Pontianak (ANTARA) - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan mulai mengganggu pelayaran di perairan Sintete, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, dengan jarak pandang hanya 1-2 mil laut.

"Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan berdampak, jarak pandang terbatas sudah dirasakan di dunia pelayaran. Saat ini jarak pandang antara 1 sampai 2 mil laut," kata staf Keselamatan Pelayaran KSOP Kelas IV Sintete, Faisal di Sambas, Minggu.

Faisal mengatakan sejumlah nakhoda telah melaporkan kondisi jarak pandang terbatas akibat kabut asap yang cukup tebal.

Menurut dia, kondisi tersebut meningkatkan risiko keselamatan bagi kapal yang keluar masuk melalui jalur pelayaran Sintete, terutama potensi tubrukan akibat keterbatasan pandangan terhadap kapal lain.

Untuk mengantisipasi kecelakaan, KSOP Sintete mengimbau nakhoda meningkatkan pengamatan dari anjungan dan memaksimalkan penggunaan seluruh perangkat navigasi selama berada di perairan dengan jarak pandang terbatas.

Pengamatan dilakukan dengan memadukan pandangan visual menggunakan binokular serta pemantauan radar dan Automatic Identification System (AIS) secara terus-menerus.

"Kami sudah sampaikan imbauan untuk melaksanakan lookout atau pengamatan secara maksimal guna menjamin keselamatan pelayaran sesuai dengan peraturan internasional pencegahan tubrukan di laut," ujarnya.

Faisal juga meminta nakhoda menggunakan jalur pelayaran yang telah tersimpan pada GPS serta menjaga jarak dan kecepatan aman ketika memasuki alur pelayaran.

Kapal juga diminta menyalakan lampu navigasi meskipun pada siang hari dan membunyikan isyarat suling saat melintas untuk memberi peringatan kepada kapal-kapal kecil, termasuk perahu nelayan.

Selain keselamatan pelayaran, KSOP mengingatkan penumpang dan masyarakat di kawasan pelabuhan menggunakan masker untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan kabut asap.

Pengelola lokasi wisata Teluk Atong Bahari, Atong juga mnegatakan dalam beberapa pekan terakhir asap mengganggu aktivitas wisatawan di kawasan wisatanya.

"Wisatawan yang datang ke sini, umumnya mengharapkan pemandangan bagus, terutama saat sunset karena itu menjadi daya tarik utama di lokasi wisata ini. Namun, karena asap, mengakibatkan sunset tidak bisa dilihat dan pemandangan juga tidak sebagus saat hari cerah," tuturnya.

Salah satu wisatawan asal Pontianak, Dian Apriyani mengaku kecewa atas kondisi asap karhutla yang merambah kawasan wisata Temajuk karena tidak bisa menikmati keindahan lokasi wisata tersebut.

"Jauh-jauh datang ke sini dari Pontianak, tapi asap mengakibatkan keindahan pantai ini tertutup. Semoga saja asap ini bisa segera selesai," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sambas Hendy Wijaya mengimbau nelayan meningkatkan kewaspadaan menyusul potensi cuaca ekstrem di wilayah pesisir.

Imbauan tersebut disampaikan berdasarkan informasi BMKG mengenai potensi gelombang tinggi, angin kencang, serta hujan berintensitas sedang hingga lebat di perairan Kalimantan Barat, termasuk Kabupaten Sambas.

Hendy meminta nelayan memastikan perlengkapan keselamatan seperti pelampung, alat komunikasi, dan lampu isyarat tersedia sebelum melaut. Dinas PPKH juga terus berkoordinasi dengan BMKG, BPBD, dan instansi terkait untuk memantau kondisi cuaca serta mengantisipasi keadaan darurat di laut.



Pewarta: Rendra Oxtora
Editor : Andilala

COPYRIGHT © ANTARA 2026