Ahli sarankan kombinasi tes cegah penyebaran COVID-19

Ahli sarankan kombinasi tes cegah penyebaran COVID-19

Petugas Stasiun Manggarai memeriksa suhu tubuh calon penumpang KRL di Jakarta, Selasa (14/4/2020). ANTARA/Muhammad Zulfikar/am.

Jakarta (ANTARA) - Ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia (UI) dr Pandu Riono menyarankan pemerintah agar mengkombinasikan berbagai tes COVID-19 guna mencegah penyebaran virus tersebut di masyarakat.

"Harus ditambah untuk tes virus, rapid test dan Polymerase Chain Reaction (PCR). Jadi orang terinfeksi itu ketahuan setelah dilakukan tes," kata dia saat dihubungi di Jakarta, Kamis.

Menurut dia apabila masyarakat sudah semakin sedikit melakukan interaksi ataupun mobilisasi sosial, maka kombinasi tes tadi tetap diperlukan dengan tujuan mengantisipasi penyebaran virus.

Namun, ditegaskan Pandu, rapid test atau tes cepat saja tidak cukup untuk mengetahui apakah seseorang positif atau tidak. Oleh sebab itu perlu dilakukan kombinasi tes lainnya agar hasil pemeriksaan lebih akurat.

Baca juga: Ahli: Rapid test menunjukkan positif belum tentu positif COVID-19

Baca juga: Ahli: Daerah harus bisa identifikasi kasus transmisi lokal COVID-19


"Kemudian kita tingkatkan akurasinya dengan PCR, tidak cukup dengan rapid test saja," ujarnya.

Selain itu, Pandu juga memberikan masukan kepada Kementerian Kesehatan (Kemenkes) atau pemerintah secara umum agar melibatkan semua pihak terutama ahli kesehatan masyarakat dalam menangani pandemi COVID-19.

Menurut dia, selama ini pemerintah belum melibatkan semua pihak secara maksimal terutama tenaga kesehatan masyarakat.

Padahal, ujar dia, para tenaga kesehatan masyarakat tersebar luas di sejumlah daerah. Hal itulah yang mesti dirangkul pemerintah untuk menghadapi situasi saat ini.

"Jangan hanya bekerja di sektor tenaga kesehatan dokter dan perawat saja," katanya.

Terpisah, ahli epidemiologi dari Universitas Andalas (Unand) Padang, Sumatera Barat Defriman Djafri Ph.D mengatakan rapid test atau tes cepat tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk memastikan seseorang terinfeksi COVID-19 atau tidak.

"Karena dasarnya tidak rekomendasi dari WHO. Itu harus hati-hati betul," kata dia.

Ia menjelaskan tes cepat itu lebih kepada pemeriksaan antibodi saja bukan PCR. Sehingga dikhawatirkan setelah orang melakukan rapid test dan hasilnya negatif mereka merasa sudah aman padahal belum tentu.

Baca juga: Ahli: Berdayakan laboratorium daerah konfirmasi COVID-19
Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020