Pontianak (ANTARA) - Delta Kapuas Project memperkuat kapasitas masyarakat sebagai garda terdepan pencegahan kebakaran hutan dan lahan melalui Pelatihan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla) Fire Crew 1 bagi Satgas Dalkarhutla Kelompok Perhutanan Sosial di Kubu Raya, Kalbar.

"Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam melakukan pencegahan, deteksi dini, hingga penanganan awal kebakaran di kawasan hutan dan lahan yang menjadi wilayah perhutanan sosial," kata Kepala Seksi Penyelenggaraan Pelatihan BP2SDM Wilayah III, Handari Karmelita, di Sungai Raya, Kamis. 

Sebanyak 88 peserta yang terdiri atas 82 laki-laki dan enam perempuan mengikuti pelatihan tersebut. Mereka berasal dari 25 desa wilayah dampingan Delta Kapuas Project di Kabupaten Kubu Raya dan Kabupaten Kayong Utara, yang meliputi anggota Satgas Dalkarhutla Kelompok Perhutanan Sosial, Masyarakat Peduli Api (MPA), tim patroli, serta unsur masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan kawasan hutan. 

Selama sepekan, mulai dari 5 Juli nanti, peserta mendapatkan materi teori dan praktik lapangan yang difasilitasi oleh instruktur dari Balai Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Wilayah III Kementerian Kehutanan, Manggala Agni, serta praktisi pengendalian karhutla.

"Materi yang diberikan mencakup kebijakan pengendalian karhutla, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), pertolongan pertama, teknik deteksi dini, patroli kawasan, penggunaan peralatan pemadaman, hingga simulasi penanganan kebakaran," kata dia.

Handari Karmelita, mengatakan pelatihan Fire Crew 1 bertujuan membentuk masyarakat yang memiliki kompetensi sebagai anggota regu pengendalian kebakaran hutan dan lahan sehingga mampu mendukung upaya pencegahan karhutla di wilayah masing-masing. 

"Tujuan utama pelatihan ini adalah meningkatkan keterampilan, pengetahuan, dan sikap profesional masyarakat sebagai anggota fire crew. Harapannya, peserta memiliki kompetensi yang memadai untuk mendukung upaya pencegahan dan pengendalian karhutla di wilayahnya masing-masing," katanya.

Ia menegaskan masyarakat merupakan pihak yang pertama mengetahui munculnya potensi kebakaran sehingga peningkatan kapasitas menjadi langkah strategis untuk memperkuat sistem peringatan dini dan respons cepat di tingkat desa.

"Kami berharap peserta mampu mengimplementasikan seluruh pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh serta menyebarluaskan ilmu tersebut kepada masyarakat lainnya sehingga kapasitas pencegahan karhutla dapat meningkat secara berkelanjutan," ujarnya.

Handari juga mengapresiasi kolaborasi BP2SDM Wilayah III bersama Delta Kapuas Project melalui SAMPAN Kalimantan, PT Belantara Sejahtera Mandiri, dan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) yang dinilai berhasil menghadirkan penguatan kapasitas masyarakat dalam menjaga kawasan hutan dari ancaman kebakaran.

Sementara itu, Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kubu Raya, Rudi Hartono, mengatakan kawasan perhutanan sosial merupakan wilayah yang memiliki tingkat kerawanan cukup tinggi terhadap kebakaran sehingga perlindungannya membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, pemerintah desa, dan mitra pembangunan.

"Dalam melakukan pendampingan kepada masyarakat, kami selalu mengedepankan kolaborasi dengan berbagai pihak. Pencegahan kebakaran hanya bisa berhasil jika dilakukan secara bersama-sama," katanya.

Di harapkan, pelatihan itu mampu melahirkan kader-kader desa yang aktif melakukan edukasi, patroli, deteksi dini, dan penanganan awal ketika terjadi kebakaran.

Salah seorang peserta, Sintawati, anggota Tim Patroli Tanjung Harapan, mengatakan pelatihan tersebut memberikan bekal penting untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam melindungi kawasan hutan sekaligus menjaga sumber penghidupan warga.

Menurut dia, karhutla tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga dapat menghanguskan lahan yang menjadi sumber mata pencaharian masyarakat. Ia juga menegaskan perempuan memiliki peran yang sama pentingnya dalam upaya perlindungan hutan karena menjaga kelestarian hutan merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

Melalui pelatihan tersebut, Delta Kapuas Project bersama para mitra berharap terbentuk jejaring masyarakat yang lebih tangguh dalam menghadapi ancaman karhutla.

"Penguatan kapasitas di tingkat desa dinilai menjadi kunci untuk mempercepat deteksi dini, meningkatkan efektivitas pencegahan, sekaligus mendukung upaya perlindungan hutan secara berkelanjutan di Kalimantan Barat, terutama menjelang musim kemarau yang identik dengan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan," katanya.

 



Pewarta: Rendra Oxtora
Uploader : Admin Antarakalbar

COPYRIGHT © ANTARA 2026