Sangatta, Kaltim (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur terus memupuk ragam budaya nusantara yang dilestarikan warga setempat berasal dari berbagai suku, sebagai upaya mempererat persatuan dan kesatuan di tengah perbedaan, sekaligus menjadi modal pembangunan.
"Beragam seni dan budaya nusantara yang dilestarikan penduduk Kutim di desa-desa maupun kelurahan adalah aset tak ternilai, sekaligus menjadi modal penting dalam membangun daerah," ujar Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman di Sangatta, Senin.
Ia menekankan bahwa keberagaman latar belakang budaya yang tumbuh di Kutim bukanlah pemisah, melainkan kekuatan besar yang menyatukan masyarakat. Bahkan dari perbedaan ini, antara suku yang satu dan lainnya terjadi saling interaksi, saling tukar informasi, hingga saling menghargai.
"Budaya pun tidak terpisahkan dari pembangunan, karena keberadaannya justru menjadi pendorong semangat dan perekat sosial yang membuat tiap komunitas tetap kompak melangkah maju di tengah kemajemukan masyarakat," ujarnya.
Saat menghadiri peringatan Hari Jadi Ke- 26 Paguyuban Margo Kencono di Lapangan Margo Sentoso II, Sangatta Utara, Sabtu (20/6) malam, ia juga mengatakan bahwa Pemkab Kutim akan terus membuka ruang dan memberikan dukungan pegiat seni, peguyuban, lembaga adat, serta tokoh budaya untuk terus berkarya.
Dukungan ini diwujudkan melalui penyelenggaraan berbagai festival budaya serta penguatan kelembagaan adat agar nilai-nilai warisan leluhur tetap terjaga dari generasi ke generasi.
Dengan banyak seni dan budaya tetap tumbuh dan terpelihara di Kutim, baik budaya asli daerah maupun dibawa dari daerah lain di nusantara, ia berharap, hal ini menjadi jembatan persatuan sekaligus mendorong setiap individu maupun kelompok lebih kreatif, mandiri, dan tangguh dalam memajukan daerah.
Ketua Paguyuban Margo Kencono Andi Satyo mengatakan organisasinya dibentuk pada 1998, kemudian resmi didaftarkan ke pemerintah pada 2000 melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kutim.
Selama 26 tahun terakhir ini mereka secara konsisten melestarikan kesenian Reog Ponorogo, sebagai langkah menjaga identitas bangsa dan sebagai upaya menjaga warisan budaya.
Dalam peringatan hari jadi tersebut, kelompok seni budaya ini mengusung tema "Menjaga Tradisi, Menguatkan Identitas Budaya", dengan menyajikan lima kelompok seni reog. Kegiatan yang mendapat sambutan antusias warga tersebut, bukti bahwa seni bernilai universal dan menjadi pemersatu perbedaan.
Pewarta: M.GhofarUploader : Admin Antarakalbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.