Ahli epidemiologi sebut perlu analisis risiko COVID-19 di Indonesia

Ahli epidemiologi sebut perlu analisis risiko COVID-19 di Indonesia

Anggota Komisi IX DPR Saleh Daulay (kanan) dan Ketum PB IDI Daeng Faqih (kedua kiri) dalam diskusi di Jakarta, Kamis (20/2/2020). ANTARA/Prisca Triferna/am.

Jakarta (ANTARA) - Pemerintah bisa melakukan analisis risiko COVID-19 dengan menghitung jumlah orang yang masuk ke Indonesia dari negara terdampak virus tersebut, kata ahli epidemiologi atau ilmu tentang penyebaran penyakit menular, Tri Yunis Miko Wahyono.

"Risiko itu tergantung pada jumlah orang yang masuk dari negara terdampak, yang ada kasusnya. Itu harus dihitung. Kalau Indonesia dibanding Singapura, risikonya lebih tinggi Indonesia karena jumlah orang yang masuk lebih tinggi tapi kasus di Singapura lebih banyak," kata akademisi Universitas Indonesia itu ketika ditemui dalam diskusi tentang COVID-19 di Jakarta, Kamis.

Sebelumnya, wabah penyakit yang disebabkan oleh virus corona baru terjadi pada akhir 2019. COVID-19 pertama kali muncul di Wuhan, China dan sampai saat ini per Kamis (20/2) malam telah menginfeksi 75.752 orang di 26 negara dengan 74.579 kasus tercatat di daratan China.

Total 2.130 orang meninggal karena penyakit tersebut dan 16.882 orang dinyatakan sembuh dari COVID-19 setelah menjalani perawatan.

Indonesia sejauh ini sudah menutup penerbangan dari dan ke China sejak awal Februari untuk mengurangi risiko penularan wabah yang disebabkan virus corona itu. Tapi sejauh ini, belum ada peringatan untuk negara lain yang sudah terkonfirmasi memiliki kasus positif COVID-19.

Singapura sudah bisa melakukan tracking atau pelacakan karena sudah memiliki kasus, sementara Indonesia sejauh ini belum memiliki dugaan kasus yang terkonfirmasi sebagai COVID-19.

Sejauh ini sudah ada 112 sampel yang diperiksa oleh Kementerian Kesehatan dengan 110 sudah dinyatakan negatif dari COVID-19.

Indonesia sendiri sudah memiliki alat PCR untuk mendeteksi wabah itu dan sudah terakreditasi oleh World Health Organization (WHO).

Alat PCR itu dapat digunakan juga tidak hanya untuk mendeteksi COVID-19 tapi juga penyakit lain yang disebabkan oleh virus corona jenis lain seperti SARS dan MERS, yang sama-sama menyerang pernapasan.

"Artinya jika dinyatakan positif oleh PCR itu salah satu keluarganya corona virus terdeteksi, meskipun tidak spesifik COVID-19. Artinya jika dinyatakan negatif di PCR berarti semua keluarganya corona virus tidak ada," kata Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng Faqih yang hadir dalam diskusi yang diselenggarakan Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC) itu.
Pewarta : Prisca Triferna Violleta
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2020