut.

 Beberapa menit kemudian, transaksi selesai. Uang tunai yang baru diterimanya segera disimpan ke dalam tas. Menurut Miki, tambahan uang tunai itu diperlukan sebagai pegangan selama berada di kawasan perbatasan, termasuk untuk membeli sejumlah kebutuhan dan makanan ringan yang banyak dijual di sana.

"Saya memang sengaja tarik uang di sini untuk belanja. Biasanya kalau ke Jagoi sekalian cari beberapa barang yang susah ditemukan di tempat lain, termasuk makanan ringan dari Malaysia," katanya pada ANTARA sambil tersenyum. 

Tak lama berselang, Miki kembali menuju mobil yang telah menunggunya di depan toko. Bersama rekan-rekannya, ia kemudian melanjutkan perjalanan menuju kawasan perbatasan. 

Di saat yang hampir bersamaan, warga lain tampak datang silih berganti ke Toko Victory. Ada yang hendak menarik uang tunai, mengirim dana kepada keluarga, maupun berbelanja kebutuhan sehari-hari.

Pemandangan seperti itu bukan hal yang asing di Toko Victory.
Orang datang dan pergi silih berganti di Toko Victory, Simpang Take, Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang. Sebagian membawa daftar belanja kebutuhan rumah tangga, sebagian lainnya menunggu giliran menarik uang tunai atau mengirim dana kepada keluarga.

Di toko  itu, aktivitas jual beli dan transaksi keuangan berlangsung berdampingan hampir setiap hari. Tak heran jika Toko Victory yang telah berdiri puluhan tahun tersebut nyaris tak pernah sepi dari pengunjung.

Bagi masyarakat di perbatasan Indonesia-Malaysia, Toko Victory bukan sekadar tempat membeli kebutuhan hidup. Toko yang berkembang dari usaha kelontong menjadi minimarket itu telah menjadi bagian dari kehidupan warga dan membantu ribuan masyarakat dari berbagai kampung memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk mengakses layanan keuangan.

Saat ANTARA berkunjung, suasana toko terlihat seperti hari-hari biasa. Deretan rak minimarket memenuhi ruangan, mulai dari kebutuhan rumah tangga, makanan, minuman hingga berbagai produk lainnya. Sementara sebuah mesin transaksi berada di dekat meja kasir. Sejumlah warga tampak keluar masuk, ada yang membawa barang belanjaan, ada pula yang datang khusus untuk menarik uang atau melakukan transfer.

Toko Victory menempati sebuah ruko dua pintu berlantai dua yang dicat dengan perpaduan warna biru dan hijau. Bangunan yang berada di tepi jalan itu tidak hanya digunakan sebagai tempat usaha, tetapi juga menjadi tempat tinggal keluarga pemiliknya. Di lantai bawah, aktivitas jual beli dan layanan transaksi keuangan berlangsung hampir sepanjang hari, sementara lantai atas menjadi ruang keluarga beristirahat setelah melayani pelanggan.

Aktivitas di toko itu kini lebih banyak dilayani oleh Fanny (31), menantu pemilik usaha yang membantu mengelola toko sehari-hari.

Perempuan asal Manado itu dengan ramah menyapa setiap pelanggan yang datang. Dari balik meja kasir, ia menyaksikan bagaimana Toko Victory tumbuh bersama masyarakat perbatasan selama bertahun-tahun.

Di depan bangunan, papan nama toko tampak mulai memudar dimakan usia. Sebagian huruf bahkan nyaris tak terbaca lagi. Namun bagi warga Jagoi Babang, tempat itu tetap mudah dikenali.

"Kalau mau tarik uang atau transfer, ke Victory saja."

Begitulah petunjuk yang kerap diberikan warga kepada siapa saja yang membutuhkan layanan keuangan di kawasan perbatasan tersebut.

Jagoi Babang merupakan salah satu pintu perlintasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Barat. Mobilitas warga, aktivitas perdagangan, dan lalu lintas barang menjadi bagian dari keseharian masyarakat di kawasan tersebut. 

Sementara Simpang Take, tempat Toko Victory berdiri, menjadi salah satu jalur yang menghubungkan wilayah Jagoi Babang dengan kawasan perbatasan lainnya, termasuk menuju Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Aruk di Kabupaten Sambas.


Mendekatkan akses keuangan 


Ramainya aktivitas masyarakat itu tidak selalu diikuti dengan kemudahan akses layanan keuangan. Bertahun-tahun lalu, ketika layanan perbankan belum tersedia di Jagoi Babang, warga yang ingin mentransfer uang atau menarik dana harus menempuh perjalanan hingga ke Bengkayang, ibu kota kabupaten, yang memakan waktu lebih dari dua jam perjalanan darat. Bagi warga dari kampung-kampung pedalaman, perjalanan yang harus ditempuh bahkan bisa jauh lebih lama.

Ketiadaan layanan perbankan di Jagoi Babang pada masa itu membuat pemilik usaha melihat kebutuhan masyarakat akan akses keuangan yang lebih dekat. Dari situlah Toko Victory mulai menghadirkan layanan transaksi keuangan yang kemudian berkembang menjadi Agen BRILink.

Keberadaan Agen BRILink kemudian membuat peran Toko Victory semakin penting. Selain menjadi tempat berbelanja kebutuhan sehari-hari, toko itu juga menjadi titik akses layanan keuangan yang mendekatkan masyarakat dengan berbagai transaksi perbankan.

"Kalau yang paling sering itu tarik uang dan transfer," kata Fanny.

Saat ini layanan perbankan telah tersedia melalui unit kerja BRI di Kecamatan Seluas yang berjarak sekitar 20 hingga 30 menit perjalanan dari Jagoi Babang. Namun bagi warga yang tinggal di wilayah pedalaman seperti Sungkung, Tawang maupun sejumlah desa di Kecamatan Siding, perjalanan menuju layanan perbankan tetap membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit.

Mereka harus menempuh puluhan kilometer perjalanan untuk mencapai pusat kecamatan. Tidak sedikit yang menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan hampir seharian perjalanan, hanya untuk menarik uang tunai atau mengirim dana kepada keluarga.

Selain faktor jarak, jam layanan juga menjadi pertimbangan masyarakat. Kantor bank memiliki jam operasional yang terbatas, sementara Agen BRILink di Toko Victory dapat melayani hingga malam hari. Warga tidak perlu menyesuaikan waktu dengan jam kerja perbankan atau mengantre panjang untuk melakukan transaksi.

Bagi sebagian warga pedalaman, suasana toko juga terasa lebih akrab. Mereka datang langsung dari kebun atau ladang dengan pakaian kerja yang masih berlumur tanah tanpa merasa sungkan. Berbeda dengan suasana kantor bank yang bagi sebagian masyarakat masih terasa lebih formal, transaksi di toko berlangsung sederhana dan menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.

Toko Victory Simpang Take Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang (ANTARA/Narwati)

Di tengah berkembangnya layanan digital, kebutuhan terhadap layanan seperti ini juga belum sepenuhnya hilang. Tidak semua wilayah perbatasan memiliki akses internet yang memadai. Bahkan di sejumlah daerah, pasokan listrik masih terbatas. Kondisi tersebut membuat sebagian warga tetap mengandalkan layanan keuangan terdekat untuk menarik uang tunai maupun mengirim dana kepada keluarga.

Bagi masyarakat perkotaan, transaksi dapat dilakukan melalui telepon genggam dalam hitungan menit. Namun bagi sebagian warga perbatasan, layanan keuangan masih berarti perjalanan panjang yang harus ditempuh. Karena itu, keberadaan Agen BRILink menjadi jembatan yang mendekatkan layanan keuangan kepada masyarakat yang tinggal jauh dari pusat layanan.

Menurut Fanny, banyak warga memilih memanfaatkan layanan di tokonya karena lebih mudah dijangkau dibandingkan harus pergi ke kantor bank.

"Bank kan cukup jauh. Banyak orang merasa lebih mudah melakukan transaksi di sini," ujarnya.

Meski terdapat biaya administrasi untuk beberapa layanan, warga tetap memanfaatkannya karena dinilai lebih efisien dibandingkan harus mengeluarkan ongkos perjalanan menuju pusat layanan perbankan.

Dari toko sederhana itu, ribuan transaksi telah mengalir selama bertahun-tahun. Bahkan, sebelum layanan serupa mulai bermunculan, Toko Victory telah lebih dulu menjadi tujuan warga yang ingin menarik uang, mengirim dana, maupun melakukan berbagai transaksi perbankan lainnya.

Usia layanan tersebut seolah tergambar dari papan nama yang mulai kusam dimakan waktu. Namun manfaatnya tetap terasa hingga kini.

Fanny mengaku hampir setiap hari selalu ada warga yang datang untuk bertransaksi.

"Sudah lama sekali. Kalau tidak salah, ini termasuk yang pertama di sini," katanya.

Keberadaan Agen BRILink tidak hanya membantu masyarakat, tetapi juga ikut menopang usaha keluarga mereka. Warga yang datang bertransaksi umumnya sekaligus membeli kebutuhan rumah tangga, sehingga menciptakan hubungan yang saling menguatkan antara usaha kecil dan masyarakat sekitar.

"Selain membantu masyarakat, tentu membantu usaha juga," ujar Fanny.


Membantu warga pedalaman 


Salah satu warga yang kerap memanfaatkan layanan di Toko Victory adalah Sujianto, Kepala Desa Sungkung III.

 Sujianto tinggal sekitar 80 kilometer dari Jagoi Babang itu mengaku sudah beberapa kali memanfaatkan layanan di Toko Victory, baik untuk menarik uang maupun berbelanja kebutuhan sehari-hari.

"Sudah sering. Saya mungkin lebih dari lima kali tarik uang di situ, sekalian belanja juga," ujarnya.

Menurut Sujianto, keberadaan Agen BRILink sangat membantu masyarakat pedalaman dalam mengakses layanan keuangan. Kehadiran layanan tersebut membuat warga tidak perlu menempuh perjalanan lebih jauh hanya untuk melakukan transaksi sederhana seperti menarik uang atau mengirim dana kepada keluarga.

Ia menilai layanan tersebut sangat menunjang aktivitas ekonomi masyarakat, terutama bagi warga yang membutuhkan akses cepat terhadap uang tunai maupun transaksi keuangan lainnya.

"Untuk mengirim uang kepada anak-anak yang sekolah atau untuk kebutuhan sehari-hari, sangat membantu," katanya.

Meski kata dia, jarak tersebut masih tergolong jauh dari kampung mereka, layanan di Toko Victory tetap menjadi pilihan karena merupakan akses keuangan yang paling dekat dibandingkan harus menuju kantor bank atau layanan perbankan di ibu kota Kabupaten Bengkayang. 

Warga pun tidak hanya datang untuk menarik uang atau melakukan transfer, tetapi sekaligus berbelanja kebutuhan sehari-hari sebelum kembali pulang. Dengan begitu, satu perjalanan dapat dimanfaatkan untuk mengurus berbagai keperluan sekaligus tanpa harus menghabiskan waktu dan biaya yang lebih besar.

Meski demikian, tantangan masih ada. Keterbatasan sinyal internet di sejumlah wilayah pedalaman, termasuk Sungkung, terkadang memengaruhi kelancaran transaksi. Namun menurut dia, kondisi tersebut tidak mengurangi manfaat yang dirasakan masyarakat.

"Pelayanannya cukup bagus. Kendala sinyal kadang ada, tapi itu bukan penghalang bagi masyarakat untuk memanfaatkan layanan yang tersedia," ujarnya.

Bagi warga pedalaman, keberadaan layanan keuangan yang lebih dekat tidak hanya mempermudah transaksi, tetapi juga membantu perputaran ekonomi di tingkat desa. Uang yang diterima atau ditarik warga dapat segera digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun mendukung aktivitas usaha masyarakat.

Dari sebuah sudut di Simpang Take, ribuan transaksi terus mengalir setiap tahunnya. Menghubungkan warga perbatasan dengan layanan keuangan yang lebih dekat, sekaligus membuktikan bahwa inklusi keuangan tidak selalu hadir dari gedung besar, melainkan juga dari sebuah toko tua yang tumbuh bersama masyarakat di beranda negeri.



Uploader : Admin Antarakalbar

COPYRIGHT © ANTARA 2026