Pontianak (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kubu Raya bekerja sama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat memeriksa kesehatan para petugas pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) guna menjaga kesehatan dan stamina mereka dalam mengatasi kebakaran itu.

"Kami sangat berterima kasih dengan adanya pemeriksaan kesehatan. Di situ kita bisa tahu kawan-kawan mana yang betul-betul fit atau memang ada yang sakit, sehingga bisa meminimalisir petugas yang sakit turun ke lapangan," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kubu Raya Asfiansyah di Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat, Jumat.

Sebanyak 33 di antara total 46 personel BPBD setempat yang selama beberapa waktu terakhir melakukan penanganan karhutla di daerah setempat mengikuti pemeriksaan kesehatan di kantor BPBD setempat.

Ia mengakui petugas BPBD menghadapi kelelahan fisik dan tekanan psikologis setelah berbulan-bulan terlibat dalam penanganan karhutla.

"Yang pasti yang dialami kawan-kawan pemadaman ini adalah capek, emosi tinggi, kelelahan. Di saat kawan-kawan merasa sudah padam, tiba-tiba muncul lagi di titik lain. Akhirnya emosi kawan-kawan akan lebih tinggi," katanya.

Karhutla sejak Juli hingga Agustus, ujarnya, membuat personel harus bekerja dalam durasi panjang dengan kondisi kebakaran yang sering kembali muncul setelah dinyatakan padam.

Menurut dia, kondisi tersebut juga berpengaruh terhadap psikologis petugas sehingga pemeriksaan kesehatan menjadi penting untuk memastikan personel yang diturunkan ke lapangan dalam kondisi fit.

Ia mengatakan dukungan pelayanan kesehatan bagi petugas perlu diperkuat dengan penyediaan vitamin dan masker, baik untuk personel pemadam maupun masyarakat yang terdampak asap karhutla.

Ia menjelaskan kondisi fisik petugas menjadi faktor penting karena pemadaman karhutla membutuhkan tenaga besar dan dilakukan berulang kali ketika titik api kembali muncul.

“Percuma kalau kami dalam keadaan sakit. Kerja tidak akan maksimal,” ujarnya.

Untuk mengurangi beban personel, BPBD Kubu Raya menggandeng berbagai unsur, seperti Masyarakat Peduli Api (MPA) dan pemadam kebakaran swasta. 

Pihaknya melakukan pembagian personel untuk menangani lokasi-lokasi kebakaran agar beban pemadaman tidak hanya ditanggung BPBD.

“Kami BPBD tidak akan mampu jika bergerak sendiri. Makanya kami berkolaborasi dengan relawan, seperti MPA dan damkar swasta. Kami berbagi titik,” katanya.

BPBD setempat saat ini memiliki 46 personel, setelah satu pegawai pensiun pada awal Agustus dan seorang lainnya meninggal dunia pada Juli. 

Ia mengakui tidak seluruh personel dapat diterjunkan untuk pemadaman karena sebagian bertugas menangani logistik dan tugas lainnya.

Selain persoalan kesehatan, ia berharap, kebijakan khusus terkait administrasi kepegawaian, terutama presensi bagi petugas yang bekerja di lapangan hingga di luar jam kerja.

“Di saat kita mau harus absen, kawan-kawan di lapangan kadang lupa. Kami berharap ada kolaborasi dengan BKPSDM (Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia), mungkin dengan kebijakan pimpinan berbicara antar-pimpinan,” katanya.

Ia menilai dukungan anggaran juga perlu diperkuat karena penanganan karhutla berlangsung tidak menentu dan dapat kembali terjadi setelah operasi pemadaman selesai.

Pihaknya selama ini mendapat dukungan melalui alokasi belanja tidak terduga (BTT), tetapi kebutuhan penanganan bencana dapat melampaui perencanaan karena waktu dan intensitas kejadian sulit diprediksi.

“Di saat bencana selesai hari ini, ternyata besok lagi ada. Yang seharusnya kawan-kawan sudah pulang, kalau dibandingkan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) lain jam empat sudah pulang, tetapi kawan-kawan belum pulang,” katanya.

Ia berharap, dukungan layanan kesehatan, anggaran, dan kebijakan bagi petugas lapangan dapat terus diperkuat agar penanganan karhutla berjalan optimal, dengan tetap memperhatikan keselamatan, dan kondisi personel.


 

Pewarta: Rendra Oxtora
Editor : Andilala

COPYRIGHT © ANTARA 2026