Ahli jelaskan alasan COVID-19 lebih cepat tersebar di kapal pesiar

Ahli jelaskan alasan COVID-19 lebih cepat tersebar di kapal pesiar

Kapal rumah sakit KRI dr Soeharso bersandar di Dermaga Madura, Komando Armada II Surabaya, Jawa Timur, Kamis (20/2/2020). Pemerintah telah menyiapkan beberapa opsi untuk menjemput 74 WNI yang menjadi kru Kapal Pesiar Diamond Princess di Jepang, dengan salah satu pilihannya menggunakan KRI dr Soeharso. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/wsj.

Jakarta (ANTARA) - Ahli Mikrobiologi dari LIPI, Sugiyono Saputra mengatakan penyebaran COVID-19 bisa lebih cepat terjadi di kapal pesiar Diamond Princess dikarenakan kondisi di dalam ruangan yang tidak terpapar panas membuat ketahanan virus menjadi lebih tinggi. 

"Bukti adanya mutasi memang belum ada tapi mengapa penyebaran bisa lebih cepat di situ bisa dikarenakan karena kondisi indoor jadi orang lebih mudah berkumpul dan ketahanan virusnya jadi lebih tinggi," kata Sugiyono yang juga peneliti Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu ketika dihubungi di Jakarta pada Senin.

Kemungkinan jika di dalam ruangan, kata dia, dengan faktor kelembaban akan memungkinkan virus bertahan lebih lama ditambah juga ketiadaan paparan sinar ultraviolet yang bisa membantu mematikan virus.

Dia tidak memungkiri adanya kemungkinan mutasi dari COVID-19, tapi hal tersebut memerlukan pembuktian dengan penelitian dan pengujian.

Baca juga: Pemerintah Selasa putuskan opsi pemulangan WNI di Diamond Princess

Baca juga: Kemenkes: Empat WNI di Kapal Pesiar Diamond Princess positif corona

"Kalau bicara mutasi memungkinkan sih iya, tapi buktinya belum ada. Tapi untuk kapal pesiar mungkin lebih ke arah faktor lingkungan," kata dia.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan mengkhawatirkan kondisi warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja di kapal pesiar Diamond Princess terpapar virus corona mutasi baru.

Menurut, Sekretaris Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Achmad Yurianto berdasarkan beberapa referensi termasuk dari World Health Organization menunjukkan ada yang terinfeksi COVID-19 tapi memiliki gejala klinis ringan seperti flu biasa.

Oleh karena itu, menurut Yurianto, WNI yang berasal dari kapal pesiar akan menjalani masa inkubasi lebih panjang dibandingkan 14 hari observasi yang dialami WNI dari Wuhan, China di Natuna.

Kapal pesiar Diamond Princess yang berlabuh di Yokohama, Jepang sebelumnya dilaporkan memiliki 630 kasus positif COVID-19 termasuk 4 WNI yang bekerja sebagai anak buah kapal di kapal pesiar tersebut.

Total 74 orang WNI yang juga berada di kapal itu dan dinyatakan sehat rencananya akan dipulangkan ke Indonesia.

Baca juga: Warga Hong Kong penumpang kapal pesiar akan dikarantina
Pewarta : Prisca Triferna Violleta
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020