Pontianak (ANTARA) - Hamparan laut Kayong Utara, Kalimantan Barat, terbentang luas ketika perlahan meninggalkan daratan pada tanggal 5 Mei 2026 lalu. Di atas kapal perang itu, bukan hanya prajurit yang berlayar, tetapi juga membawa lembaran-lembaran Rupiah menuju pulau-pulau yang jauh dari pusat aktivitas ekonomi.
Perjalanan tersebut menjadi bagian dari Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2026, sebuah misi untuk memastikan ketersediaan uang Rupiah layak edar sekaligus memperkuat kedaulatan mata uang nasional hingga wilayah terdepan, terluar, dan terpencil.
Kapal bergerak menuju sejumlah pulau di Kalimantan Barat, mulai dari Pulau Pelapis, Pulau Maya, Pulau Cempedak, Pulau Padang Tikar hingga Pulau Karimata.
Bagi masyarakat di kota, memperoleh uang tunai bukan perkara sulit. ATM, bank, agen layanan keuangan, hingga berbagai sistem pembayaran digital dapat ditemui dengan mudah.
Namun, cerita berbeda terjadi di pulau-pulau yang menjadi tujuan ekspedisi.
Jarak yang jauh, kondisi geografis kepulauan dan terbatasnya sarana transportasi membuat distribusi uang Rupiah membutuhkan perjalanan yang tidak sederhana. Untuk sampai ke tangan masyarakat, Rupiah harus terlebih dahulu menyeberangi laut dan di situlah ERB menemukan maknanya.
Dalam ekspedisi yang berlangsung pada Mei 2026 tersebut, Bank Indonesia menyiapkan Rp15,6 miliar untuk didistribusikan ke lima wilayah tujuan, yakni Pulau Karimata, Pulau Maya, Pulau Cempedak, Pulau Pelapis dan Pulau Padang Tikar.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky Perdana Gozali mengatakan nilai distribusi tersebut meningkat sekitar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan itu sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan masyarakat di wilayah tujuan.
Jika dikumpulkan di satu tempat, Rp15,6 miliar tentu terlihat sebagai angka yang besar. Namun, ketika dibawa melewati laut dan disebarkan ke masyarakat di pulau-pulau tujuan, uang tersebut berubah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
Rupiah akan berpindah dari tangan ke tangan. Dari pedagang kepada pembeli, dari pelaku usaha kepada pemasok, dari orang tua untuk memenuhi kebutuhan anak, hingga menjadi modal bagi masyarakat untuk menjalankan usaha.
Dengan demikian, distribusi Rupiah bukan sekadar memastikan ketersediaan uang tunai. Di baliknya terdapat upaya menjaga agar roda ekonomi masyarakat di wilayah kepulauan tetap bergerak.
Rupiah dan Kehadiran Negara
Ketika rombongan ERB tiba di Pulau Pelapis, suasana yang sebelumnya didominasi perjalanan laut berubah menjadi lebih hangat. Masyarakat dan para pelajar menyambut kedatangan tim ekspedisi dengan antusias.
Di hadapan para pelajar, Rupiah tidak hanya diperkenalkan sebagai alat pembayaran. Uang yang selama ini mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari diperkenalkan sebagai bagian dari identitas dan kedaulatan bangsa.
Pesan tentang Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah disampaikan melalui interaksi langsung dengan masyarakat.
Setiap lembar Rupiah membawa cerita tentang Indonesia. Ada gambar pahlawan nasional, kekayaan alam, flora, fauna, hingga berbagai simbol yang merepresentasikan keberagaman Nusantara.
Karena itu, mencintai Rupiah tidak hanya diwujudkan dengan menggunakannya sebagai alat transaksi, tetapi juga dengan menjaganya tetap dalam kondisi baik.
Masyarakat diajak menerapkan gerakan 5J, yakni jangan dilipat, jangan dicoret, jangan diremas, jangan distaples dan jangan dibasahi.
Pesan tersebut terlihat sederhana, tetapi memiliki arti penting bagi keberlangsungan uang Rupiah sebagai alat pembayaran yang layak digunakan masyarakat.
Komandan Kodaeral XII Laksamana Muda TNI Sawa mengatakan sinergi antara Bank Indonesia dan TNI Angkatan Laut dalam ERB menjadi salah satu bentuk nyata kehadiran negara di wilayah terpencil.
"Di dalam perjalanan tersebut terdapat misi yang lebih besar daripada sekadar distribusi uang, yaitu membuktikan bahwa Negara Hadir meski di daerah terpencil," kata Sawa.
Kerja sama tersebut membuat tugas distribusi Rupiah dapat menjangkau wilayah yang secara geografis sulit ditempuh melalui jalur biasa. Bank Indonesia menjalankan fungsi pengelolaan Rupiah, sedangkan TNI Angkatan Laut mendukung mobilitas dan pengamanan selama perjalanan.
Mengenalkan Rupiah dari Hal Sederhana
Bagi Tim Pengelolaan Uang Rupiah Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Barat M. Fatra Apriadi, mengenalkan Rupiah kepada masyarakat dapat dimulai dari hal-hal sederhana.
Warna, gambar, nominal hingga unsur pengaman pada uang dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk lebih mengenal mata uang nasional.
Di hadapan masyarakat Pulau Pelapis, Fatra menjelaskan bahwa perjalanan selembar uang Rupiah sebenarnya cukup panjang sebelum akhirnya berada di tangan masyarakat.
Prosesnya dimulai dari perencanaan kebutuhan nominal dan bahan uang, kemudian penentuan jumlah oleh Kementerian Keuangan. Setelah itu, uang dicetak Perum Peruri sebelum diedarkan kepada masyarakat.
Bank Indonesia kemudian mengelola peredarannya, termasuk menarik dan memusnahkan uang yang sudah tidak layak edar.
Artinya, selembar uang yang digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari merupakan bagian dari sebuah sistem pengelolaan yang panjang.
Untuk wilayah kepulauan seperti Kalimantan Barat, sistem tersebut memiliki tantangan tambahan karena uang harus didistribusikan melewati jarak dan kondisi geografis yang tidak mudah.
Fatra juga mengingatkan masyarakat agar tidak menyimpan uang kertas di tempat lembap atau tersembunyi dalam waktu lama. Kebiasaan menyimpan uang di bawah bantal atau di dalam lemari, misalnya, dapat membuat uang cepat rusak bahkan berisiko terkena rayap.
Pesan-pesan sederhana itu menjadi bagian dari edukasi agar masyarakat tidak hanya menggunakan Rupiah, tetapi juga ikut menjaga kualitasnya.
Sebab, menjaga Rupiah bukan semata tugas lembaga yang mengelolanya. Masyarakat sebagai pengguna juga memiliki peran.
Dari petugas distribusi, Rupiah berpindah kepada pedagang, nelayan, pelaku usaha, orang tua, pelajar dan masyarakat lainnya. Setiap perpindahan tersebut menggambarkan aktivitas ekonomi sekaligus kehidupan masyarakat.
Rupiah Menembus Laut
ERB 2026 pada akhirnya bukan sekadar perjalanan membawa uang dari satu tempat ke tempat lain. Ada kapal yang harus bergerak menembus perairan, ada petugas yang membawa uang dengan pengamanan ketat, dan ada masyarakat di pulau tujuan yang menunggu layanan tersebut.
Semua itu dilakukan agar Rupiah tidak berhenti di pusat-pusat ekonomi, tetapi benar-benar hadir hingga wilayah yang dipisahkan laut dari pusat pemerintahan dan perdagangan.
Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan menilai kehadiran Rupiah di wilayah perbatasan dan terpencil merupakan bagian penting dari kehadiran negara.
"Rupiah adalah simbol kedaulatan bangsa. Kehadirannya harus dirasakan oleh seluruh masyarakat tanpa terkecuali, termasuk di wilayah perbatasan dan terpencil," katanya.
Kalimantan Barat dengan wilayah pesisir, kepulauan dan perbatasan memiliki tantangan tersendiri dalam pemerataan layanan. Distribusi Rupiah menjadi salah satu pekerjaan yang mungkin tidak selalu terlihat, tetapi memiliki arti penting bagi keberlangsungan ekonomi masyarakat.
Sebab, ketika sebuah kapal membawa Rupiah menyeberangi laut menuju pulau yang jauh, yang sebenarnya sedang dibawa bukan hanya uang.
Ada pesan bahwa sejauh apa pun jarak sebuah wilayah dari pusat ekonomi, masyarakatnya tetap berada dalam satu sistem keuangan nasional.
Dan ketika lembar Rupiah akhirnya berpindah dari tangan petugas kepada masyarakat di pulau tujuan, di situlah perjalanan panjang tersebut menemukan maknanya: memastikan kedaulatan Rupiah tetap hadir hingga batas terluar negeri.
Pewarta: Rendra OxtoraEditor : Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.