Bengkayang (ANTARA) - Suara mesin sepeda motor perlahan mereda di halaman Toko Keripik Anen, salah satu pusat oleh-oleh khas di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Seorang perempuan bernama Nur Hikmah melepas helmnya, lalu melangkah masuk ke dalam toko yang dipenuhi aroma gurih keripik yang baru selesai digoreng.
Deretan rak kayu di sisi kanan dan kiri ruangan dipenuhi kemasan berwarna-warni. Ada keripik singkong balado, keripik pisang, keripik keladi, ketela hingga keribang dengan beragam ukuran. Hampir semuanya merupakan hasil olahan pelaku usaha lokal Bengkayang.
Tanpa berkeliling terlalu lama, Nur yang akrab disapa langsung mengambil beberapa bungkus keripik favorit keluarganya. Baginya, mampir ke Keripik Anen sudah menjadi kebiasaannya.
"Rasanya konsisten dari dulu. Kalau ke Bengkayang saya hampir selalu mampir. Sekarang juga lebih praktis karena tinggal bayar pakai QRIS," ujarnya sambil tersenyum.
Di meja kasir, ia tidak lagi membuka dompet. Cukup mengeluarkan telepon genggam, membuka aplikasi BRImo, memilih menu pembayaran QRIS, lalu mengarahkan kamera ke barcode yang berdiri di atas meja.
Beberapa detik kemudian terdengar bunyi notifikasi. "Pembayaran berhasil."
Kasir pun menyerahkan kantong belanja. Transaksi selesai tanpa menghitung lembaran uang ataupun menunggu uang kembalian.
Satu kali pemindaian QRIS memang hanya berlangsung beberapa detik. Namun bagi Keripik Anen, bunyi notifikasi pembayaran itu menandai perubahan yang jauh lebih besar. Digitalisasi tidak sekadar mengubah cara pelanggan bertransaksi, tetapi juga membantu sebuah usaha keluarga mengelola keuangan dengan lebih tertib, memperluas pasar, dan memperkuat fondasi bisnis untuk terus bertumbuh.
Suasana seperti itu kini hampir terjadi setiap hari di Toko Keripik Anen. Digitalisasi pembayaran perlahan mengubah kebiasaan pelanggan sekaligus mengubah cara pelaku usaha mengelola bisnisnya.
Namun, di balik bunyi notifikasi QRIS yang terdengar sederhana, tersimpan perjalanan panjang sebuah usaha keluarga yang terus bertahan menghadapi perubahan zaman, kenaikan biaya produksi, hingga persaingan pasar yang semakin ketat.
Berawal dari dapur rumah
Jauh sebelum memiliki toko yang ramai dikunjungi wisatawan maupun warga lokal, Keripik Anen hanyalah usaha rumahan yang dirintis pada 2008.
Kala itu, seluruh proses produksi dilakukan dari dapur rumah dengan peralatan sederhana. Penjualannya pun masih mengandalkan pesanan tetangga dan promosi dari mulut ke mulut.
Sedikit demi sedikit, kualitas rasa yang terus dijaga membuat produknya semakin dikenal. Permintaan terus bertambah hingga akhirnya usaha keluarga itu berkembang menjadi salah satu sentra oleh-oleh khas Bengkayang.
Kini, Keripik Anen tidak hanya menjual produknya sendiri.
Manager Keripik Anen Yulianti, mengatakan, toko tersebut juga membuka ruang bagi pelaku UMKM lain untuk memasarkan hasil produksinya.
"Setiap ada pertemuan UMKM saya selalu bilang, siapa saja boleh menitipkan produknya di sini. Nanti kita bantu promosikan juga. Barang mereka kami jaga supaya tetap rapi dan kualitasnya tetap bagus," katanya.
Rak-rak di dalam toko menjadi etalase berbagai produk lokal Bengkayang. Menurut Yulianti, suhu ruangan yang terjaga ikut membantu mempertahankan kualitas produk tanpa harus menggunakan bahan pengawet.
"Kami ingin toko ini bukan hanya menjadi tempat menjual Keripik Anen, tetapi juga menjadi rumah bersama bagi produk-produk UMKM Bengkayang," ujarnya.
Saat ini Keripik Anen memproduksi lima jenis keripik berbahan dasar singkong, pisang, keladi, ketela dan keribang yang dikembangkan menjadi 24 varian rasa dengan ukuran kemasan mulai 20 gram hingga satu kilogram.
Seluruh legalitas usaha pun telah dipenuhi, mulai dari Nomor Induk Berusaha (NIB), PIRT, merek dagang hingga sertifikat halal yang kini telah diperpanjang dengan masa berlaku seumur hidup.
Yuli bercerita, perjalanan usaha yang terus berkembang ternyata tidak selalu berjalan mulus. Di balik semakin ramainya pelanggan yang datang, dia justru menghadapi tantangan yang semakin berat.
Permintaan pasar memang meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Saat momentum Natal dan Imlek, seluruh stok keripik bahkan habis diborong pelanggan.
"Pas Natal kemarin toko benar-benar kosong. Satu bungkus pun tidak tersisa. Memang habis semua," katanya sambil tertawa mengenang ramainya pembeli.
Untuk memenuhi permintaan tersebut, kapasitas produksi pun terus ditingkatkan. Dalam satu hari produksi, Keripik Anen mampu mengolah sekitar 100 kilogram bahan baku. Dengan jadwal produksi empat hingga lima hari setiap pekan, total produksi mencapai sekitar dua ton setiap bulan.
Sebagian besar hasil produksi itu langsung dikirim kepada reseller yang tersebar di berbagai daerah. Sisanya disiapkan sebagai stok di toko untuk mengantisipasi pembelian mendadak dalam jumlah besar.
"Kami selalu berusaha menjaga stok. Kadang ada pelanggan yang tiba-tiba datang meminta 50 sampai 150 bungkus sekaligus. Kalau tidak siap stok, peluang itu bisa hilang," kata Yuli.
Namun meningkatnya permintaan ternyata dibarengi dengan lonjakan hampir seluruh biaya produksi. Misalnya harga minyak goreng naik. Harga plastik kemasan ikut melonjak dan bumbu-bumbu mengalami kenaikan. Begitu pula sebagian besar bahan baku.
Kenaikan paling terasa terjadi pada keladi Sarawak. Jika sebelumnya bahan baku tersebut dibeli sekitar Rp10 ribu per kilogram, kini harganya mencapai Rp18 ribu per kilogram.
Ketela kualitas terbaik yang sebelumnya bisa diperoleh sekitar Rp5 ribu per kilogram juga kini menyentuh Rp10 ribu hingga Rp12 ribu per kilogram.
"Kenaikannya memang hampir semua. Minyak naik, plastik naik, bahan baku juga naik. Keuntungan memang jadi lebih kecil," ujarnya.
Meski demikian, kata dia hingga kini Keripik Anen memilih belum menaikkan harga jual produknya. Menurutnya, keputusan tersebut diambil agar pelanggan tetap dapat menikmati produk dengan harga yang terjangkau, meski konsekuensinya margin keuntungan menjadi lebih tipis.
"Yang penting usaha tetap berjalan lancar. Soal keuntungan memang sedikit berkurang, tetapi kami masih mempertimbangkan banyak hal sebelum menaikkan harga," katanya.
Di tengah tekanan biaya produksi itulah, digitalisasi justru memberi ruang bagi usaha untuk bekerja lebih efisien.
Setiap transaksi yang masuk melalui QRIS tercatat otomatis. Arus kas menjadi lebih mudah dipantau. Kesalahan pencatatan dapat diminimalkan. Waktu pelayanan kepada pelanggan pun menjadi lebih singkat.
Perubahan itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi UMKM yang setiap hari melayani puluhan hingga ratusan transaksi, efisiensi sekecil apa pun menjadi bagian penting agar usaha tetap mampu tumbuh di tengah berbagai tantangan.
Di balik setiap bungkus keripik yang tersusun rapi di rak toko, ada rantai ekonomi yang ikut bergerak.
Sebagian besar singkong dan pisang yang menjadi bahan baku utama diperoleh langsung dari petani di Kabupaten Bengkayang. Sementara ketela dipasok dari Sanggau, keribang didatangkan dari Singkawang, sedangkan keladi Sarawak diperoleh dari Pontianak.
"Bahan baku singkong dan pisang dari petani Bengkayang masih aman. Yang kadang sulit didapat justru keladi Sarawak," kata Yuli.
Semakin besar kapasitas produksi, semakin besar pula kebutuhan bahan baku yang harus dipenuhi.
Artinya, pertumbuhan Keripik Anen bukan hanya berdampak pada peningkatan omzet perusahaan, tetapi juga ikut membuka pasar bagi hasil panen petani serta menciptakan lapangan kerja di sektor pengolahan.
Saat ini, sedikitnya lima orang bekerja di bagian produksi untuk mengolah sekitar dua ton bahan baku setiap bulan menjadi berbagai jenis keripik.Semua itu berawal dari hasil bumi yang dipanen masyarakat.
Perjalanan Keripik Anen tidak berhenti di Bengkayang.
Dari toko sederhana itu, produk-produk mereka kini telah menyebar ke berbagai daerah.
Pontianak menjadi wilayah dengan jaringan reseller terbesar. Setelah itu menyusul Singkawang, Sintang, Ngabang hingga sejumlah daerah lain di Kalimantan Barat.
Kemudian permintaan juga datang dari Jakarta, Bogor, Bandung hingga Bali.
"Kami lebih dulu memenuhi pesanan reseller. Setelah itu baru menyiapkan stok di toko," ujar Yuli.
Tak hanya pasar dalam negeri, Keripik Anen juga rutin dibawa reseller ke Malaysia. Dalam sekali perjalanan, reseller dapat membawa sekitar 50 hingga 70 bungkus untuk dipasarkan kembali di negeri jiran. Harga untuk perbungkus mulai dari 18rb hingga 60ribu tergantung ukuran dan varian.
Menurut Yuli, menguatnya nilai tukar ringgit belum memberikan dampak langsung terhadap keuntungan usaha karena sebagian besar transaksi dengan reseller masih dilakukan menggunakan rupiah.
"Kalau reseller yang beli di sini memang masih bayar pakai rupiah. Beda kalau ekspor langsung, tentu pengaruh kurs akan lebih terasa," katanya.
Keripik Anen bahkan sempat menerima permintaan pengiriman ke Taiwan.
Namun rencana itu batal terlaksana setelah biaya pengiriman mencapai lebih dari Rp1 juta untuk satu dus produk.
"Ongkos kirimnya terlalu tinggi. Harga keripiknya sekitar dua ratus ribuan, tapi ongkirnya lebih dari satu juta rupiah. Akhirnya tidak jadi dikirim," ujarnya.
Meski demikian, Yulianti melihat permintaan dari luar negeri sebagai sinyal bahwa produk olahan berbahan baku lokal Bengkayang memiliki peluang untuk menembus pasar yang lebih luas.
QRIS menjadi pintu masuk inklusi keuangan
Di tengah meningkatnya permintaan dan tantangan biaya produksi, digitalisasi pembayaran menjadi salah satu perubahan yang paling dirasakan Keripik Anen.
Jika beberapa tahun lalu sebagian besar pelanggan masih membayar secara tunai, kini kondisinya berbalik.
"Hampir semua pelanggan sekarang menggunakan QRIS. Yang bayar tunai sudah jauh berkurang," kata Yuli.
Bukan hanya pelanggan yang datang ke toko, pembayaran dari pemesan luar daerah pun sebagian besar dilakukan melalui transfer.
Menurut dia, perubahan tersebut tidak hanya mempercepat proses transaksi, tetapi juga membantu usaha mengelola keuangan dengan lebih baik.
Setiap transaksi yang masuk tercatat secara otomatis sehingga lebih mudah dicocokkan dengan laporan rekening.
"Lebih enak dipantau. Tinggal cetak rekening koran, kita bisa lihat transaksi yang masuk pada tanggal berapa dan jumlahnya berapa. Yang penting kami selalu menyimpan bukti transaksi supaya pencatatannya sesuai," ujarnya.
Kemudahan itu membuat usaha tidak lagi terlalu bergantung pada transaksi tunai yang membutuhkan uang kembalian maupun pencatatan manual.
Bagi UMKM yang terus berkembang, pencatatan keuangan yang lebih tertib menjadi modal penting untuk memperkuat tata kelola usaha sekaligus membuka akses yang lebih luas terhadap layanan keuangan formal.
Digitalisasi pun tidak lagi dipandang sekadar mengikuti perkembangan teknologi, melainkan menjadi bagian dari strategi agar usaha mampu bertahan dan terus berkembang.
Pimpinan BRI KCP Bengkayang Vendy Aries mengatakan penggunaan pembayaran digital melalui QRIS di Kabupaten Bengkayang terus mengalami peningkatan seiring semakin banyaknya pelaku usaha yang beralih ke transaksi non-tunai.
Menurut dia, BRI terus memperluas akseptasi QRIS sebagai bagian dari upaya mendorong digitalisasi ekonomi, khususnya di kalangan UMKM. Kehadiran QRIS dinilai mampu memberikan kemudahan bagi pelaku usaha maupun konsumen karena transaksi menjadi lebih cepat, praktis, aman, dan tercatat secara otomatis.
"Hingga 17 Mei 2026, jumlah merchant QRIS binaan BRI KCP Bengkayang telah mencapai 398 merchant. Angka ini terus bertambah seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap transaksi digital," kata Vendy.
Ia menjelaskan, pencatatan transaksi secara digital melalui QRIS juga membantu pelaku UMKM mengelola arus kas dengan lebih tertib. Rekam jejak transaksi yang terdokumentasi menjadi salah satu modal penting bagi pelaku usaha untuk meningkatkan tata kelola bisnis sekaligus memperluas akses terhadap layanan keuangan formal.
Di Bengkayang, perjalanan itu mungkin dimulai dari bunyi notifikasi yang hanya berlangsung beberapa detik. Namun bagi Keripik Anen, setiap bunyi notifikasi adalah penanda bahwa langkah kecil menuju UMKM yang lebih tangguh terus berlanjut, satu transaksi demi satu transaksi.
Pewarta: NarwatiUploader : Admin Antarakalbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.