Sail Nias 2019, momentum kebangkitan pariwisata Nias

Sail Nias 2019, momentum kebangkitan pariwisata Nias

Peselancar dunia sedang menjajal ombak di Pantai Sorake Nias Selatan (Antara Sumut/Septianda)

Nias Selatan (ANTARA) - Sail Nias 2019 merupakan rangkaian Sail Indonesia yang merupakan turnamen reli yacht tahunan ke-11, yang digelar pemerintah Indonesia sejak 2009 silam. Meski telah dikenal dunia sebagai titik selancar nomor dua setelah Hawaii, Nias diharapkan akan lebih banyak dikenal dan dikunjungi wisatawan setelah perhelatan tersebut.

Selain acara puncak pada 14 September 2019, rangkaian kegiatan Sail Nias telah dimulai Mei lalu dengan "yacht rally". Selain itu, ada festival lompat batu sekepulauan Nias, parade kapal nelayan tradisional, gebyar kopi, hingga lomba voli pantai.

Juga ada kejuaraan Nias Pro International Surfing dengan menghadirkan peselancar-peselancar kelas dunia dari sejumlah negara sejak 10 hingga 15 September di Pantai Sorake, Nias Selatan.

Surfing tersebut diikuti 126 peserta, masing-masing laki-laki sebanyak 102 orang dan wanita 24 orang yang berasal dari 15 negara yakni Amerika Serikat, Australia, Portugal, Jepang, Venezuela, Perancis, Afrika Selatan, Argentina, Chile, Brazil, Spanyol, New Zealand, Peru, dan Indonesia.

Para peserta surfing dibagi dalam dua bagian yakni untuk Man Qualifying Series (QS) 3000 dan Women pada Qualifying Series (QS) 1000.

Nias Pro Internasional Surfing yang merupakan bagian dari acara Sail Nias 2019 di Pantai Sorake akan memperebutkan total hadiah 75 ribu dolar AS.

Banyaknya peserta mancanegara yang mengikuti kejuaraan surfing tersebut tentunya menjadi nilai tambah bagi Indonesia di mata internasional, apalagi para peselancar tersebut tentunya bisa menjadi media promosi akan keindahan dan potensi bahari yang ada di Nias Selatan.

Rosanny Alvarez, peselancar putri asal Venezuela mengaku penasaran dengan "keganasan" ombak di Pantai Sorake, yang memang jauh-jauh hari sudah didengarnya dari sesama peselancar lainnya.

"Saya tahu dari teman, ombak disini sangat menantang. Itu yang menjadi saya tertarik ikut kejuaraan surfing disini. Luar biasa ombak disini, sangat menantang. Kami puas bisa menikmatinya," katanya.

Robert Peterson dari World Surf League (WSL) menyebutkan ombak di Pantai Sorake merupakan salah satu yang terbaik di dunia sehingga layak menggelar lomba surfing tingkat internasional.

"Kami sangat mengapresiasi atas digelarnya Nias Pro International Surfing ini," katanya.

Bagi Bupati Nias Selatan, Hularius Duha, tingginya minat peserta asing mengikuti kejuaraan surfing tersebut menjadi penyemangat bagi pemerintah daerah setempat untuk menjadikan kejuaraan surfing internasional tersebut sebagai agenda tahunan.

Sehingga dengan demikian akan semakin menjadi daya tarik wisatawan mancagera untuk datang ke daerah itu.

Menurut dia, pariwisata merupakan salah satu sektor yang menjadi prioritas pembangunan pemerintah daerah setempat, mengingat daerah itu memiliki berbagai destinasi wisata, khususnya wisata bahari.
Baca juga: Sail Nias berpotensi ciptakan dampak ekonomi masyarakat
Baca juga: Sail Nias, pemerintah perlu buat pelatihan pariwisata


Seperti misalnya Pantai Sorake yang cukup banyak dikunjungi wisatawan terutama peselancar dunia karena memiliki ombak yang cukup menantang.

Selain di Pantai Sorake, Nias Selatan juga memiliki lokasi lain yang juga dapat dijadikan tempat menggelar surfing maupun diving seperti di Pulau Telo.

"Karena banyaknya objek wisata bahari, maka kejuaraan surfing kami rencanakan menjadi agenda rutin tahunan. Itu kita lakukan demi terus meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan," katanya.

Pariwisata, akan dijadikan sebagai salah satu fokus pembangunan yang diharapkan kedepannya dapat mendongkrak perekonomian warga di daerah itu.

Menyadari potensi wisata bahari yang dimiliki Nias Selatan, Pemkab Nias Selatan akan lebih banyak lagi menggelar kegiatan serupa yang menghadirkan lebih banyak lagi peserta dari mancanegara.

Meski fokus pada sektor pariwisata, ia mengaku, bukan berarti pembangunan sektor lain dikesampingkan atau juga tetap diperhatikan karena semua pembangunan harus sejalan dan seiring di jalankan demi tercapainya kemakmuran rakyat.

"Kita diberikan Tuhan karunia bahari yang sangat indah. Potensi itu akan terus kita kembangkan. Banyak spot-spot surfing di Nias Selatan, seperti di Pantai Sorake dan di Pulau Tello," katanya.

Potensi wisata bahari di Nias Selatan menuju destinasi wisata bahari dunia juga semakin besar dengan kehadiran sedikitnya delapan duta besar negara sabahat pada puncak sail Nias yang digelar di Dermaga Pelabuhan Baru, Teluk Dalam, Sabtu (14/9).

Menkumhan Yasonna Laoly yang juga Ketua Nasional Sail Nias yang menyebutkan delapan duta besar tersebut sangat posisif sebagai media promosi destinasi wisata bahari di Nias.

"Saya bertemu dengan para Dubes tdi Gunung Sitoli, mereka mengatakan "this is a beautiful island" sangat artistik. Mereka mengunjungi museum, rumah adatnya yang unik. Jadi ini suatu atraksi-atraksi yang menarik buat mereka untuk datang melihat pariwisata di Nias," katanya.
Baca juga: Ini tekad pemerintah, jadikan Nias gerbang destinasi wisata dunia
Baca juga: Parade kapal nelayan meriahkan Puncak Sail Nias 2019
Lompat Batu di Desa Bawumataluo Nias Selatan (Antara Sumut)


Genjot infrastruktur

Untuk mendukung potensi pariwisata di Nias seusai perhelatan Sail Nias 2019, pemerintah akan membenahi infrastruktur pendukung bandara yang menghubungkan objek wisata tersebut.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan saat puncak acara Sail Nias 2019 di Nias Selatan, Sabtu (14/9) mengatakan pemerintah serius membangun wisata secara total dan menyeluruh dengan membangun infrastruktur yang menghubungkan satu obyek wisata ke obyek wisata lainnya.

Pembenahan infrastruktur terutama bandara sangat krusial untuk mendukung pariwisata.

Ia mencontohkan kasus serupa terjadi di Danau Toba, di mana setelah Bandara Silangit diperbaiki bahkan dijadikan bandara internasional, kunjungan wisatawan pun terus meningkat. Dalam lima tahun ke depan pemerintah akan terus menjalankan pembangunan infrastruktur yang sangat dibutuhkan oleh industri pariwisata.

Sementara itu, pengamat ekonomi Hisar Sirait menilai, Sail Nias berpotensi dapat menciptakan dampak perekonomian positif bagi masyarakat setempat, dengan catatan sarana infrastruktur jalan mulai dari jalan tingkat provinsi hingga ke akses destinasi wisata harus diperbaiki.

Kalau Nias mau dikembangkan ke arah wisata maritim berarti yang dibutuhkan pertama-tama adalah pembangunan infrastruktur.

Pemerintah sudah mulai membangun bandara-bandara sehingga akses penerbangan bertambah, dan landasan pacu ditingkatkan. Sekarang pembangunan infrastruktur dari bandara menuju destinasi wisata harus menjadi perhatian pemerintah daerah.
Seorang anak mengikuti drama kolosal tarian "Faluaya" pada kegiatan acara puncak Sail Nias 2019 di Pelabuhan Baru Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, Sabtu (14/9/2019). Pagelaran seni budaya Nias yang diikuti 500 penari tersebut dalam rangka memeriahkan acara puncak Sail Nias 2019. ANTARA FOTO/Septianda Perdana/nz (ANTARA FOTO/SEPTIANDA PERDANA)


Kedatangan beberapa Dubes di Kepulauan Nias melalui program Sail Nias 2019 tersebut tentunya membawa harapan mereka akan membawa kesan tersendiri terkait panorama dan ekosistem alam serta pelestarian budaya yang memanjakan para wisatawan asing untuk ke Kepulauan Nias.

"Harapan kita wisatawan yang datang ini supaya mereka menikmati event yang ada seperti surfing, Desa Bawomataluo dan juga menikmati kuliner, ada festival kopi, juga ada diplomatik. Kita berharap acara besok akan sukses," katanya.

Guna mendukung potensi pariwisata di Nias seusai perhelatan Sail Nias 2019, pemerintah akan membenahi infrastruktur pendukung bandara yang menghubungkan objek wisata tersebut.

Luhut  mengatakan pemerintah serius membangun wisata secara total dan menyeluruh dengan membangun infrastruktur yang menghubungkan satu obyek wisata ke obyek wisata lainnya.

“Pemerintah akan membangun ‘link’ Toba ke Sibolga lalu Nias. Lapangan terbang sudah diperpanjang. Nah ini kita masih coba, karena di ujungnya itu ada gunung. Akan diperpanjang menjadi 2.700 meter supaya Boeing 737 itu bisa masuk. Sekarang kita sedang cari solusinya,” katanya.

Pembenahan infrastruktur terutama bandara sangat krusial untuk mendukung pariwisata. Ia mencontohkan kasus serupa terjadi di Danau Toba, di mana setelah Bandara Silangit diperbaiki bahkan dijadikan bandara internasional, kunjungan wisatawan pun terus meningkat.

“Jadi infrastruktur itu harus jalan seperti pengalaman kita di Silangit. Kalau ‘airport’ jalan sekarang tiap tahun ada 500 ribu orang yang berkunjung ke sana. Dari sini sama saja,” katanya.

Dalam lima tahun ke depan pemerintah akan terus menjalankan pembangunan infrastruktur yang sangat dibutuhkan oleh industri pariwisata.

“Sudah menjadi program pembangunannya tetap, yaitu infrastruktur dari pelabuhan, bandara, jalan, listrik dan sebagainya. Ini tidak akan pernah tertinggal," katanya.

Sesuai dengan tema Sail Nias 2019, 'Nias menjadi gerbang wisata bahari dunia', saya berharap saat daerah ini dibangun untuk pariwisata, rakyat siap dan menerima wisatawan dengan baik, perlu diingat pemerintah selalu ingin mensejahterakan rakyatnya. Tidak mungkin akan merugikan rakyatnya,” ujarnya.

Sesuai dengan arahan Presiden Jokowi, pariwisata saat ini menjadi salah satu pilar pertumbuhan ekonomi Indonesia. Nias sendiri diminta untuk fokus pada dua potensi besar yang dimiliki, yakni pariwisata dan perikanan.

Untuk itu perlu diingatkan keramah-tamahan masyarakat Nias menerima wisatawan adalah yang terpenting untuk memajukan sektor pariwisata di wilayah yang terkenal sebagai surga selancar dunia itu.

Baca juga: Kemkominfo ajak masyarakat jadi pelopor promosi wisata Nias
Baca juga: 8 Duta Besar hadiri Sail Nias 2019

Optimisme target 5.000 kunjungan Sail Nias 2019


 
Pewarta : Juraidi
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2019