Bengkayang (ANTARA) - Suara notifikasi dari telepon genggam milik Yati Nurani (43) kerap terdengar di sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.
Terkadang notifikasi itu berasal dari komentar para pengikutnya, terkadang dari tanda suka yang terus bertambah pada konten yang diunggahnya.

Empat tahun lalu, perempuan yang akrab disapa Yanie itu tidak pernah membayangkan media sosial yang biasa digunakannya untuk melihat kabar keluarga, teman, dan tetangga suatu hari akan menjadi sumber tambahan penghasilan bagi keluarganya.

"Awalnya saya pakai Facebook biasa untuk lihat-lihat kabar keluarga, teman, dan tetangga. Tidak pernah terpikir bisa menghasilkan uang dari sana," katanya kepada ANTARA, di Bengkayang, Kamis.  

Perjalanan itu bermula ketika seorang teman sesama ibu rumah tangga mengenalkannya pada fitur mode profesional atau Facebook Pro. Saat itu, temannya bercerita bahwa pengguna Facebook berpeluang memperoleh penghasilan jika konten yang dibuat mendapat banyak perhatian dan memenuhi syarat monetisasi.

Rasa penasaran membuat Yati mencoba. Ia mulai mengunggah berbagai aktivitas yang dijalaninya sehari-hari. Tidak ada peralatan khusus maupun konsep yang rumit. Aktivitas di dapur, mengurus rumah, hingga keseharian bersama keluarga menjadi konten yang dibagikannya kepada pengguna Facebook. 

Perlahan, unggahan tersebut mulai mendapat perhatian. Jumlah penonton terus bertambah, demikian pula pengikut akun Facebook miliknya. Kini akun yang dikelolanya memiliki sekitar 24 ribu pengikut. 

Dua tahun setelah aktif membuat konten, akun Yati akhirnya memenuhi syarat untuk dimonetisasi. Momen itu menjadi titik penting dalam perjalanan digitalnya.

"Rasanya senang dan terharu. Tidak menyangka kegiatan yang saya lakukan sambil di dapur dan mengurus anak bisa menghasilkan uang," ujarnya.

Sejak saat itu, Yati semakin bersemangat membuat konten. Hingga Juni 2026, ia telah menerima pembayaran sebanyak 17 kali dari program monetisasi Meta. Besaran pendapatan yang diterimanya bervariasi, mulai dari Rp500 ribu hingga Rp3 juta per bulan, tergantung jumlah penonton dan performa konten.

Meski bukan menjadi sumber penghasilan utama keluarga, tambahan pendapatan tersebut cukup membantu memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari.

"Penghasilan dari Facebook sangat membantu. Bisa untuk tambahan belanja kebutuhan sehari-hari, jajan anak, keperluan pribadi, dan sebagian ditabung," katanya.


Menanti transfer Meta

Menjelang akhir bulan, Yati memiliki satu kebiasaan yang selalu dinantikannya. Di sela aktivitas rumah tangga, ia sesekali membuka aplikasi BRImo di telepon genggam untuk memeriksa rekening BRI miliknya. Ia menunggu dana hasil monetisasi Facebook Pro yang dikirim melalui sistem pembayaran Meta masuk ke rekening.

Bagi Yati, momen tersebut bukan sekadar rutinitas mengecek saldo. Ada rasa penasaran, harap-harap cemas, sekaligus bangga setiap kali notifikasi transaksi muncul di layar ponselnya.  

"Kadang masih deg-degan saat buka BRImo menjelang akhir bulan. Rasanya ada kebanggaan tersendiri karena uang itu berasal dari konten yang saya buat sendiri," ujarnya sambil tersenyum.  

Menurut Yati, kemudahan layanan perbankan digital menjadi bagian penting dalam perjalanannya sebagai kreator konten. Melalui rekening BRI yang terhubung dengan sistem pembayaran internasional Meta, hasil monetisasi dapat diterima secara langsung tanpa proses yang rumit. 

Melalui BRImo, Yati dapat memantau dana yang masuk sekaligus mengelola penghasilan tersebut untuk kebutuhan keluarga maupun tabungan. Baginya, setiap pembayaran menjadi bukti bahwa konsistensi berkarya di ruang digital dapat memberikan manfaat ekonomi nyata.

Kehadiran layanan perbankan digital membuat proses penerimaan pendapatan dari platform global menjadi semakin mudah dan cepat. Dari layar ponsel tempat konten dibuat, hasilnya dapat langsung diterima melalui rekening bank dan dipantau kapan saja melalui aplikasi BRImo.

Yati Nuraini sedang memposting video di reels Facebook (ANTARA/Narwati)


Konsisten berkarya

Perjalanan sebagai kreator digital tentu tidak selalu mudah. Tantangan terbesar yang dihadapinya adalah membagi waktu antara mengurus keluarga dan menjaga konsistensi membuat konten.

Namun menurut Yati, membuat konten tidak harus membutuhkan biaya besar atau peralatan mahal. Aktivitas sehari-hari yang dijalani secara alami justru sering kali lebih dekat dengan para pengikutnya.

"Kalau saya memanfaatkan waktu santai. Tidak harus membuat konten yang lama atau ribet. Kegiatan sehari-hari saja bisa dijadikan konten," katanya.

Prinsip itulah yang membuat Yati tetap bertahan hingga sekarang. Ia terus belajar mengikuti perkembangan media sosial sambil mempertahankan konten yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Di tengah kesibukannya mengurus keluarga, Yati juga memiliki pesan bagi para ibu rumah tangga lainnya yang ingin memanfaatkan media sosial sebagai sarana berkarya maupun menambah penghasilan.

"Jangan meremehkan diri sendiri. Mulailah dari hal yang paling mudah. Kuncinya sabar dan konsisten. Di era sekarang, dapur, pekarangan, dan kegiatan sehari-hari kita bisa menjadi sumber rezeki tambahan untuk keluarga. Semangat mencoba," katanya.

Ia meyakini peluang sering kali hadir dari aktivitas sederhana yang dilakukan setiap hari, lalu dibagikan melalui layar ponsel hingga akhirnya menghasilkan nilai ekonomi.

Pengalaman serupa tidak hanya dirasakan Yati. Di Kabupaten Bengkayang, semakin banyak masyarakat mulai memanfaatkan media sosial sebagai sumber pendapatan tambahan. Salah satunya Robertus, seorang ASN di Pemkab Bengkayang yang menemukan peluang ekonomi baru melalui Facebook Pro dari aktivitas yang awalnya hanya dilandasi rasa penasaran.

Bagi Robertus (41), media sosial yang semula hanya digunakan untuk berinteraksi kini berkembang menjadi sumber pendapatan melalui aktivitas sebagai kreator konten Facebook Pro.

Perjalanan itu bermula pada Oktober 2023. Saat membuka akun Facebook pribadinya yang telah digunakan sejak 2009, pria yang akrab disapa Obe itu menemukan fitur Facebook Pro. Rasa penasaran mendorongnya mencoba fitur tersebut dan mengubah akun pribadinya menjadi akun profesional.

"Awalnya hanya iseng. Saya lihat ada fitur Facebook Pro lalu mencoba mendaftar. Karena penasaran, akun Facebook yang sudah saya gunakan sejak 2009 saya ubah menjadi akun Facebook Pro," katanya.

Langkah awal itu tidak selalu mudah. Saat Facebook Pro mulai diperkenalkan, belum banyak orang di sekitarnya yang memahami cara kerja maupun peluang monetisasi yang ditawarkan platform tersebut. Robertus pun belajar secara mandiri dengan mencari berbagai referensi melalui internet dan media sosial.

Menurut dia, salah satu tantangan terbesar adalah memahami aturan platform yang mengharuskan kreator mengunggah konten asli hasil karya sendiri, termasuk penggunaan audio yang tidak melanggar hak cipta.

"Karena fitur ini masih baru, kami belajar sendiri. Banyak mencari informasi bagaimana cara membuat konten yang sesuai aturan dan bisa diterima oleh platform," ujarnya.

Perlahan, kerja keras tersebut mulai membuahkan hasil. Konten yang dibuatnya berhasil menarik perhatian pengguna media sosial hingga kini akun Facebook Pro miliknya memiliki sekitar 18 ribu pengikut.   

Jumlah pengikut yang terus bertambah membuka peluang monetisasi. Obe panggil akrabnya, mengaku merasakan kebahagiaan tersendiri ketika menerima pembayaran pertama dari hasil konten yang dibuatnya.

"Senang sekali saat pembayaran pertama masuk. Ada rasa bangga karena hasil dari konten yang kita buat ternyata bisa menghasilkan," katanya.

Sejak bergabung pada 2023, ia telah menerima empat kali pembayaran dari Facebook Pro. Nilai pembayaran terbesar yang pernah diterimanya mencapai 81,11 dolar AS. Besaran pendapatan tersebut bervariasi sesuai jumlah penonton dan performa konten yang dihasilkan.

Kemudahan layanan keuangan digital juga turut mendukung aktivitasnya sebagai kreator konten. Pembayaran dari Facebook Pro diterima melalui PayPal, kemudian ditransfer ke rekening Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang telah didaftarkannya. 

Menurut Obe, proses pencairan dana relatif mudah karena pembayaran dari platform dilakukan secara otomatis pada periode tertentu setiap bulan sebelum diteruskan ke rekening bank.

"Tentu sangat membantu. Hasil konten yang kita buat bisa langsung diterima dan ditransfer ke rekening BRI. Jadi lebih mudah dan praktis," ujarnya.

Meski peluang terbuka lebar, dia menilai tantangan terbesar justru berasal dari diri sendiri. Menjaga semangat membuat konten, mencari ide-ide baru, dan meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan pengikut menjadi hal yang harus dilakukan secara konsisten.

Ia pun mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk memanfaatkan peluang yang hadir di era digital dengan terus belajar dan meningkatkan kreativitas.

"Kalau ingin menjadi kreator konten, harus rajin belajar, banyak mencari ide, dan terus berkreasi. Konten yang menarik, kreatif, dan bermanfaat akan lebih mudah diterima oleh audiens," katanya.

Akun facebook milik Yati Nuraini (Ya Nie) (ANTARA/Narwati)


Ruang ekonomi baru

Fenomena masyarakat yang mulai memperoleh penghasilan dari aktivitas digital menunjukkan perubahan fungsi media sosial yang semakin luas. Jika dahulu platform digital identik dengan ruang komunikasi dan hiburan, kini media sosial juga berkembang menjadi ruang ekonomi yang membuka peluang pendapatan bagi masyarakat.

Dosen Program Studi Teknologi Informasi Institut Shanti Bhuana Bengkayang, Yuliana menilai perkembangan teknologi telah mendorong lahirnya berbagai peluang ekonomi baru yang dapat diakses masyarakat melalui platform digital.

Menurut Yuliana, media sosial tidak lagi sekadar menjadi tempat berbagi informasi atau berinteraksi, tetapi juga menjadi wadah untuk memasarkan produk, membangun jejaring, mengembangkan personal branding, hingga memperoleh penghasilan melalui monetisasi konten.

"Teknologi pada dasarnya diciptakan untuk membantu aktivitas manusia. Ketika masyarakat mampu memanfaatkannya secara kreatif dan produktif, maka teknologi dapat membuka peluang ekonomi baru," ujarnya.

Ia menjelaskan peluang tersebut terbuka bagi siapa saja yang mau belajar dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Pelaku UMKM, perajin, petani, peternak hingga kreator konten kini dapat menjangkau pasar yang lebih luas melalui media sosial dan platform digital.

Meski demikian, Yuliana mengingatkan bahwa pemanfaatan media sosial harus dibarengi dengan literasi digital yang baik. Menurutnya, masyarakat perlu memahami etika bermedia sosial, menghargai hak cipta, serta memastikan konten yang dibuat memberikan manfaat bagi orang lain.

Selain membuka peluang ekonomi, media sosial juga memiliki risiko apabila digunakan secara berlebihan. Algoritma platform digital yang dirancang untuk menarik perhatian pengguna dapat memicu ketergantungan dan menurunkan produktivitas jika tidak dikelola dengan bijak.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk memanfaatkan teknologi sebagai sarana meningkatkan kapasitas diri dan produktivitas, bukan hanya sebagai hiburan semata. Masyarakat juga perlu lebih berhati-hati dalam menjaga keamanan data pribadi di ruang digital.

"Teknologi akan terus berkembang. Yang terpenting adalah bagaimana masyarakat dapat memanfaatkannya secara bijak, produktif, dan bertanggung jawab sehingga memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar," katanya.

Kisah Yati dan Robertus menunjukkan bahwa peluang ekonomi di era digital dapat hadir dari berbagai tempat, termasuk dari aktivitas sehari-hari yang sebelumnya dianggap biasa. Dengan kreativitas, konsistensi, serta dukungan teknologi dan layanan perbankan digital, media sosial kini tidak lagi sekadar menjadi ruang berbagi cerita, tetapi juga membuka jalan bagi masyarakat untuk memperoleh penghasilan tambahan.

 

 



Uploader : Nurul Hayat

COPYRIGHT © ANTARA 2026