Bengkayang (ANTARA) - Perum Bulog Wilayah Kalimantan Barat mempercepat penyerapan jagung pipilan kering dari petani di sejumlah sentra produksi, terutama Kabupaten Bengkayang, untuk mengoptimalkan potensi panen sekaligus mengejar target penyerapan jagung pemerintah tahun 2026.

Kepala Perum Bulog Wilayah Kalimantan Barat Rasiwan mengatakan, Bengkayang menjadi daerah prioritas karena memiliki potensi produksi jagung terbesar di Kalimantan Barat pada periode Agustus-Oktober 2026.

"Bulog Kalimantan Barat sudah memetakan kabupaten-kabupaten yang memiliki potensi panen jagung terbesar. Potensi terbesar ada di Kabupaten Bengkayang," kata Rasiwan di Bengkayang, Sabtu.

Ia mengatakan berdasarkan pemetaan dan data pemerintah daerah, potensi produksi jagung Kalimantan Barat pada periode Agustus-Oktober 2026 diperkirakan sekitar 17.000 ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 14.000 ton di antaranya berasal dari Kabupaten Bengkayang.

"Makanya saya ambil alih, saya putuskan untuk evaluasi jagungnya di Bengkayang. Karena kalau kita melihat potensinya, sangat cukup untuk mengejar target," ujarnya.

Menurut Rasiwan, potensi produksi yang besar tersebut menjadi peluang untuk meningkatkan penyerapan Bulog, terutama pada triwulan III 2026. Karena itu, koordinasi antara Bulog, pemerintah daerah, kepolisian dan pemangku kepentingan terkait perlu diperkuat agar hasil panen petani dapat terserap secara maksimal.

"Ini menjadi tugas kita bersama antara pemerintah daerah provinsi dan Polri untuk sama-sama mengawal dan menyerap semaksimal mungkin jagung pipilan kering pada periode triwulan ketiga," katanya.

Rasiwan mengatakan target penyerapan jagung Kalimantan Barat tahun 2026 mencapai sekitar 16.400 ton. Target tersebut sekitar tiga kali lipat dibandingkan target pada tahun sebelumnya sehingga menjadi tantangan bagi Bulog dan seluruh pemangku kepentingan.

Ia menilai target tersebut masih realistis jika melihat potensi produksi jagung yang tersedia. Bahkan, potensi produksi selama tiga bulan pada periode Agustus-Oktober diperkirakan mencapai sekitar 17.000 ton atau lebih tinggi dari target penyerapan Kalbar sepanjang tahun.

"Kita punya mimpi bagaimana bisa mengejar target jagung ini. Walaupun target jagung ini dari tahun sebelumnya tiga kali lipat. Secara nasional targetnya satu juta ton dan Kalbar kebagian sekitar 16.400 ton. Ini sangat menantang, tetapi kita anggap sebagai tantangan," ujarnya.

Hingga saat ini, realisasi penyerapan jagung Bulog Kalbar pada 2026 telah mencapai sekitar 1.500 ton. Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan penyerapan pada periode yang sama pada 2025 dan akan terus ditingkatkan seiring masuknya periode panen.

Ia menekankan percepatan penyerapan penting untuk memberikan kepastian pasar kepada petani, khususnya ketika produksi meningkat pada musim panen. Dengan demikian, hasil panen tidak hanya terserap, tetapi juga mendukung ketersediaan cadangan jagung pemerintah.

Rasiwan mengatakan evaluasi penyerapan jagung dilakukan dengan menggunakan data produksi daerah sebagai salah satu dasar dalam menentukan strategi. Data tersebut akan terus diperbarui dan disempurnakan agar perencanaan penyerapan lebih sesuai dengan kondisi produksi di lapangan.

"Kita melihat dan menganalisa tentu berdasarkan data pemerintah daerah. Data ini memang harus dijadikan patokan, tetapi terus kita perbaiki," katanya.

Terkait kondisi musim kemarau yang berlangsung saat ini, Rasiwan menilai hal tersebut tidak menjadi hambatan utama bagi pengembangan tanaman jagung. Menurut dia, jagung relatif sesuai dibudidayakan pada kondisi yang tidak terlalu banyak air sehingga periode kering masih dapat mendukung penanaman dan produksi komoditas tersebut.

Dia berharap potensi produksi jagung di Bengkayang dan daerah sentra lainnya dapat dimanfaatkan secara optimal.



Pewarta: Narwati
Editor : Andilala

COPYRIGHT © ANTARA 2026