Pontianak (ANTARA) - Keberadaan Kota Pontianak sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, dan jasa di Kalimantan Barat dinilai tidak terlepas dari visi geostrategis pendirinya, Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri, yang sejak abad ke-18 telah melihat potensi besar kawasan pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak sebagai simpul perdagangan regional.
Pandangan tersebut disampaikan Pangeran Wiranata Kusuma dari Istana Kadariah, Kesultanan Poontianak, Syarif Usmulyani Alqadrie yang menilai keputusan mendirikan Kesultanan Pontianak di kawasan delta sungai bukan sekadar pertimbangan geografis, melainkan hasil pemikiran strategis yang jauh melampaui zamannya.
"Beliau melihat kawasan pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi pusat perdagangan, pusat kekuasaan, sekaligus pusat peradaban Islam di Kalimantan Barat," kata Syarif Usmulyani di Pontianak, Jumat.
Menurut dia, ketika pertama kali tiba di wilayah yang kini menjadi Pontianak pada 4 Ramadhan 1185 Hijriah atau sekitar tahun 1771 Masehi, Sultan Syarif Abdurrahman melihat kawasan tersebut memiliki posisi yang sangat strategis karena berada di jalur lalu lintas perdagangan yang menghubungkan pedalaman Kalimantan dengan berbagai pusat ekonomi di Nusantara dan kawasan regional.
Ia menjelaskan, sebelum mendirikan Kesultanan Pontianak, Sultan Syarif Abdurrahman telah memiliki pengalaman luas sebagai pelaut dan pedagang yang berlayar ke berbagai wilayah seperti Siak, Riau, Malaka, Jambi, Palembang, Banjar hingga sejumlah pusat perdagangan lainnya.
Pengalaman tersebut membuatnya memahami pentingnya jalur perdagangan maritim sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi dan kekuasaan politik pada masa itu.
Menurut Syarif Usmulyani, salah satu langkah penting yang dilakukan Sultan Syarif Abdurrahman adalah membangun jaringan perdagangan yang kuat dengan berbagai daerah di Nusantara. Armada perahu dagang yang dimilikinya tidak hanya berfungsi sebagai sarana distribusi barang, tetapi juga menjaga keamanan jalur perdagangan dari ancaman perompak laut.
Keamanan tersebut kemudian menarik semakin banyak pedagang untuk singgah dan melakukan aktivitas perdagangan di Pontianak.
"Karena keamanan terjamin, para pedagang merasa nyaman melakukan transaksi dan menjadikan Pontianak sebagai salah satu pusat perdagangan yang penting pada masa itu," ujarnya.
Ia mengatakan keberhasilan mengembangkan perdagangan kemudian menjadi fondasi bagi penguatan posisi Kesultanan Pontianak sebagai pusat kekuasaan baru di pantai barat Kalimantan.
Melalui hubungan dagang, diplomasi, dan pengembangan wilayah, Pontianak berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi yang memiliki pengaruh besar terhadap kerajaan-kerajaan di sekitarnya.
Menurut Syarif Usmulyani, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa Sultan Syarif Abdurrahman bukan hanya seorang pemimpin kerajaan, tetapi juga seorang negarawan yang mampu membaca peluang ekonomi dan geopolitik di tengah persaingan kekuatan dagang Nusantara dan Eropa pada abad ke-18.
Ia menilai visi yang dibangun Sultan Syarif Abdurrahman masih relevan hingga saat ini, terutama dalam upaya memperkuat posisi Pontianak sebagai gerbang perdagangan dan investasi di Kalimantan Barat.
"Sejak awal Pontianak dibangun dengan konsep sebagai pusat perdagangan dan pusat peradaban. Apa yang kita lihat hari ini merupakan kelanjutan dari visi besar yang telah dirancang oleh Sultan Syarif Abdurrahman lebih dari dua abad lalu," katanya.
Bagi Kesultanan Pontianak, sejarah tersebut menjadi bukti bahwa lahirnya Pontianak bukan semata-mata karena faktor geografis, melainkan hasil perencanaan strategis seorang pemimpin yang mampu melihat potensi wilayahnya untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, perdagangan, dan peradaban di Kalimantan Barat.
Pewarta: Rendra OxtoraUploader : Admin Antarakalbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.