Tokyo (ANTARA News/AFP) - Mereka menghasilkan uang dari seks, narkoba dan judi, kemudian mereka investasikan semua uang itu dalam sektor keuangan bonafid. Kini, mafia Jepang yang dikenal Yakuza ikut terhimpit setelah krisis ekonomi global juga berdampak pada mereka.

Seperti bisnis legal yang mereka masuki, mafia Jepang tertekan oleh perlambatan ekonomi paling dalam beberapa dekade terakhir, dan setelah laba anjlok, manajemen mafia merampingkan struktur kerja mereka.

Salah satu korban perlambatan ekonomi ini adalah Taro Hiramatsu, pensiunan gangster berusia 50 tahunan yang sekujur tubuhnya dirajahi tato, yang mengaku tak pernah hilang kenyamanannya dalam berbisnis dunia hitam tempat ia memulai bisnis.

"Yakuza terpukul oleh krisis keuangan karena mereka berinvestasi di pasar saham lebih banyak dibanding hal apapun," kata Hiramatsu, orang nomor dua dalam geng kriminal sampai keluar diam-diam dari situ tahun lalu.

"Untuk Yakuza, sekarang ini uang bisa membeli apapun, termasuk posisi-posisi puncak," kata Hiramatsu --bukan nama sebenarnya-- kepada AFP dengan menyilangkan tangan penuh tato di atas perut gendutnya.

"Di masa lalu, peringkatmu ditentukan dari keberanian dan pengorbanan yang anda berikan untuk kelompok, termasuk kesiapan mengorbankan nyawamu," tambahnya.

Karirnya sendiri sebagai gangster pernah tergelincir saat uangnya habis sehingga tidak bisa membayar iuran bulanan sebesar 30.000 dolar AS kepada sindikat kejahatan.

Sekitar sepertiga dari pimpinan menengah organisasi kriminalnya kehilangan pekerjaan sepanjang tahun lalu di mana kebanyakan melego semua hartanya dengan hanya menyisakan tato kelompok gangsternya yang tidak bisa terhapus dari dada mereka.

"Organisasi (kriminal) memanfaatkan kelesuan ekonomi ini sebagai peluang untuk merampingkan strukturnya yang pertamakali dilakukan selama bertahun-tahun," kata Jake Adelstein, mantan reporter Yomiuri Shimbun bidang kriminal yang mengkhususkan diri sebagai pakar Yakuza.

"Tak pernah terdengar sebelumnya, begitu banyak anggota Yakuza yang dipecat."

Hiramatsu kini bekerja sebagai pengemudi truk dan menggunakan masa senggangnya untuk belajar komputer dan bermain gitar, meskipun kehilangan satu jari yang terpaksa dipotong pisau dapur beberapa tahun lalu sebagai balasan atas dosa yang enggan dia ungkapkan.

Hiramatsu mengaku bangga menjadi orang didikan masa lalu. Tato di punggungnya menggambarkan samurai yang menggigit pisau dengan gigi menyerupai gigi ikan-ikan ganas. Kedua lengannya digelangi bunga sakura yang merupakan simbol kuno Jepang.

Duduk dengan menyilangkan kedua kaki di rumahnya di Tokyo, dia mengaku tidak memiliki bayak waktu untuk memikirkan gangster generasi muda yang memperdagangkan lokasi-lokasi strategis kepada pihak perusahaan, dan menukarkan pistol otomatis sembilan milimeter demi (indeks saham) Nikkei-225.

Di tahun tatkala ekspor dan harga saham menekan negara dengan perekonomian terbesar kedua dunia ini dan di saat perusahaan-perusahaan raksasa amblas ke titik merah, dia menilai inilah saatnya bagi gangster untuk menghapuskan kode etik kuno mereka.

"Saya kira keputusan mayoritas Yakuza untuk mencampakkan nilai tradisional demi memeluk nilai-nilai baru kapitalis adalah hal terbaik yang mesti dikerjakan," kata Hiramatsu berusaha merenungkan cara-cara modern dalam rangka memelihara model persaudaraan yang umurnya berabad-abad itu.

"Bushido, semangat samurai yang dipakai Yakuza, menghilang. Hilangnya nilai-nilai itu hanya buruk bagi Yakuza, tetapi tidak bagi Jepang secara keseluruhan."

Yakuza yang meretas jejaknya dari masa samurai yang mulai hilang di era Edo di abad ke-17, secara tradisional menggantungkan diri pada perjudian, prostitusi, rente, dan bisnis jaminan keamanan demi menyambung hidupnya.

Mereka beroperasi relatif terbuka dan menjalin hubungan dekat dengan para politisi dan kelompok pelobi, sementara polisi menoleransi kehadiran mereka sepanjang ada di julurnya dan tidak keluar dari kejahatan jalanan.

Meskipun polisi terus-terusan memburu anggotanya, Yakuza bukanlah organisasi ilegal. Mereka beroperasi secara terbuka dari markas mereka yang rata-rata besar.

Menurut Mabes Polisi Jepang, saat ini kejahatan terorganisasi Jepang beranggotakan 82.600 orang di mana hampir setengahnya anggota kelompok gangster Yamaguchi-gumi yang berbasis di Kobe, dan kadang-kadang dipelesetkan sebagai "Sindikat Kejahatan Wal-Mart".

Keadaan mulai berubah pada 1992 ketika pihak berwajib Jepang menerapkan peraturan baru untuk menciduk bos mereka, terutama mengejar bos-bos kriminal berjas hitam berdasarkan kejahatan yang dilakukan anak buah mereka.

Yakuza beralih ke kejahatan kerah putih seperti pencucian uang, penggembosan tabungan, kejahatan cyber dan memeras perusahaan-perusahaan besar dengan mengancam bakal mengganggu rapat pemegang saham perusahaan-perusahaan itu.

Keuntungan hasil memeras ini mereka investasikan di saham, konstruksi dan real estat, juga di sektor bisnis baru seperti dunia hiburan dan media, atau memarkirnya di luar negeri, ulas para pakar yang meneliti kejahatan terorganisasi di Jepang.

Ketika Jepang mengendurkan regulasi keuangan setelah harga aset ambruk pada awal 1990an yang menyebabkan negeri ini jatuh dalam resesi, Yakuza mencaplok perusahaan-perusahaan sakit.

Adelstein menyatakan, beberapa gangster kini memoles kembali perusahaan-perusahan raksasa yang beroperasi sah.

"Orang menyangka Yakuza itu erat dengan ayunan pedang dan tato serta jari-jari yang putus. Apa yang mesti anda pikirkan tentang Yakuza di era modern adalah Goldman Sachs (perusahaan investasi terkemuka dunia) sambil mengokang senapan."

Secara kolektif Yakuza menjadi investor swasta terbesar di Jepang dengan dana yang membuat mereka bisa berbuat apapun yang diinginkannya, kata Adelstein seraya memprediksi pendapatan Yakuza bisa mencapai puluhan miliar dolar AS.

"Mereka sangat lihai berjudi dan pasar saham Jepang secara khusus memang seperti kasino besar. Mereka mempunyai perusahaan sekuritas dan audit sendiri di mana uang mereka dapat masuk dan ditanamkan. Setiap waktu mereka bisa menang," katanya.

Tomohiko Suzuki, pengarang dan mantan reporter pada satu majalah Yakuza, mengungkapkan sekitar 50 perusahaan yang diidentifikasi tersangkut sindikat kejahatan, tercatat sebagai anggota bursa saham Jepang dan bursa Nasdaq di New York.

Sekitar 1.000 perusahaan yang tidak tercatat di bursa diidentifikasi polisi Tokyo sebagai Yakuza yang beralih ke segala bisnis, dari pemakaman, jasa pernikahan, sampai agensi pencari bakat, demikian Suzuki.

Bahkan buku-buku manajemen banyak ditulis oleh Yakuza, salah satunya dari seorang mantan anggota Yamaguchi-gumi yang kini dipenjara.

"Buku (yang ditulis mantan anggota Yamaguchi-gumi) ini tampak seperti buku manajemen yang dibaca bos General Motors, bedanya dia melewati observasi-observasi menarik. Misalnya, alasan bahwa kami merupakan organisasi kejahatan paling berkuasa karena kami adalah organisasi paling kuat," kata Adelstein.

Untuk perannya, eks mafia Hiramatsu tidak sepenuhnya menyesal telah menutup pintu masa lalunya.

"Saya bernostalgia tentang masa lalu, tetapi saya juga tak terlalu senang akan hal ini. Saya kira saya tidak cocok dengan model Yakuza baru," katanya. (*)

Oleh
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2009