Klub Eropa harus berpikir ulang soal transfer akibat virus corona

Klub Eropa harus berpikir ulang soal transfer akibat virus corona

Bola di dalam lapangan sepak bola di Stadion St Mary's, Southampton, Inggris, 22 Februari 2020. ANTARA/Action Images via Reuters/Matthew Childs/pri.

Jakarta (ANTARA) - Sepak bola Eropa mulai bangkit setelah dihentikan akibat virus corona, tetapi ada perbedaan dengan sebelumnya bagi pemain dan pendukung, dan juga ada perubahan di belakang layar, termasuk soal transfer pemain.

Sementara liga sepak bola Jerman kembali digelar di stadion tanpa penggemar, olahraga tersebut sedang mempersiapkan diri menghadapi krisis ekonomi yang akan berdampak pada semua tingkatan kompetisi.

Perbedaan itu sangat terlihat di pasar transfer, di mana sudah menjadi hal biasa bagi klub-klub terkemuka mengeluarkan biaya sampai 100 juta euro.

Baca juga: Bos Huddersfield perkirakan 60 klub bangkrut setelah musim tahun ini
Baca juga: Barcelona bakal sodorkan Umtiti untuk tawar Lautaro Martinez
Baca juga: Mengenal protokol kesehatan restart Bundesliga


Mantan pelatih Damien Comolli telah mengamati berbagai peristiwa setelah meninggalkan perannya di klub Turki Fenerbahce pada Januari lalu.

Mantan direktur olahraga Liverpool dan Tottenham Hotspur mengatakan itu mengatakan kepada AFP bahwa dia memperkirakan penurunan biaya antara 30 dan 50 persen dibandingkan dengan biasanya, dan pengurangan 70-75 persen dalam hal aktivitas.

Secara khusus, kehilangan pendapatan klub dari hasil pertandingan yang dimainkan tanpa penonton akan sangat berdampak pada anggaran.

Ketika klub harus merekrut pemain, mereka yang bertanggung jawab atas perekrutan pemain di klub, juga tidak bisa melakukan pekerjaan mereka.

"Bagian terbesar dari pekerjaan saya adalah menindaklanjuti target untuk jendela transfer berikutnya," kata Martyn Glover, kepala pencari bakat dan perekrutan di klub Liga Inggris, Southampton.

Baca juga: Pemain dan staf Southampton ikhlas dipotong gaji demi masyarakat
Baca juga: Liga Prancis musim depan rencananya dimulai 23 Agustus


Para pencari bakat biasanya menghabiskan banyak waktu mereka di jalan dan melakukan perjalanan jauh untuk menonton permainan calon pemain yang akan direkrut.

"Saya biasanya berada di luar negeri setiap minggu di beberapa titik," kata Glover, yang sebelumnya bekerja di Everton.

"Saya mungkin terbang ke Paris untuk menonton PSG dan hari berikutnya ke Jerman untuk menonton pemain lain. Dalam seminggu saya mungkin akan menyaksikan tiga atau empat pertandingan secara langsung."

Robert McKenzie memiliki peran yang serupa di klub divisi kedua Belgia, Leuven, yang pada 2017 diambil alih oleh King Power, pemilik Leicester City asal Thailand.

Biasanya dia akan menonton hingga 20 pertandingan dalam sebulan, mengamati pemain yang menjadi target.

"Situasi saat ini jelas memiliki implikasi signifikan terhadap apa yang secara historis menjadi bagian terpenting dari proses: penilaian pemain dalam pertandingan langsung," katanya kepada AFP.

"Saya sering berpikir pada diriku sendiri kapan akan saya benar-benar duduk di stadion sepak bola menonton pertandingan? Siapa tahu!"

Baca juga: Ulah sepuluh bintang sepakbola saat karantina COVID-19
Baca juga: Pochettino tak kapok melatih di Inggris
Baca juga: Newcastle siap keluarkan Rp967 miliar untuk boyong Gareth Bale


Namun, ia mengakui bahwa perintah penutupan akibat pandemi telah memberinya banyak waktu untuk mencari calon pemain dan mempertimbangkan beberapa pilihan.

Sebaliknya, Newcastle United menjadi berita utama ketika kepala perekrutan mereka, Steve Nickson, terpaksa cuti bersama dengan seluruh departemen pencari bakat, menghentikan bagian fungsi penting dari klub.

Lalu, bagaimana klub Liga Premier dapat merencanakan untuk musim panas tanpa mengetahui apakah mereka akan tetap menjadi klub papan atas musim depan, atau apakah musim ini bisa dimulai kembali, dengan semua konsekuensi biaya?

"Ada banyak hal yang masih belum dapat dibuktikan," kata Glover.

"Kami bukan klub yang mungkin menghabiskan 80 juta untuk seorang pemain.

"Saya yakin akan ada beberapa peluang yang muncul dari apa yang telah terjadi, baik di dalam maupun luar negeri, tetapi bagian tersulit adalah masalah keuangan."

Glover mengakui bahwa cara pekerjaannya bisa berubah selamanya. Comolli membantu memperkenalkan penggunaan data dan analisis ke dalam sepak bola Inggris dan yakin bahwa pendekatan tersebut bisa diterapkan secara lebih luas.

"Mungkin semakin banyak klub akan menggunakan data dan statistik alih-alih pencari bakat secara langsung dan mungkin klub juga akan mempelajari lebih banyak pemain itu sendiri, keluarga mereka, cara mereka hidup.

"Jika saya memiliki kesempatan untuk pergi dan menonton pemain secara langsung atau kesempatan untuk bertemu dengannya dan keluarganya, saya akan mengambil kesempatan untuk pergi dan bertemu dengannya."

Dia percaya klub-klub yang sudah menekankan pada penilaian pemain melalui video dan data dapat mengatasi krisis tanpa merugikan tim.

Bahkan klub dari peringkat yang lebih rendah bisa dapat muncul lebih kuat. Klub itu termasuk Leuven, meskipun mereka harus menunggu hasil play-off pada bulan Agustus untuk melihat di divisi mana mereka akan berada pada musim depan.

"Saya pikir mungkin ada peluang bagi kami sebagai klub akibat dari situasi saat ini yang sebelumnya dianggap tidak mungkin," tegas McKenzie.

Baca juga: Barter pemain bakal dominasi bursa transfer era pandemi
Baca juga: Allardyce: klub harus hormati kekhawatiran pemain atas kesehatannya
Baca juga: Tiga nama ini jadi bidikan utama MU ketika bursa transfer dibuka lagi

 
Pewarta : Teguh Handoko
Editor: Bayu Kuncahyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020