Hal remeh-temeh jadi berharga berkat pandemi COVID-19

Hal remeh-temeh jadi berharga berkat pandemi COVID-19

Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta (ANTARA) - Hal remeh-temeh yang dulu dianggap biasa saja kini menjadi berharga ketika sudah tiga bulan berdiam diri di dalam rumah akibat pandemi COVID-19.

Bepergian ke tempat yang jauh dengan pemandangan memukau yang dulu jadi alternatif menyegarkan pikiran penat untuk sementara tak boleh dilakukan.

Sebagian warga Jakarta kini menjadikan hal remeh-temeh sebagai "wisata" untuk menghibur diri sendiri dari rasa bosan terkungkung di kamar atau rumah.

Jalan-jalan mengelilingi komplek perumahan hingga belanja ke warung atau pasar terdekat merupakan selingan dari pemandangan yang itu-itu saja di rumah.

"Ku supermarket itu jadi wisata sekarang rasanya, sama buat melemaskan kaki, bisa jalan agak jauh, tidak cuma ke dapur atau kamar mandi," tutur Alia Prawitasari yang berprofesi sebagai guru di bimbingan belajar.

Ruang gerak yang terbatas di rumah membuatnya memanfaatkan waktu berbelanja untuk menyegarkan diri dari suasana yang sama.

Meski mengaku introvert dan tidak terlalu terkungkung dengan situasi yang diakibatkan pandemi, ada kerinduan di hati Alia untuk berjalan-jalan menikmati waktu sendirian di luar rumah tanpa takut terpapar virus corona.

"Kayak ke taman, nonton bioskop dan ke toko buku," ujar dia.

Bagi Elvina Wijaya, berjemur di ruang terbuka di apartemen setiap pagi adalah rutinitas sederhana namun penting untuk mengusir rasa suntuk.

"Kesempatanku untuk keluar, menghirup udara segar, refreshing. Pagi-pagi berjemur itu membuat mood jadi lebih enak," tutur dia.

Sesekali dia pergi untuk berbelanja sayur, setidaknya setiap dua atau tiga pekan. Walau banyak layanan belanja sayur secara online, Elvina memilih untuk memilih langsung sayur yang ingin dimasak.

"Kalau di rumah terus kan kadang suntuk, jadi alasanku keluar ya pergi beli sayuran."

Menikmati suasana pagi di sekitar rumah jadi pilihan "wisata" Anjani Putri. "Wisata" itu dijalani sesekali, hanya bila buah hatinya yang masih balita sedang rewel.

"Lumayan relaksasi... Jalan keluar naik motor pakai masker, pagi-pagi saat sepi, cuma berputar-putar dekat rumah, takut cabin sindrom," ungkap Tami.

Sindrom cabin fever yang ia maksud adalah gangguan mental akibat terlalu lama terisolasi.

Baca juga: Mengenal "cabin fever" penyebab perasaan sedih saat PSBB

Tami berusaha disiplin menerapkan pembatasan sosial, meski tetangga di sekitar kediamannya di Jakarta Utara cenderung cuek, bahkan kerap berkumpul tanpa masker.

Kadang kala ia mengunjungi mertuanya yang tinggal dekat rumahnya, dengan catatan tetap menjaga jarak dan memakai masker demi keamanan bersama.

"Sebenarnya takut (keluar rumah), tapi karena anakku yang sekarang usia dua tahun sudah mulai takut dengan orang asing, kami mulai coba mengenalkan dia ke orang lain selain orangtuanya," tutur Tami.

Sementara bagi arsitek Ery Bramana Sakti, wisata alternatif selama pandemi adalah aktivitas sederhana namun bermakna bersama istri.

"Masak makanan yang jarang dibuat di rumah bareng istri," ujar Ery.

Ketika butuh perubahan suasana, dia menyiasatinya dengan memesan makanan-makanan baru yang belum pernah dicicipi lewat layanan pesan antara.

Institusi hingga badan pariwisata berbagai negara menyediakan situs agar masyarakat bisa berjalan-jalan secara virtual. Tapi Ifnur Hikmah, editor konten, punya ide yang berbeda dalam jalan-jalan virtual.

Dia mengeksplorasi informasi wisata di berbagai tempat untuk membuat rencana perjalanan ke tujuan liburan idaman. Hingga saat ini Ifnur sudah memiliki beberapa rencana perjalanan ke negara-negara yang ingin dikunjungi.

"Melihat tempat wisata di luar, cari foto dan informasi itu menyenangkan, walau belum tahu kapan ke sana. Tapi paling tidak itu membuat suntuk hilang, sebab saya di kosan hanya melihat empat sisi dinding saja."

Baca juga: Pentingnya seimbangkan produktivitas dan kesehatan mental selama WFH

Baca juga: Begini agar tidak stres hadapi kenormalan baru

Baca juga: Konsumsi daging bagus untuk kesehatan mental
Pewarta : Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2020