Rumput Tampurung Kalui, antara mitos dan realita

Rumput Tampurung Kalui, antara mitos dan realita

Hamparan Tampurung Kalui di bantaran Sungai Barito di Muara Teweh, Selasa (1/10/2019). (ANTARA/Kasriadi)

Muara Teweh (ANTARA) - Tumbuhan termasuk jenis rerumputan "Tampurung Kalui" yang masuk golongan rumput teki (Cyperus rotundus) biasa tumbuh subur di pedalaman daerah aliran Sungai Barito, yakni Kabupaten Barito Utara, Murung Raya dan Barito Selatan, Kalimantan Tengah merupakan anugerah alam yang digunakan warga secara turun temurun.

"Tampurung Kalui biasanya tumbuh setelah air Sungai Barito surut pada waktu beberapa bulan. Kalau memasuki musim kemarau, tumbuhan itu berkembang di bantaran sungai yang dikenal masyarakat dengan sebutan `pantai`," kata Irwansyah seorang warga Kelurahan Jambu Kecamatan Teweh Baru, Selasa.

Pantai ini bukan berarti kawasan pasir di laut tapi merupakan tanah bercampur pasir yang kelihatan setelah air Sungai Barito surut. Saat itulah Tampurung Kalui tumbuh.

Tampurung artinya rumput dan Kalui berarti ikan (iwak kalui) atau sejenis ikan gurami yang populasinya cukup banyak di Sungai Barito setelah air pasang atau naik.

Rumput itu setinggi 30 sentimeter dengan batang sebagai tempat tumbuh buah yang lebih tinggi dari daun atau pelepah. Mereka tumbuh secara berkelompok seperti tanaman rumput biasa, namun lebih tinggi.

Biasanya buah Tampurung Kalui yang berbentuk panjang kecil yang masih mentah berwarna hijau, namun setelah tua akan berwarna coklat. Rumput ini muncul di sepanjang Sungai Barito, maupun anak sungainya di wilayah Barito Utara seperti Sungai Montallat, Sungai Teweh dan Sungai Lahei.

"Kalau buah Tampurung Kalui sudah berwarna coklat berarti matang. Itu tandanya tidak lama lagi akan memasuki musim hujan dan air sungai jadi dalam," kata dia.

Baca juga: Sungai Barito surut, bangkai Kapal Onrust muncul ke permukaan

Baca juga: Seorang pelajar di Muara Teweh tenggelam di Sungai Barito


Saat ini Tampurung Kalui sudah berbuah, namun belum masak secara keseluruhan dan diperkirakan sekitar sebulan lagi matang.

Melalui Tampurung Kalui inilah warga Suku Dayak di pedalaman Sungai Barito sejak dulu mempercayai sebagai tanda atau petunjuk alam untuk mengetahui musim kemarau dan musim hujan.

Kepercayaan ini bukan suatu kebetulan karena selama ini pertumbuhan atau perkembangan Tampurung Kalui itu tidak pernah berbeda dengan prakiraan musim secara ilmiah atau modern.

"Ini boleh percaya atau tidak, melalui tanda Tampurung Kalui ini orang tua kami dulu bisa mengetahui musim, baik kemarau maupun penghujan tidak pernah meleset (salah)," kata warga lainnya, Sholihin.

Setelah musim hujan kemudian Tampurung Kalui ikut tenggelam dan air Sungai Barito mulai dalam atau naik maka tumbuhan tersebut menjadi tempat ikan bertelur atau menghempaskan telurnya untuk menjadi anak ikan. Biasanya ikan seluang, gandaria, babanta dan ikan lainnya yang bertelur.

Fakta yang sering dia dapat, selalu menemukan telur ikan di Tampurung Kalui itu, ketika mencari ikan saat Sungai Barito mulai naik atau dalam.

"Jadi kalau melihat buah Tampurung Kalui yang saat ini ada yang baru berbuah dan masih mentah, diperkirakan satu bulan mendatang akan matang maka musim hujan diperkirakan paling lambat akhir Oktober atau awal November 2019 nanti," ucap warga Kelurahan Tumpung Laung, Kecamatan Montallat, yang punya hobi memancing ikan itu.

Baca juga: Debit Sungai Barito naik, tongkang dilarang lewat Jembatan Muara Teweh

Baca juga: Barito Timur gelar festival berburu ikan di sungai


Tanda alam

Sementara Kepala Dinas Pertanian Barito Utara, Setia Budi mengakui keberadaan rumput Tampurung Kalui bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang Sungai Barito sebagai tanda alam untuk mengetahui musim kemarau dan hujan.

"Kami akui tumbuhan Tampurung Kalui dijadikan petunjuk alam bagi masyarakat di sepanjang pedalaman Sungai Barito," kata dia.

Dalam ilmu pengetahuan Tampurung Kalui masuk dalam family `cyperaceace` yakni secara morfologi relatif sama dengan rumput teki atau teki ladang yang merupakan gulma pertanian yang biasa ditemukan di lahan terbuka.

Apabila orang menyebut "teki", biasanya yang dimaksud adalah jenis ini, walaupun ada banyak jenis Cyperus lainnya. Tampurung Kalui berpenampilan mirip, hanya beda ukuran fisik terutama lebih tinggi tegakan pohon dari teki.

"Tampurung Kalui di daerah ini juga dimanfaatkan warga untuk pakan ternak seperti sapi dan kambing," kata dia.

Tanaman ini tumbuh liar di tempat terbuka atau sedikit terlindung dari sinar matahari, seperti di tanah kosong, tegalan, lapangan rumput, pinggir jalan, atau di lahan pertanian, dan tumbuh sebagai gulma yang susah diberantas.

Tampurung kalui merupakan rumput semu menahun yang mempunyai batang rumputnya berbentuk segitiga (truangularis) dan tajam Daunnya berjumlah 4-10 helai yang terkumpul pada pangkal batang.

Biasanya kalau buah Tampurung Kalui belum masak, berarti air sungai masih belum dalam, meski hujan turun.Tandanya air sungai akan dalam maka buah Tampurung Kalui sudah matang dengan warna kecoklat-coklatan atau mirip tumbuhan layu.

"Bahkan ada di sejumlah desa yang berada di bantaran Sungai Barito, selalu terlihat Tampurung Kalui, kalau sudah tumbuh biasanya 2-3 bulan kemarau sehingga dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam tanaman usia pendek seperti sayur-sayuran, jagung dan lainnya di tanah bantaran sungai yang subur saat kemarau," ujar Budi.

Baca juga: Dishub Barito Utara Kalteng siapkan armada sungai jelang lebaran

Baca juga: Kapal terbalik di Sungai Barito hanyut terbawa arus


Musim Hujan

Kepala Kelompok Tenaga Teknis pada Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Barito Utara Sunardi mengatakan pada prakiraan musim hujan di wilayah Barito Utara dan Murung Raya mulai normal terjadi pada November 2019.

Pada Oktober, prakiraan curah hujannya untuk wilayah Barito Utara masih rendah sedangkan Murung Raya yang merupakan kabupaten paling utara Kalimantan Tengah ini intensitas hujannya menengah.

"Jadi tingkat curah hujan pada Oktober untuk daerah ini masih rendah, sedangkan Murung Raya lebih banyak dan musim hujan di dua kabupaten tersebut pada November nanti," kata Sunardi.

Jika hujan di wilayah hulu atau pedalaman Kabupaten Murung Raya dengan curah hujan lebih tinggi dibanding Kabupaten Barito Utara, maka tingkat kedalaman atau air Sungai Barito sangat cepat naik atau pasang.

Apalagi air Sungai Barito sangat tergantung curah hujan di kawasan utara sehingga kalau hujan sangat tinggi dan lama, maka berpengaruh terhadap kota atau kabupaten yang di hilir atau wilayah selatan seperti Barito Utara dan Barito Selatan.

"Kalau prakiraan hujan di hulu masih menengah, ada kemungkinan sepanjang Oktober ini masih surut, kecuali ada penyimpangan curah hujan di daerah hulu, maka di pedalaman Sungai Barito akan naik," kata Sunardi.*

Baca juga: Kapal tongkang terbalik di Sungai Barito satu ABK hilang

Baca juga: Buntok Kalteng terendam banjir akibat meluapnya Sungai Barito
Pewarta : Kasriadi
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019