Pontianak (ANTARA) - Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Kalimantan Barat (Karantina Kalbar) menemukan sejumlah Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) pada tanaman padi dan daun bawang, hasil surveilans di 14 kabupaten/kota yang dapat mengancam ketahanan pangan di provinsi itu.
"Data dari pemantauan ini menjadi fondasi utama dalam menyusun regulasi di tingkat pusat guna menunjang tugas pokok dan fungsi karantina," kata Kepala Karantina Kalimantan Barat Ferdi di Pontianak, Kamis.
Ferdi mengatakan pemantauan diperlukan untuk memvalidasi data terkini mengenai sebaran dan status OPTK di seluruh wilayah Kalbar.
Menurut dia, temuan OPTK memiliki dua sisi. Di satu sisi, temuan menunjukkan sistem pemantauan berjalan efektif, namun di sisi lain menjadi peringatan adanya kemungkinan kelolosan atau masuknya OPTK ke wilayah Kalbar.
Risiko tersebut, kata dia, diukur melalui analisis kemampuan hama untuk masuk, menetap, dan menyebar sehingga koordinasi antarpihak diperlukan untuk menjaga keanekaragaman hayati Kalbar.
Sementara itu, Kepala UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalbar Suyatno mengatakan perubahan iklim menjadi salah satu tantangan bagi sektor pertanian, terutama melalui perubahan pola musim yang berpotensi meningkatkan risiko gangguan tanaman.
“Sifat musim kemarau tahun 2026 ini diprediksi berada di bawah normal, dengan durasi yang lebih panjang tiga dasarian dari kondisi biasanya. Artinya, kemarau tahun ini berlangsung jauh lebih lama,” jelas Suyatno.
Dalam pemantauan yang melibatkan 42 personel pada Juni hingga September 2026, tim surveilans menemukan beberapa OPTK pada tanaman padi dan daun bawang dari golongan nematoda.
Guru Besar Entomologi Universitas Tanjungpura Edy Syahputra mengatakan nematoda parasit tumbuhan dapat merusak struktur sel dan mengganggu fisiologi tanaman hingga menimbulkan kerugian ekonomi.
“Karena hama ini sudah ditemukan di Kalbar, berarti mereka mampu hidup di sini. Sekarang tinggal menunggu waktu saja bagi mereka untuk berkembang biak lebih banyak jika kondisi lingkungan mendukung,” kata Edy.
Ia menyebut kondisi suhu dan kelembapan di Kalbar saat ini mendukung ekologi nematoda sehingga hasil surveilans perlu ditindaklanjuti dengan analisis risiko dan pemantauan berkelanjutan.
Pewarta: Rendra OxtoraEditor : Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.