Bengkayang (ANTARA) - Di Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalbar, batas negara kadang terasa lebih tipis dari pada sinyal telepon.

Ponsel di saku Carsan, yang akrab disapa Asep Dea, tiba-tiba menangkap sinyal operator Malaysia saat ia melangkah menuju SDN 08 Risau tempatnya mengajar. Itu, bukan hal aneh di kawasan perbatasan Kabupaten Bengkayang itu.

Siaran radio Malaysia terdengar lebih jernih, jaringan telepon negeri jiran kerap lebih kuat, bahkan sebagian kebutuhan sehari-hari warga berasal dari Sarawak. Tak sedikit pula warga Jagoi Babang yang hampir setiap hari melintasi perbatasan untuk berdagang di Pasar Serikin, Sarawak, yang dikenal sebagai weekend market.

Di pasar itu, hasil bumi, sayur-mayur, buah-buahan hingga kerajinan tangan dari wilayah perbatasan Indonesia dipasarkan kepada pembeli dari Malaysia, India, Brunei Darussalam, bahkan wisatawan mancanegara yang datang saat akhir pekan.

Bagi masyarakat Jagoi Babang, Malaysia bukan sekadar negara tetangga. Selama bertahun-tahun, negeri itu menjadi tempat berbelanja, menjual hasil kebun, hingga menukar mata uang. Ringgit pun beredar cukup akrab di tangan warga dan berdampingan dengan rupiah dalam sejumlah aktivitas ekonomi. Sementara itu, akses terhadap layanan perbankan Indonesia tidak selalu mudah dijangkau.

Perubahan demi perubahan yang kini terjadi di wilayah perbatasan itu disaksikan langsung oleh Asep Dea. Ia bukan sekadar guru yang mengajar di Jagoi Babang, melainkan juga saksi hidup bagaimana masyarakat perbatasan menjalani keseharian di antara dua negara, sekaligus perlahan beradaptasi dengan kemajuan layanan keuangan Indonesia.

Asep telah mengabdikan dirinya di dunia pendidikan selama bertahun-tahun. Kariernya dimulai pada 2002 di SD Wirata 3, yang berada di kawasan Sentimok, Desa Kumba, wilayah perbatasan Kabupaten Sambas dengan Kecamatan Sajingan Besar. Kemudian ia melanjutkan pengabdian di Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang sejak 2007 hingga 2020.

Setelah itu, ia mendapat penugasan di SDN 06 Sei Take Jagoi Babang pada 2020 hingga 2023 sebelum akhirnya mengajar di SDN 08 Risau Kecamatan Jagoi Babang Bengkayang sejak 2023 hingga sekarang. Sejak itu, Asep juga menetap di Seluas, sebuah kawasan yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Bagi warga perbatasan, nama Asep bukan hanya dikenal sebagai pendidik. Ia adalah sosok yang tumbuh bersama denyut kehidupan masyarakat di wilayah tapal batas Indonesia-Malaysia.

Perbatasan Indonesia-Malaysia bukan hanya dipisahkan oleh garis imajiner antarnegara, tetapi juga oleh tantangan akses dan jarak.

Selama hampir dua dekade, ia menyaksikan bagaimana warga harus berjuang mengatasi keterbatasan akses, termasuk untuk mendapatkan layanan keuangan.

 

Asep Dea saat mengajar SDN 08 Risau, Kecamatan Jagoi Babang (ANTARA/Narwati)

QRIS

Ia masih mengingat masa ketika masyarakat harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk melakukan transaksi perbankan. Kini, perlahan kondisi itu berubah. Kehadiran layanan perbankan yang semakin dekat dengan masyarakat, termasuk transaksi digital melalui QRIS dan berbagai layanan keuangan lainnya, mulai mengubah pola hidup dan menggerakkan perekonomian warga di kawasan perbatasan.

Sebagai orang yang sehari-hari hidup dan beraktivitas di Jagoi Babang, Asep Dea melihat langsung bagaimana roda ekonomi masyarakat berputar dengan segala dinamika dan tantangannya.

"Melihat perkembangan digitalisasi keuangan di Jagoi Babang itu seperti melihat dua sisi mata uang yang sangat kontras. Di satu sisi ada potensi yang luar biasa, tapi di sisi lain tantangan di lapangan juga masih ada," kata Asep Dea kepada ANTARA, Minggu.

Sebagai masyarakat yang tinggal di wilayah beranda terdepan negara yang berbatasan langsung dengan Malaysia, ia menilai transformasi digital bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman atau gaya hidup semata.

"Digitalisasi keuangan di perbatasan ini menjadi instrumen penting untuk memperkuat kedaulatan ekonomi sekaligus pemerataan. Jadi manfaatnya bukan hanya untuk transaksi, tetapi juga membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat," ujarnya.

Menurut Asep Dea, inklusi keuangan di kawasan perbatasan kini semakin terasa manfaatnya. Jika dahulu masyarakat harus bepergian ke Sanggau Ledo atau Kota Bengkayang untuk mengakses layanan perbankan, kini berbagai layanan keuangan mulai hadir lebih dekat melalui agen perbankan dan layanan digital.

Meski akses layanan fisik masih banyak terpusat di titik-titik strategis seperti kawasan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Jagoi Babang, Jagoi Take maupun Seluas, kehadiran agen bank di desa-desa penyangga seperti Risau dan Sentangau Jaya mulai mengikis hambatan geografis yang selama ini dihadapi masyarakat.

"Inklusi keuangan di sini bukan lagi sekadar slogan. Ini sudah menjadi kebutuhan nyata untuk mendukung perdagangan lintas batas dan aktivitas ekonomi masyarakat," katanya.

Perubahan tersebut semakin terasa sejak beroperasinya PLBN Jagoi Babang. Pedagang lokal, pelaku UMKM hingga warung-warung kecil mulai mengadopsi transaksi digital melalui QRIS.

Di sisi lain, agen perbankan seperti Agen BRILink menjadi tumpuan masyarakat untuk melakukan berbagai transaksi keuangan, mulai dari transfer, setor tunai, tarik tunai hingga pembayaran berbagai kebutuhan tanpa harus pergi jauh ke kota.

"Agen BRILink ini seperti pahlawan inklusi keuangan di desa. Warga bisa setor hasil panen atau menarik uang kiriman tanpa harus mengeluarkan ongkos perjalanan yang besar," ujar Asep Dea.

Ia menggambarkan potret transaksi masyarakat perbatasan saat ini masih bersifat hibrida, yakni perpaduan antara transaksi tunai dan digital.

Pada sektor pertanian dan perkebunan, transaksi jual beli hasil bumi seperti sawit, lada maupun hasil pertanian lainnya masih banyak dilakukan secara tunai. Sebagian petani masih merasa lebih nyaman menerima pembayaran dalam bentuk uang fisik setelah hasil panen diserahkan.

Di sisi lain, transaksi digital mulai berkembang pesat di sektor ritel, warung sembako, toko pertanian, kalangan generasi muda hingga aparatur sipil negara (ASN).

Kemudahan buat guru

Menurut Asep Dea, digitalisasi juga memberikan kemudahan bagi para guru dan ASN yang bertugas di wilayah perbatasan. Sistem penggajian, pelaporan administrasi hingga berbagai layanan publik kini semakin banyak dilakukan secara digital sehingga lebih efisien dan menghemat waktu.

Penggunaan QRIS pun semakin mudah ditemui di sejumlah warung dan toko di Jagoi Babang maupun Sanggau Ledo.

"Kalau pakai QRIS lebih praktis. Tinggal scan, masukkan PIN, transaksi selesai tanpa perlu repot memikirkan uang kembalian," katanya.

Namun di balik perkembangan tersebut, Asep Dea mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Tantangan terbesar, menurut dia, adalah infrastruktur jaringan telekomunikasi yang belum sepenuhnya stabil di sejumlah wilayah perbatasan.

Di beberapa desa penyangga, kualitas sinyal seluler masih naik turun. Bahkan tidak jarang telepon genggam masyarakat justru menangkap jaringan operator dari Malaysia.

"Ini persoalan klasik tetapi sangat krusial. Keuangan digital sangat bergantung pada internet. Ketika jaringan terganggu, transaksi juga ikut terhambat," ujarnya.

Selain persoalan jaringan, tingkat literasi keuangan digital masyarakat juga masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Sebagian warga, terutama kelompok usia lanjut, masih terbiasa menggunakan uang tunai dan belum sepenuhnya percaya terhadap transaksi digital karena khawatir terhadap risiko penipuan maupun keamanan data.

Tantangan lain yang tidak kalah menarik adalah masih aktifnya penggunaan ringgit Malaysia dalam aktivitas perdagangan tradisional masyarakat perbatasan.

Kedekatan geografis dengan Serikin, Sarawak, membuat perputaran ringgit dan rupiah berlangsung berdampingan dalam sejumlah aktivitas ekonomi masyarakat.

Situasi tersebut menghadirkan tantangan sekaligus pekerjaan rumah bagi berbagai pihak, yakni bagaimana memperkuat kehadiran layanan keuangan nasional agar semakin dekat dengan masyarakat. Sebab, menjaga rupiah tetap berdaulat di perbatasan tidak cukup hanya dengan menyediakan mata uang, tetapi juga memastikan masyarakat memiliki akses yang mudah, cepat, dan aman terhadap layanan keuangan Indonesia.

Karena itu, Asep Dea menilai penguatan layanan keuangan digital dan pembayaran lintas negara menjadi penting untuk memperkuat posisi rupiah di wilayah perbatasan.

Menurut dia, optimalisasi QRIS Cross Border antara Indonesia dan Malaysia dapat menjadi salah satu solusi agar transaksi lintas negara berlangsung lebih mudah, aman dan efisien.

Ia juga berharap penguatan menara BTS serta edukasi keuangan digital berbasis komunitas terus diperluas hingga ke pelosok desa.

"Sosialisasi tidak cukup hanya lewat pamflet. Perlu pendampingan langsung kepada kelompok tani, UMKM, ibu rumah tangga, termasuk melalui sekolah. Guru juga bisa menjadi bagian dari motor literasi digital bagi generasi muda," katanya.

Asep Dea juga menilai peran perbankan, khususnya BRI, cukup strategis dalam menggerakkan ekonomi masyarakat perbatasan.

Melalui jaringan Agen BRILink yang menjangkau desa-desa, akses permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta berbagai layanan digital yang terus dikembangkan, BRI dinilai membantu memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat sekaligus menjaga penggunaan rupiah dalam transaksi sehari-hari.

"Dengan semakin aktifnya layanan perbankan di wilayah perbatasan, penggunaan rupiah semakin kuat. Ini penting agar rupiah tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri," ujarnya.

 


Perkuat inklusi dan literasi keuangan


PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui Kantor Cabang Pembantu (KCP) Bengkayang terus memperkuat inklusi dan literasi keuangan masyarakat hingga wilayah perdesaan dan perbatasan melalui pengembangan layanan branchless banking atau perbankan tanpa kantor.

Pimpinan BRI KCP Bengkayang Vendy Aries Martcahyo mengatakan, strategi tersebut dilakukan untuk memastikan masyarakat dapat mengakses layanan keuangan dengan mudah, cepat, dan aman meskipun berada jauh dari kantor perbankan.

"Pendekatan yang digunakan BRI tidak hanya mengandalkan kantor cabang, tetapi juga kombinasi layanan digital BRImo, AgenBRILink, serta pendekatan lapangan melalui jemput bola petugas bank," kata Vendy saat dihubungi ANTARA di Bengkayang.

Menurut dia, inovasi branchless banking menjadi solusi efektif dalam menjawab tantangan geografis Kabupaten Bengkayang yang memiliki banyak wilayah perdesaan dan kawasan perbatasan dengan jarak tempuh yang cukup jauh menuju pusat layanan perbankan.

Ia menjelaskan Agen BRILink saat ini menjadi salah satu layanan yang paling banyak dimanfaatkan masyarakat karena mampu menghadirkan berbagai layanan transaksi keuangan langsung di tingkat desa.

Melalui Agen BRILink, masyarakat dapat melakukan tarik tunai, setor tunai, transfer, pembayaran tagihan hingga berbagai transaksi keuangan lainnya tanpa harus datang ke kantor bank.

"Layanan ini sangat membantu masyarakat karena akses transaksi keuangan kini dapat dilakukan lebih dekat dari tempat tinggal mereka," ujarnya.

Selain memperluas akses layanan keuangan, BRI juga secara rutin melaksanakan edukasi literasi keuangan kepada pelajar, mahasiswa, pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), hingga masyarakat umum.

Materi yang diberikan meliputi pengelolaan keuangan yang bijak, pemanfaatan layanan digital seperti BRImo dan QRIS, keamanan transaksi digital, serta pemanfaatan produk simpanan dan kredit sesuai kebutuhan masyarakat.

Menurut Vendy, peningkatan literasi keuangan menjadi faktor penting dalam mendorong masyarakat agar mampu memanfaatkan layanan perbankan secara optimal sekaligus terhindar dari berbagai risiko kejahatan digital.

"BRI secara konsisten melakukan edukasi keuangan kepada masyarakat sekaligus memperluas akses layanan perbankan digital guna meningkatkan inklusi keuangan, khususnya di wilayah perdesaan dan perbatasan," katanya.

Ia menambahkan penggunaan aplikasi BRImo dan transaksi digital di Bengkayang terus menunjukkan perkembangan yang positif seiring meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap layanan keuangan berbasis teknologi.

Hingga 17 Mei 2026, jumlah pengguna aktif bulanan atau Monthly Active User (MAU) BRImo di wilayah kerja BRI KCP Bengkayang tercatat mencapai 2.958 pengguna. Sementara volume transaksi finansial melalui BRImo telah melampaui Rp565 juta dengan jumlah transaksi lebih dari 300 ribu transaksi.

Menurut dia, capaian tersebut menunjukkan semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan digital yang menawarkan kemudahan, kecepatan, dan keamanan dalam bertransaksi.

Selain penggunaan BRImo yang terus meningkat, pemanfaatan sistem pembayaran digital melalui QRIS juga semakin meluas di kalangan masyarakat dan pelaku usaha. Hingga Mei 2026, populasi merchant QRIS binaan BRI di wilayah kerja KCP Bengkayang tercatat mencapai 398 merchant.

"Angka tersebut menunjukkan masyarakat semakin terbiasa memanfaatkan layanan digital dalam berbagai aktivitas ekonomi sehari-hari, termasuk pelaku UMKM yang kini semakin banyak menerima pembayaran non tunai," ujarnya.

BRI, lanjut dia, terus mendorong pemanfaatan BRImo dan QRIS sebagai bagian dari upaya mempercepat transformasi digital serta memperluas akses layanan keuangan formal hingga ke wilayah yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses perbankan.

Di sisi lain, BRI juga terus memperkuat pemberdayaan UMKM melalui pendampingan usaha, pelatihan manajemen keuangan, pemasaran digital, pengembangan produk, hingga akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Sektor usaha yang mendapatkan pendampingan cukup beragam, mulai dari kuliner, kerajinan tangan, fesyen, pertanian olahan hingga usaha berbasis digital. BRI juga membuka akses promosi bagi pelaku usaha melalui berbagai program pemberdayaan dan kegiatan pameran untuk meningkatkan daya saing produk lokal.

Menurut Vendy, penguatan literasi keuangan dan akses layanan perbankan memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan UMKM yang menjadi salah satu penggerak utama perekonomian daerah.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bengkayang Esidorus menyatakan dukungannya terhadap pengembangan inovasi digital di sektor perbankan karena dinilai mampu memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam mengakses layanan keuangan.

"Tentu kami mendukung adanya inovasi digital perbankan karena sangat membantu memberikan kemudahan kepada masyarakat pengguna jasa perbankan," katanya.

Menurut Esidorus, layanan digital seperti BRImo dan Agen BRILink telah membantu masyarakat melakukan berbagai transaksi keuangan secara lebih praktis tanpa harus datang langsung ke kantor bank.

Ia menilai kemudahan akses layanan keuangan tersebut juga berdampak positif terhadap aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk pelaku UMKM yang kini semakin banyak memanfaatkan transaksi digital dalam kegiatan usaha mereka.

"Dengan layanan yang semakin mudah, cepat dan aman, kami berharap masyarakat semakin terbantu dalam melakukan aktivitas ekonomi maupun kebutuhan transaksi sehari-hari," katanya. 

Super app BRImo milik PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk meraih penghargaan "Digital Innovation in Business Transformation" dalam ajang Digital Innovation Awards (DIA) 2026 sebagai bentuk pengakuan atas keberhasilan transformasi digital yang dijalankan perseroan.

Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan BRImo terus dikembangkan sebagai platform layanan keuangan terintegrasi yang mampu memenuhi kebutuhan transaksi masyarakat yang semakin digital.

Menurut dia, BRImo menghadirkan berbagai layanan dalam satu aplikasi, mulai dari pembukaan rekening digital, transfer antarbank, pembayaran QRIS, investasi hingga berbagai layanan keuangan lainnya.

Hingga April 2026, BRImo telah digunakan lebih dari 48,43 juta pengguna dengan volume transaksi mencapai Rp2.749,17 triliun dan frekuensi transaksi sebanyak 2,15 miliar transaksi. 

"BRImo terus kami kembangkan agar mampu menghadirkan pengalaman transaksi yang mudah, aman dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Penghargaan ini menjadi motivasi bagi BRI untuk terus memperkuat inovasi layanan dan memperluas inklusi keuangan," kata Dhanny.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Menjaga rupiah tetap berdaulat di perbatasan 

Pewarta: Narwati
Uploader : Admin Antarakalbar

COPYRIGHT © ANTARA 2026