Semua berawal dari kebiasaan sederhana. Setiap kali berhasil mencoba resep baru, ia mengabadikannya dalam foto lalu mengunggahnya ke media sosial dengan keterangan singkat, "enak dan berhasil".
Unggahan yang awalnya hanya untuk berbagi cerita dengan teman-teman itu perlahan membuka jalan menuju dunia usaha yang kini terus berkembang di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.
Perempuan kelahiran Pontianak, 18 April 1973, itu dikenal aktif menjalankan berbagai peran sekaligus. Selain sebagai aparatur sipil negara (ASN), ia juga merupakan pelaku usaha dan penggerak UMKM. Bersama suami dan dua anaknya, Ita membangun dan mengembangkan berbagai usaha yang berpusat di Jalan Raya Sanggau Ledo Gang Delima, Kabupaten Bengkayang.
Perempuan yang kini menjabat Sekretaris Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Bengkayang itu memang memiliki kegemaran memasak sekaligus mencicipi berbagai jenis kuliner. Dari hobi tersebut, ia kerap bereksperimen membuat aneka makanan, mulai dari hidangan tradisional hingga menu kekinian.
"Saya memang hobi memasak dan hobi makan. Saya suka mencoba masakan baru, baik makanan tradisional maupun modern," katanya pada ANTARA, Kamis.
Saat itu, tidak ada niat sedikit pun untuk berjualan. Media sosial hanya menjadi ruang berbagi hasil masakan yang berhasil dibuat di rumah. Namun kesempatan datang pada 2016 ketika ia melihat buah cempedak melimpah di Bengkayang dan banyak yang terbuang karena tidak termanfaatkan.
Melihat kondisi tersebut, Ita mencoba mengolah buah cempedak menjadi dodol. Hasilnya di luar dugaan. Produk tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat.
Melalui media sosial, pesanan mulai berdatangan dari berbagai daerah. Tidak hanya dari Bengkayang, tetapi juga dari Jakarta, Makassar hingga Surabaya.
Dari situlah Ita mulai melihat peluang usaha yang lebih besar.
Pesanan yang terus bertambah membuatnya mulai serius menekuni dunia usaha kuliner. Ia menerima pesanan secara daring, sementara pelanggan mengambil langsung ke rumah atau pesanan diantar sendiri.
Namun membangun usaha sambil menjalankan tugas sebagai ASN bukan perkara mudah.
Setiap sore, ia membuka pemesanan melalui media sosial. Malam hari digunakan untuk mencatat dan merekap pesanan pelanggan. Menjelang subuh, ia mulai memasak. Saat jam istirahat kantor, pesanan diantar kepada pelanggan. Sepulang bekerja, ia kembali menyiapkan pesanan berikutnya sebelum malam hari kembali mengantar produk ke konsumen.
Rutinitas tersebut dijalani berulang selama bertahun-tahun.
"Lelah tentu ada. Kalau ada pesanan, saya harus bangun jam empat subuh supaya jam delapan pesanan sudah selesai. Kadang jam 10.30 saya sudah harus lari dari kantor untuk mengejar pesanan yang harus sampai jam 12 siang," ujarnya.
Untuk pesanan tumpeng, Ita memilih mengerjakannya sendiri. Baginya, proses pembuatan tumpeng membutuhkan perhatian khusus dan sentuhan pribadi.
"Tumpeng itu biasanya saya kerjakan sendiri dalam satu tarikan napas. Kalau katering biasa baru dibantu tim," katanya.
Pesanan katering dan tumpeng yang diterimanya cukup beragam. Dalam sebulan, ia dapat menerima sekitar tujuh hingga 12 pesanan tumpeng. Sementara untuk katering, jumlah pesanan berkisar antara 60 hingga 90 kotak nasi dan snack yang sebagian besar berasal dari instansi pemerintah, perbankan, dan kejaksaan.
Meski lelah secara fisik maupun mental karena harus membagi waktu antara pekerjaan, organisasi, keluarga dan usaha, Ita mengaku tidak pernah berpikir untuk menyerah.
"Lelah secara fisik pasti ada, tetapi obat saya tidur. Kalau sudah kena bantal biasanya langsung tertidur. Kalau lelah secara psikis juga ada karena harus membagi waktu antara kantor, organisasi, keluarga dan bisnis," katanya.
Baginya, kedisiplinan menjadi kunci utama. Tidak boleh ada satu pun tanggung jawab yang terabaikan, baik sebagai ASN maupun sebagai pelaku usaha.
Kemampuan mengatur waktu menjadi semakin penting karena tanggung jawab yang diemban tidak sedikit. Dalam perjalanan kariernya sebagai ASN di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bengkayang, Ita pernah menduduki berbagai jabatan strategis, mulai dari Kepala Bidang Perindustrian, Kepala Bidang Sosial Budaya pada Bappeda, Kepala Bidang Perumahan Rakyat, Kepala Bidang Koperasi dan UKM, Sekretaris Dinas Koperasi, Tenaga Kerja dan Transmigrasi, hingga kini menjabat Sekretaris Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Bengkayang.
Kerja keras itu perlahan membuahkan hasil. Usaha yang semula dijalankan dari rumah mulai berkembang. Berbagai produk kuliner lahir dari dapurnya.
Momentum penting datang saat pandemi COVID-19 melanda pada 2020. Ketika aktivitas masyarakat banyak beralih ke ruang digital, Ita justru semakin aktif memanfaatkan media sosial untuk memasarkan produknya.
Facebook, WhatsApp dan berbagai platform digital menjadi sarana untuk menjangkau lebih banyak pelanggan.
Dari perjalanan tersebut lahirlah sejumlah unit usaha yang kini dikelolanya. Selain Griya Delima Vitwo, Ita juga mengembangkan D'Vitwo Garden, D'Vitwo Corner, D'Vitwo Outlet, Kopling Jackcoffee, D'Vitwo Kost and Homestay Bengkayang, Asoka Kost Pontianak, serta berbagai layanan katering dan produk makanan olahan.
Sebagian besar usaha tersebut tumbuh dari kawasan Jalan Raya Sanggau Ledo Gang Delima, Bengkayang, yang kini menjadi pusat aktivitas bisnis keluarga mereka.
Legalitas usaha pun terus dilengkapi. Ia mengurus Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikat halal, Produk Industri Rumah Tangga (PIRT), hingga Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) sebagai langkah memperkuat daya saing produk.
Perkembangan usaha membawanya ke berbagai bidang baru. Selain mengelola usaha kuliner, Ita menerima pesanan katering, tumpeng, puding ulang tahun, mengelola rumah kos dan rumah kontrakan di Bengkayang maupun Pontianak, serta tengah membangun sebuah penginapan.
Seiring perkembangan usaha, Ita terus menyesuaikan model bisnis dengan kebutuhan pasar. D'Vitwo Garden yang sebelumnya dikenal sebagai kafe dan angkringan kini lebih difokuskan untuk melayani pesanan katering dan berbagai pesanan khusus.
Dari lokasi tersebut, berbagai pesanan tumpeng, nasi kotak, snack hingga kebutuhan konsumsi kegiatan instansi maupun masyarakat umum disiapkan setiap hari.
Sementara itu, layanan makan di tempat tetap dilayani melalui D'Vitwo Corner yang berada di kawasan Sebopet, Bengkayang. Di tempat tersebut, pelanggan dapat menikmati berbagai menu yang disajikan berdasarkan pesanan atau fresh order sehingga makanan yang diterima dalam kondisi baru dimasak.
Menurut Ita, pembagian fungsi usaha tersebut menjadi salah satu strategi agar kualitas pelayanan tetap terjaga sekaligus mampu menjawab kebutuhan pelanggan yang terus berkembang.
Meski usaha terus berkembang, perjalanan yang dijalani tidak selalu mulus.
Menurut Ita, persaingan usaha kuliner di Bengkayang semakin ketat. Banyak usaha baru bermunculan, sementara pelaku UMKM harus bersaing dengan usaha yang lebih besar dan memiliki jaringan pemasaran yang lebih luas.
Tantangan lainnya adalah mencari sumber daya manusia yang memiliki etos kerja tinggi sekaligus mampu mengikuti perkembangan kreativitas di bidang kuliner.
"Sebagai owner saya harus terus berpikir bagaimana mempertahankan usaha, mengembangkan usaha dan menggali kreativitas agar tetap memiliki nilai jual," katanya.
Ia juga pernah menghadapi masa sulit ketika usaha kafenya harus tutup sementara. Saat itu akses jalan menuju lokasi usaha mengalami kerusakan sehingga jumlah pengunjung menurun drastis. Kondisi tersebut diperparah dengan berkurangnya tenaga kerja karena beberapa karyawan mengundurkan diri serta penerapan kebijakan pajak konsumen yang membuat jumlah pengunjung semakin berkurang.
Akibat berbagai kondisi tersebut, operasional kafe sempat dihentikan sementara waktu. Namun, Ita mengaku tidak pernah benar-benar ingin menyerah.
"Kadang memang drop dan down, tetapi saya selalu berpikir ada karyawan yang harus diberi pekerjaan untuk menafkahi keluarganya. Itu yang membuat saya tetap bertahan," katanya.
Baginya, setiap tantangan merupakan bagian dari proses belajar sebagai pelaku usaha.
Transaksi kian praktis
Seiring berkembangnya usaha, Ita juga mulai menyesuaikan diri dengan perubahan cara masyarakat bertransaksi.
Jika dahulu sebagian besar pembayaran dilakukan secara tunai, kini semakin banyak pelanggan yang memilih menggunakan transaksi digital.
Melihat perubahan tersebut, Ita mulai menggunakan QRIS BRI sejak 2022 untuk mendukung berbagai usaha yang dikelolanya.
Baginya, sistem pembayaran non tunai bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman, melainkan kebutuhan untuk memberikan pelayanan yang lebih cepat dan efisien kepada pelanggan.
"Kadang konsumen tidak siap uang kecil dan pelaku usaha juga kekurangan uang kecil untuk kembalian. Kalau menggunakan transaksi non tunai, uang yang ditransaksikan pas dan tepat," ujarnya.
Menurut Ita, pembayaran digital membantu meningkatkan kenyamanan pelanggan sekaligus memberikan rasa aman dalam bertransaksi.
Ia pernah merasakan manfaat tersebut ketika mengikuti Gebyar BRI di Singkawang. Saat memasarkan berbagai produk makanan dan kerajinan, sejumlah pembeli dari luar daerah melakukan pembayaran melalui QRIS sebelum barang dikirim ke alamat tujuan.
"Bagi saya transaksi jadi lebih mudah, cepat dan aman," katanya.
Respons pelanggan terhadap pembayaran digital juga cukup baik. Selain tidak perlu menunggu uang kembalian, pelanggan merasa transaksi lebih praktis dan efisien.
Kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi, menurut Ita, menjadi salah satu kunci agar UMKM dapat bertahan dan terus berkembang di tengah perubahan zaman.
Aktif memberdayakan UMKM
Di luar kesibukan mengelola usaha, Ita juga aktif mendampingi pelaku UMKM di Bengkayang.
Peran tersebut dijalankannya sebagai Ketua UMKM Bumi Sebalo Bengkayang sekaligus Ketua Koperasi Pemasaran UMKM Bumi Sebalo Bengkayang. Melalui organisasi tersebut, ia aktif mendampingi pelaku usaha dalam pengembangan produk, pengurusan legalitas, pemasaran, hingga pemanfaatan teknologi digital.
Ia juga kerap menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan pembinaan dan pelatihan usaha.
Menurut dia, UMKM Bengkayang harus mampu menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri dan tidak kalah bersaing dengan produk dari luar daerah.
Pesan yang sama juga selalu ia sampaikan kepada kaum perempuan.
"Perempuan tidak harus punya toko besar untuk memulai usaha. Sekarang cukup dengan gadget yang hampir semua orang punya, kita sudah bisa berjualan," katanya.
Ia percaya keberhasilan usaha tidak ditentukan oleh besar kecilnya modal, melainkan oleh kemauan untuk belajar, ketekunan, keberanian menghadapi risiko dan kemampuan bangkit setelah mengalami kegagalan.
Dukungan keluarga menjadi salah satu kekuatan terbesarnya. Suami dan kedua anaknya tidak hanya memberi semangat, tetapi juga kerap turun tangan membantu usaha keluarga. Bahkan, salah satu anaknya menjadi sosok yang merintis ide sekaligus meracik Kopling Jackcoffee yang kini menjadi bagian dari usaha keluarga.
"Menjadi ASN sekaligus pelaku usaha itu kolaborasi yang asyik karena hidup jadi penuh dinamika. Yang penting tugas pokok sebagai ASN tidak terabaikan," katanya.
Di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan, Ita bersyukur usaha yang dirintis dari nol masih mampu bertahan dan memberikan pekerjaan bagi delapan orang karyawan.
Baginya, keuntungan finansial bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Ada kebanggaan tersendiri ketika usaha yang dibangun mampu membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain dan memberi inspirasi bagi perempuan untuk berani memulai usaha.
Ke depan, Ita masih menyimpan banyak rencana. Ia tengah membangun penginapan yang dilengkapi sarapan pagi dan ruang santai untuk menikmati kopi. Armada gerobak kopi susu keliling akan ditambah. Fasilitas rumah sewa dan kos akan terus ditingkatkan. Ia juga mulai melirik pemasaran produk kerajinan tangan.
Di balik berbagai rencana itu, ada satu prinsip yang selalu ia pegang sejak pertama kali merintis usaha dari dapur rumah, yakni "memulai dan menyelesaikan". Bagi Ita, motto sederhana tersebut bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cerminan perjuangan untuk terus bertahan, bangkit, dan melangkah meski kerap dihadapkan pada kelelahan dan berbagai tantangan.
Harapan beroperasi kembali
Nita, salah seorang warga Bengkayang, mengaku cukup menyayangkan tutup sementaranya kafe tersebut. Menurut dia, tempat itu sebelumnya menjadi salah satu lokasi favorit untuk berkumpul bersama teman-teman karena memiliki konsep yang menarik dan berbeda dari kebanyakan kafe lainnya.
"Saya dulu cukup sering nongkrong di sana karena konsepnya bagus dan terbuka. Tempatnya nyaman, banyak tanaman, serta memiliki pendopo yang unik sehingga memberikan suasana yang berbeda," ujarnya.
Ia mengatakan selain suasana yang nyaman, kafe D'vitwo tersebut juga menawarkan beragam menu yang dinilai lezat dengan pelayanan yang baik kepada pengunjung.
Menurutnya, konsep kafe yang memadukan area terbuka dengan sentuhan alam menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi kalangan anak muda yang menyukai tempat-tempat estetik.
"Apalagi sekarang banyak anak muda yang mencari tempat yang nyaman sekaligus estetik untuk berkumpul atau berfoto. Di sana cocok untuk itu, karena setiap sudutnya menarik untuk dijadikan latar foto," katanya.
Nita berharap kafe tersebut dapat kembali beroperasi sehingga masyarakat, khususnya generasi muda, memiliki ruang berkumpul yang nyaman dan kreatif di Bengkayang. Dan pengelolaan juga harus dilakukan secara konsisten.
"Sayang sekali kalau tidak dibuka lagi, karena tempat seperti itu cukup diminati dan menjadi salah satu pilihan untuk bersantai bersama teman maupun keluarga," katanya.
Selain pelanggan umum, keberadaan D'Vitwo juga mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, termasuk penyelenggara kegiatan dan komunitas di Bengkayang.
Komisioner KPU Kabupaten Bengkayang, Mujidi, mengaku cukup sering berkunjung ke D'Vitwo Garden sebelum operasional kafe dihentikan sementara. Menurut dia, kafe tersebut memiliki suasana yang nyaman dan cocok digunakan untuk berbagai kegiatan berskala kecil.
"Saya cukup sering ke sana. Kafenya sangat bagus dan nyaman. Untuk kegiatan atau pertemuan dalam skala kecil juga sangat layak dimanfaatkan," katanya.
Menurut Mujidi, salah satu keunggulan D'Vitwo terletak pada fleksibilitas pelayanan yang diberikan kepada pelanggan. Selain menyediakan beragam pilihan makanan dan minuman, pengunjung juga dapat meminta menu tertentu sesuai kebutuhan kegiatan yang dilaksanakan.
"Makanan dan minuman yang disediakan cukup beragam. Bahkan pelanggan juga bisa melakukan request menu sesuai kebutuhan," ujarnya.
Pewarta: NarwatiUploader : Admin Antarakalbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.