Bengkayang, Kalbar (ANTARA) - Menjadi Agen BRILink di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia bukan hanya soal melayani transaksi keuangan. Bagi Usman, pemilik Agen BRILink Trisman Ponsel di Kecamatan Ledo, Kabupaten Bengkayang, pekerjaan itu juga berarti menjaga warga agar tidak menjadi korban penipuan digital yang semakin marak.
Karena itulah, setiap ada warga yang hendak mengirim uang dalam jumlah besar, ia tidak pernah langsung memproses transaksi.
"Untuk siapa uang ini dikirim, Bu?"
Pertanyaan sederhana itu meluncur dari Usman ketika seorang ibu rumah tangga datang ke tokonya. Di tangannya tergenggam secarik kertas berisi nomor rekening tujuan. Ia hendak mentransfer uang sebesar Rp3 juta.
Bagi sebagian orang, transaksi itu mungkin terlihat biasa. Namun bagi Usman, yang telah menjadi Agen BRILink sejak 2020, ada sesuatu yang membuatnya merasa perlu bertanya lebih jauh.
Sang ibu bercerita bahwa dirinya baru saja mendapat kabar memenangkan undian berhadiah. Namun sebelum hadiah dapat dicairkan, ia diminta mengirim sejumlah uang terlebih dahulu untuk biaya administrasi dan pajak.
Mendengar penjelasan tersebut, Usman langsung teringat pada salah satu modus penipuan yang kerap menyasar masyarakat.
Alih-alih langsung memproses transaksi, ia memilih mengajak nasabah itu berbincang sejenak. Ia menjelaskan bahwa hadiah resmi tidak pernah meminta penerima mengirim uang terlebih dahulu. Ia juga memaparkan berbagai ciri penipuan yang sering dilakukan melalui telepon maupun pesan singkat.
Setelah mendengarkan penjelasan itu, sang ibu akhirnya memutuskan membatalkan transfer.
"Saya hanya menjelaskan risikonya. Setelah memahami, beliau memilih tidak melanjutkan transaksi," kata Usman kepada ANTARA, Senin.
Bagi sebagian orang, pembatalan transfer mungkin hanya berarti transaksi yang tidak jadi dilakukan. Namun bagi ibu tersebut, keputusan itu berarti terhindar dari kehilangan uang jutaan rupiah.
Kejadian serupa bukan sekali dua kali ditemui Usman selama melayani masyarakat di Ledo. Dalam enam tahun terakhir, ia tidak hanya membantu warga melakukan transfer, tarik tunai, atau pembayaran tagihan. Ia juga kerap menjadi tempat bertanya ketika masyarakat merasa ragu terhadap transaksi yang akan dilakukan.
Di wilayah yang sebagian masyarakatnya masih memiliki keterbatasan akses informasi dan literasi digital, peran itu menjadi semakin penting.
Menurut Usman, ada tiga modus penipuan yang paling sering ditemui. Pertama, penipuan undian berhadiah yang meminta korban mentransfer uang untuk biaya administrasi atau pajak. Kedua, modus darurat ketika pelaku mengaku sebagai kerabat yang mengalami kecelakaan dan membutuhkan dana segera. Ketiga, investasi bodong yang menjanjikan keuntungan besar dalam waktu singkat.
Modus-modus tersebut memanfaatkan kepanikan, harapan, dan minimnya informasi yang dimiliki korban.
Karena itu, setiap kali menemukan transaksi yang dianggap tidak biasa, Usman memilih untuk tidak terburu-buru memprosesnya.
Ia lebih dulu mengajukan beberapa pertanyaan. Siapa penerima uang tersebut? Apakah nasabah mengenalnya? Mengapa harus segera ditransfer? Apakah pernah bertemu langsung dengan pihak yang meminta uang?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu sering kali menjadi pintu bagi masyarakat untuk berpikir ulang.
"Saya biasanya melakukan konfirmasi terlebih dahulu dan menjelaskan kemungkinan risikonya. Setelah itu keputusan tetap ada di tangan nasabah," ujarnya.
Tidak sedikit warga yang akhirnya membatalkan transaksi setelah memperoleh penjelasan. Sebagian mengaku lega karena terhindar dari potensi penipuan. Bahkan ada yang kemudian menjadikan Agen BRILink sebagai tempat berkonsultasi sebelum melakukan transfer dalam jumlah besar.
Peran tersebut membuat Agen BRILink tidak lagi sekadar menjadi perpanjangan tangan layanan perbankan. Di banyak desa, agen juga menjadi sumber edukasi keuangan yang paling dekat dengan masyarakat.
Usman menyadari perkembangan transaksi digital membawa banyak manfaat. Masyarakat kini lebih mudah melakukan transfer, pembayaran, hingga berbagai transaksi keuangan tanpa harus pergi jauh ke kantor bank.
Namun di balik kemudahan itu, ancaman penipuan juga berkembang semakin beragam terutama yang menyasar pada warga yang tinggal di pedesaan dengan keterbatasan informasi dan edukasi.
Karena itu, edukasi selalu ia selipkan di sela-sela pelayanan. Ia mengingatkan nasabah untuk tidak memberikan PIN, kode OTP, maupun data pribadi kepada siapa pun. Ia juga mengimbau warga agar tidak mudah percaya pada informasi yang meminta transfer uang terlebih dahulu.
Di lokasi usahanya bahkan terpampang sejumlah imbauan bertuliskan "Waspada Penipuan" yang dapat dibaca oleh setiap warga yang datang.
Setiap hari, sekitar 40 hingga 60 transaksi dilakukan di Agen BRILink miliknya. Pada masa pencairan bantuan sosial atau menjelang tanggal gajian, jumlah itu dapat meningkat hingga lebih dari 100 transaksi sehari.
Sejak membuka layanan Agen BRILink pada 2020, Usman memperkirakan telah melayani 50 ribu warga.
Jumlah yang besar itu membuatnya memahami satu hal: tidak semua masyarakat datang hanya membutuhkan layanan transaksi. Sebagian datang membawa keraguan, kebingungan, bahkan rasa panik setelah menerima telepon atau pesan yang mencurigakan.
Pengalaman yang ditemui Usman di lapangan ternyata sejalan dengan pandangan para pengguna layanan BRILink. Kehadiran agen yang tidak sekadar melayani transaksi, tetapi juga aktif mengingatkan masyarakat akan potensi penipuan, dinilai menjadi nilai tambah yang semakin penting di era digital.
Salah satunya dirasakan Okta (42), Agen BRILink Usman Ponsel bukan sekadar tempat melakukan transaksi keuangan. Di tempat itu, ia justru pernah diselamatkan dari kerugian hingga Rp30 juta akibat penipuan online yang nyaris menimpanya baru-baru ini.
Pria yang sudah beberapa kali bertransaksi di Agen BRILink tersebut mengaku hampir saja mentransfer uang untuk membeli sebuah mobil yang ia temukan melalui media online.
Saat itu, ia sudah sangat yakin dengan penawaran yang diterimanya. Harga yang ditawarkan cukup menarik dan komunikasi dengan penjual pun berjalan lancar sehingga ia tidak lagi menaruh rasa curiga.
"Saya sudah percaya dan mau langsung transfer uang muka sekitar Rp30 juta," ujarnya.
Kebetulan, hari itu ia datang ke Agen BRILink Usman Ponsel untuk melakukan transaksi. Namun sebelum transfer dilakukan, pemilik usaha, Usman, beberapa kali mengingatkannya agar lebih berhati-hati.
Usman meminta Okta memastikan terlebih dahulu identitas penjual dan keberadaan mobil yang ditawarkan. Ia juga menjelaskan berbagai modus penipuan online yang marak terjadi dan sering memanfaatkan kelengahan calon pembeli.
Meski awalnya sempat bersikeras untuk tetap mentransfer uang, Okta akhirnya luluh setelah terus diingatkan untuk berpikir lebih tenang dan tidak terburu-buru mengambil keputusan.
"Saya sempat ngotot karena sudah yakin. Tapi Pak Usman terus mengingatkan supaya saya cek lagi dan jangan buru-buru transfer," katanya.
Ia pun memutuskan menunda transaksi tersebut. Keputusan itu ternyata menyelamatkannya dari kerugian besar.
Setelah melakukan pengecekan lebih lanjut, Okta menemukan bahwa penjual yang dihubunginya tidak dapat membuktikan keberadaan kendaraan yang ditawarkan. Berbagai informasi yang diberikan pun tidak dapat diverifikasi dan terindikasi merupakan modus penipuan.
"Dari situ saya bersyukur karena tidak jadi transfer. Kalau tidak diingatkan mungkin uang saya sudah hilang," ujarnya.
Pengalaman itu membuat Okta menyadari bahwa peran Agen BRILink tidak hanya sebatas melayani transaksi keuangan. Kehadiran agen yang peduli dan mau memberikan edukasi kepada masyarakat dapat menjadi benteng pertama dalam mencegah warga menjadi korban kejahatan digital maupun penipuan online.
"Bagi saya, apa yang dilakukan Pak Usman sangat membantu. Tidak hanya melayani transaksi, tetapi juga mengingatkan dan melindungi pelanggan agar tidak menjadi korban penipuan. Kadang masyarakat terlalu percaya dengan apa yang dilihat di internet, padahal belum tentu benar," katanya.
Menurut Okta, kepedulian seperti itu menjadi nilai tambah yang membuat masyarakat merasa lebih aman dan nyaman dalam memanfaatkan layanan keuangan di Agen BRILink.
Sementara bagi Dwi Yudianto (42), anggota Polres Bengkayang yang cukup sering memanfaatkan layanan Agen BRILink untuk berbagai kebutuhan transaksi keuangan, satu hal yang membuatnya merasa nyaman adalah sikap para agen yang teliti dan tidak segan melakukan konfirmasi kepada nasabah, terutama saat transaksi melibatkan nominal yang cukup besar.
"Kadang mereka menanyakan tujuan kita mengirim uang dan melakukan konfirmasi berkali-kali. Apalagi kalau jumlahnya besar. Itu menurut saya bagus karena menunjukkan kehati-hatian," ujarnya.
Meski belum pernah menjadi korban penipuan, Dwi mengaku banyak mendengar kasus serupa yang dialami teman-temannya. Modus yang digunakan para pelaku pun beragam, mulai dari penawaran jual beli mobil, kabar palsu tentang anggota keluarga yang mengalami kecelakaan, hingga pemberitahuan memenangkan undian berhadiah yang berujung pada permintaan transfer sejumlah uang.
Dari pengamatannya, hampir semua korban berada dalam tekanan psikologis karena terus-menerus dihubungi pelaku melalui telepon. Kondisi tersebut membuat korban kehilangan kesempatan untuk berpikir jernih dan melakukan verifikasi atas informasi yang diterimanya.
"Rata-rata korban itu ditelepon terus-menerus oleh pelaku. Hampir tidak lepas dari teleponnya sehingga mereka panik dan akhirnya mengikuti apa yang diminta pelaku," katanya.
Sebagai anggota kepolisian yang kerap menerima laporan masyarakat terkait tindak penipuan, Dwi menilai peran Agen BRILink sangat penting dalam meningkatkan kewaspadaan masyarakat. Kehadiran agen yang aktif melakukan konfirmasi sebelum transaksi berlangsung dapat menjadi lapisan perlindungan tambahan agar nasabah tidak mudah terjebak dalam berbagai modus kejahatan digital.
Sementara belum lama ini rilis dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat Indonesia Anti-Scam Center (IASC) telah menerima sebanyak 548.093 laporan penipuan sejak mulai beroperasi pada 22 November 2024 hingga 29 April 2026.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK Dicky Kartikoyono mengatakan, dari total laporan tersebut sebanyak 268.989 laporan disampaikan korban melalui pelaku usaha sektor keuangan, seperti bank dan penyedia sistem pembayaran, sedangkan 279.104 laporan lainnya disampaikan langsung oleh masyarakat melalui sistem IASC.
Kemudian jumlah rekening yang dilaporkan mencapai 932.138 rekening dan sebanyak 485.758 rekening telah diblokir.
"Total dana korban yang berhasil diblokir mencapai Rp614,3 miliar," ujarnya.
Selain itu, IASC juga menemukan sebanyak 106.477 nomor telepon yang dilaporkan oleh korban penipuan. Hingga saat ini, IASC telah berhasil mengembalikan dana korban sebesar Rp169,3 miliar yang berasal dari rekening di 19 bank yang digunakan pelaku kejahatan penipuan.
Menurut Dicky, tingginya angka laporan penipuan tersebut menunjukkan bahwa kejahatan digital masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat sehingga diperlukan penguatan sistem penanganan yang lebih cepat dan terkoordinasi.
Garda terdepan cegah penipuan
Pandangan tersebut sejalan dengan komitmen BRI yang terus memperkuat peran Agen BRILink tidak hanya sebagai perpanjangan layanan perbankan, tetapi juga sebagai mitra edukasi dan perlindungan masyarakat dari berbagai ancaman penipuan digital.
Pimpinan BRI KCP Bengkayang Vendy Aries Martcahyo menegaskan Agen BRILink merupakan garda terdepan layanan keuangan sekaligus benteng awal dalam mencegah praktik penipuan digital di tengah masyarakat, khususnya di wilayah perdesaan dan perbatasan seperti Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.
Menurut Vendy, Agen BRILink tidak hanya berfungsi sebagai perpanjangan layanan transaksi perbankan, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga keamanan transaksi masyarakat melalui edukasi langsung di lapangan.
"Agen BRILink berperan sebagai garda terdepan BRI di masyarakat, termasuk membantu mencegah penipuan online melalui konfirmasi ulang transaksi yang mencurigakan serta memberikan edukasi langsung kepada nasabah," kata Vendy.
Ia menjelaskan sejumlah modus penipuan yang masih sering ditemukan antara lain berkedok hadiah undian, investasi bodong, pinjaman ilegal, hingga permintaan transfer yang mengatasnamakan instansi tertentu. Karena itu, masyarakat diimbau untuk selalu melakukan verifikasi sebelum melakukan transaksi.
Selain membantu proses transaksi, Agen BRILink juga berperan memperkuat literasi dan keamanan digital masyarakat. Agen secara aktif mengingatkan nasabah agar tidak memberikan PIN, password, maupun kode OTP kepada pihak lain.
"Agen juga mengedukasi masyarakat untuk mengenali tautan atau aplikasi palsu, memahami modus phishing dan social engineering, serta lebih bijak dalam menggunakan layanan digital seperti BRImo," ujarnya.
Vendy menegaskan keberadaan Agen BRILink menjadi sangat penting karena berada paling dekat dengan aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan perbankan formal.
Dengan posisi tersebut, Agen BRILink tidak hanya menjadi titik layanan transaksi, tetapi juga menjadi pusat edukasi dan mitigasi risiko keuangan digital yang langsung bersentuhan dengan masyarakat.
Melalui penguatan peran Agen BRILink, BRI berharap masyarakat semakin terlindungi dari berbagai potensi kejahatan digital sekaligus semakin percaya diri dalam memanfaatkan layanan keuangan digital secara aman, cepat, dan mudah.
Di tengah semakin maraknya kejahatan digital, peran itu membuat Agen BRILink menjadi lebih dari sekadar tempat melakukan transaksi. Kehadirannya menjadi lapisan perlindungan pertama yang membantu masyarakat mengenali risiko, menghindari penipuan, dan bertransaksi dengan lebih aman.
Terancam punah
Keresahan yang dirasakan Wenny juga hidup di benak Fitri Nurjanah, pendiri Finishing Kindau Kreatif sekaligus pengrajin bidai yang tergabung dalam Kelompok Sentra IKM Ton Sowa Jagoi Babang.
Selama enam tahun terakhir, Fitri menekuni kerajinan anyaman rotan yang telah lama menjadi salah satu identitas masyarakat Jagoi Babang. Namun, di tengah tingginya minat pasar terhadap produk anyaman, ia justru melihat ancaman yang semakin nyata.
Fitri juga telah memanfaatkan layanan digital BRI melalui aplikasi BRImo sejak 2024 untuk menunjang aktivitas sehari-hari, terutama dalam mendukung kegiatan usahanya.
Sebelumnya, pada 2021, ia memperoleh pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank BRI sebesar Rp50 juta sebagai tambahan modal usaha. Pembiayaan tersebut menjadi motor akselerasi pengembangan usahanya. Selain akses pembiayaan, Fitri juga mendapatkan pendampingan dan pembinaan UMKM dari BRI yang membantu memperkuat kapasitas usahanya.
Bahan baku yang menjadi nyawa kerajinan itu kini tidak lagi mudah diperoleh.
"Ya benar, sekarang memang bahan baku sudah sulit karena kita tidak pernah menanamnya, sementara rotan terus dipakai untuk menganyam setiap hari," katanya.
Menurut Fitri, kondisi tersebut membuat para pengrajin harus bekerja lebih keras. Jika dulu bahan baku relatif mudah didapat, kini mereka harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memperoleh rotan yang kualitasnya sesuai.
Dampaknya tidak hanya dirasakan pada proses produksi, tetapi juga pada keberlangsungan usaha.
"Kondisi sekarang memang sudah makin berkurang. Pengrajin banyak yang beralih pekerjaan karena mencari penghasilan yang lebih menjanjikan. Kalau bahan baku sulit dan harganya mahal, otomatis produksi menurun dan omset penjualan juga ikut menurun," ujarnya.
Di sisi lain, Fitri mengakui peluang pasar sebenarnya masih terbuka lebar. Produk anyaman Jagoi Babang tetap memiliki peminat, baik dari dalam maupun luar daerah. Sayangnya, kemampuan produksi tidak lagi mampu mengikuti permintaan.
"Kalau potensi permintaan pasar masih tinggi, hanya karena kurangnya pasokan bahan baku dan berkurangnya jumlah pengrajin, membuat produksi tidak sesuai target," katanya.
Hal lain yang membuat Fitri khawatir adalah minimnya regenerasi pengrajin. Menurut dia, semakin sedikit generasi muda yang tertarik meneruskan tradisi menganyam. Selain membutuhkan ketelatenan, profesi sebagai pengrajin dinilai belum mampu memberikan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
"Kalau untuk regenerasi pengrajin, terutama dari generasi muda sangat minim. Kalau pun ada hanya beberapa orang saja. Faktor utamanya karena dari hitungan ekonomi saat ini sudah tidak sesuai lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari," ujarnya.
Bagi Fitri, yang paling menyedihkan bukan sekadar menurunnya pendapatan ataupun semakin sedikitnya jumlah pengrajin. Ia takut suatu saat nanti kerajinan khas Jagoi Babang hanya tersisa sebagai kenangan.
"Yang kita khawatirkan nanti generasi yang akan datang hanya mendengar cerita dan melihat foto kerajinannya saja, sementara barangnya sudah tidak ada lagi," katanya.
Karena itu, ia berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah nyata untuk menjaga keberlanjutan kerajinan anyaman rotan yang selama ini menjadi identitas masyarakat Jagoi Babang.
Menurut Fitri, upaya tersebut dapat dimulai dengan menyelamatkan kawasan hutan yang masih tersisa sebagai kawasan konservasi khusus tanaman rotan, menyediakan bibit rotan bagi masyarakat, serta menyiapkan anggaran yang memadai untuk menjaga dan merawat kawasan tersebut agar tidak beralih fungsi.
"Itu harapan kami. Kami ingin kerajinan ini tetap ada sampai masa-masa yang akan datang," ujarnya.
Bagi Fitri, menjaga kerajinan anyaman bukan sekadar mempertahankan sebuah pekerjaan. Lebih dari itu, menjaga rotan dan menjaga para pengrajin berarti menjaga identitas masyarakat perbatasan agar tidak hilang ditelan perubahan zaman.
Uploader : Admin Antarakalbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.