BPTP NTT minta petani jagung waspadai ulat grayak

BPTP NTT minta petani jagung waspadai ulat grayak

Spidoptera litura, salah satu jenis ulat grayak, hama yang banyak menyerang tanaman pertanian (subagyo)

Kupang (ANTARA) -
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Nusa Tenggara Timur, meminta para petani untuk mewaspadai hama ulat grayak, yang saat ini mulai menyerang tanaman jagung di daerah ini, karena ulat ini mampu berpindah pada radius 100 km.

Selain  itu  menurut Peneliti Sumber Daya pada BPTP NTT, Tony Basuki, di Kupang, Kamis.  hama ini mampu berkembangbiak sangat cepat, karena satu betina mampu menghasilkan 1.000-2.000 sekali masa bertelur.

"Ulat jenis ini memang baru pertama kali menyerang di beberapa daerah di NTT, terutama pada tanaman jagung. Apabila tidak segera diatasi maka penyebarannya semakin meluas karena ulat ini mampu berpindah tempat pada radius 100 kilometer," katanya.

Dia menjelaskan, hama ulat yang lazim disebut ulat tentara ini merupakan jenis baru yang nama ilmiahnya adalah spidoptera frugiperda.

Ulat ini berasal dari Amerika Selatan dan di Indonesia selama ini terjadi di Pulau Jawa. Khusus di NTT, baru ditemukan tahun ini, dan dalam jumlah besar di beberapa kabupaten, katanya.

Sementara itu, Peneliti Spesialis Hama Penyakit pada BPTP NTT, Noldy Kotta, M.Sc menjelaskan, penyebaran ulat ini diakibatkan oleh cuaca dan perkembangbiakannya sangat cepat.
Hama ulat grayak atau tentara. (ANTARA/FAO Indonesia)

"Ada empat stadia perkembangbiakan ulat tentara ini yakni mulai dari bertelur, kemudian jadi larva (ulat yang makan daun jagung), lalu jadi pupa atau kepompong, kemudian jadi ngengat atau kupu-kupu kecil," katanya .

Dia mengatakan, ulat ini bisa menyerang tanaman lain seperti kacang-kacangan tapi makanan utamanya adalah tanaman jagung, juga ke tomat, cabai tapi itu kalau makanan utama jagung sudah tidak ada lagi.

Hama ulat tentara ini sangat berbahaya karena serangannya pada titik tumbuh jagung.

Untuk pengendalian, kata Noldy, para petani pendampingan BPTP NTT, sudah disarankan untuk menggunakan insektisida bahan aktif atau carbo furadan, dengan meletakkan beberapa butir di dua-tiga titik tumbuh dan mampu meredam kerusakan tumbuhan.

"Saya kira dinas pertanian kabupaten maupun provinsi sudah turunkan insektisida ini karena sudah wabah jadi harus segera diatasi. Serangan hama ini mulai dari vegetatif sampai generatif," jelasnya.

Dia juga mengimbau petani agar ketika tanaman jagung memasuki fase vegetatif supaya dilakukan pencegahan dini, karena apabila satu betina menetaskan telur, maka dalam kondisi cuaca hangat, maka dua hari saja telur menetas dan bisa menyerang satu hamparan dalam waktu cepat.

Karena itu, para petani harus segera mengambil langkah dengan memberikan insektisida berbahan aktif karbofuran, katanya 

Baca juga: Pemerintah diingatkan serius respons serangan hama ulat grayak di NTT
Baca juga: Pemprov NTT data kerusakan tanaman petani akibat serangan hama
Baca juga: Kementan waspadai sebaran hama ulat grayak pada jagung

 
Pewarta : Bernadus Tokan
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020