Jakarta (ANTARA) - Indonesia sedang menyusun kepingan besar menuju kemandirian ekonomi. Bak menenun kain dari benang-benang terbaik, arah pembangunan ini tak sekadar mengejar deretan angka pertumbuhan, melainkan menghadirkan laju ekonomi yang membawa manfaat nyata dan inklusif.

 

Target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029 bukan sekadar ambisi statistik, melainkan pijakan menuju masyarakat sejahtera dengan industri sebagai lokomotif utamanya.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan komitmennya untuk mempercepat industrialisasi sebagai instrumen utama menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, memperkuat kemandirian nasional, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Langkah strategis ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2026 di Jakarta, Jumat (14/8).

Presiden menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi dan investasi yang masuk tidak boleh berhenti pada pencapaian angka, tetapi harus memberikan dampak nyata bagi seluruh lapisan masyarakat.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menilai pesan ini sebagai katalis penguat tekad untuk menjalankan industrialisasi yang lebih inklusif dan memberikan nilai tambah sebesar-besarnya di Tanah Air.

Di tengah ketidakpastian global, Indonesia tidak boleh terlalu bergantung kepada negara lain dalam memenuhi kebutuhan strategis nasional. Dengan kata lain, kekuatan industri harus dibangun melalui struktur yang semakin dalam dan terintegrasi, mulai dari sektor hulu hingga hilir.

Upaya memperkuat fondasi industri sudah menunjukkan hasil. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan nonmigas pada triwulan II 2026 tumbuh mencapai 5,32 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Angka itu berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional di periode yang sama yang sebesar 5,29 persen.

Selain tumbuh lebih tinggi dibandingkan ekonomi nasional, industri pengolahan tetap menjadi sektor dengan kontribusi terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB), yakni 18,50 persen, sekaligus menjadi penyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar dengan kontribusi mencapai 0,90 persen.

Manufacturing Value Added (MVA) Indonesia juga kini menempati peringkat ke-12 dunia pada Juli 2025, dengan nilai mencapai 275,61 miliar dolar AS, yang mengukuhkan posisi pertama di Asia Tenggara (ASEAN).

 

Optimisme terhadap manufaktur juga tercermin dari berbagai indikator aktivitas industri.

Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur (IKBM) berada pada level 52,31 yang menunjukkan kondisi ekspansi.

Sementara itu, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Juli 2026 mencapai level 50,2 dan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juli 2026 berada di angka 53,10.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa manufaktur tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga tumbuh lebih cepat, yang memperkuat perannya sebagai mesin penggerak ekonomi.

Untuk memastikan pembangunan industri berjalan lebih terarah, pemerintah menerjemahkan visi tersebut melalui Strategi Besar Industrialisasi Nasional (SBIN).

Strategi ini menjadi kompas dalam memperkuat struktur industri dalam negeri, mempercepat hilirisasi, meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, serta menciptakan lapangan kerja berkualitas.

SBIN menegaskan bahwa industrialisasi bukan semata tentang membangun gedung pabrik atau meningkatkan kapasitas produksi.

SBIN menegaskan bahwa industrialisasi bukan semata tentang membangun pabrik atau meningkatkan kapasitas produksi. Lebih dari itu, strategi baru ini mendorong industrialisasi untuk menciptakan ekosistem ekonomi berdampak luas.

Saat sebuah industri berkembang, manfaatnya tak berhenti di perusahaan besar semata. Pertumbuhan tersebut turut membuka peluang bagi tenaga kerja, pemasok bahan baku, Industri Kecil Menengah (IKM), sektor logistik, hingga pengembangan teknologi. Singkatnya, satu industri yang tumbuh mampu menjadi penggerak bagi beragam sektor di sekitarnya.

 

 

Hilirisasi jadi kunci

Salah satu pilar penting dalam membangun kemandirian ekonomi adalah percepatan hilirisasi sumber daya alam yang terhubung dengan industri.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menyampaikan bahwa struktur ekspor Indonesia perlu beralih dari komoditas mentah ke produk bernilai tambah industri demi memacu pertumbuhan eksponensial.

Komitmen inilah yang terus didorong pemerintah melalui program hilirisasi. Berbagai proyek strategis pun dikembangkan, mulai dari pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether (DME), hilirisasi tembaga dan emas, pembuatan garam industri, pengolahan alumina menjadi aluminium, hingga nikel menjadi sel baterai.

Ke depan, hilirisasi dituntut bergerak lebih jauh untuk menghasilkan produk akhir bernilai tinggi. Sebab, semakin panjang rantai nilai industri yang dibangun di dalam negeri, semakin besar pula manfaat ekonomi yang bertahan di Indonesia.

Sebagai contoh, pengolahan bijih nikel (nickel ore) menjadi nikel sulfat mampu meningkatkan nilai jual hingga 11,4 kali lipat. Angka ini melonjak jadi 37,5 kali lipat saat diolah menjadi katoda, dan mencapai 67,7 kali lipat ketika menjadi sel baterai.

Langkah nyata kemajuan industri ini terlihat saat Presiden meluncurkan Motor Listrik Nasional (Molinas) beserta ekosistem pendukungnya di fasilitas produksi ALVA, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8).

​Peresmian tersebut menjadi bukti kapabilitas Indonesia dalam mengembangkan dan memproduksi teknologi secara mandiri. Momentum ini sekaligus menjadi katalisator untuk mempercepat kemandirian ekonomi melalui pendalaman struktur industri nasional.

Selain itu, upaya mendorong industri menghasilkan produk bernilai tambah diyakini tidak hanya akan memperkuat struktur ekonomi nasional, tetapi juga membuka peluang penciptaan lapangan kerja yang lebih luas.

Target investasi yang mencapai Rp13.000 triliun hingga 2029 tak boleh dipandang sebatas aliran modal. Angka ini harus menjadi mesin transformasi industri melalui transfer teknologi, penguatan rantai pasok dalam negeri, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga penciptaan kesempatan kerja baru.

Pesan Presiden mengenai kemandirian ekonomi mempertegas bahwa Indonesia harus mampu berdiri di atas kaki sendiri, dan salah satu fondasi utamanya adalah sektor industri yang selama ini menjadi penopang PDB.

Meski tantangan global terus berubah, arah bangsa kini semakin jelas, bahwa Indonesia tidak boleh sekadar menjadi pasar yang besar, melainkan harus mampu memproduksi, berinovasi, dan bersaing sebagai pemain utama di panggung dunia.

 

 


 



Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor : Andilala

COPYRIGHT © ANTARA 2026