Kepri kekurangan PCR deteksi virus corona

Kepri kekurangan PCR deteksi virus corona

Plt Gubernur Kepri Isdianto memberikan sambutan dalam penyerahan masker bantuan dari Yayasan Temasek Singapura kepada Pemprov Kepri, Jumat. (Dok Pemprov Kepri)

Batam (ANTARA) - Provinsi Kepulauan Riau masih kekurangan alat laboratorium pendeteksi virus corona, Polymerase Chain Reaction (PCR) guna mempercepat penanganan COVID-19.

Pelaksana Tugas Gubernur Kepri Isdianto berharap Yayasan Temasek Singapura dapat memenuhi kebutuhan Kepri yang berbatasan laut dengan negara itu.

"Apabila ada bantuan lagi, kami minta dibantu PCR," kata Plt Gubernur dalam penyerahan bantuan 2 juta masker dari Yayasan Temasek Singapura untuk Provinsi Kepri, Jumat.

Baca juga: 114 dari 225 pasien COVID-19 di Kepri sembuh

Baca juga: Kepri rancang aplikasi penelusuran COVID-19


Saat ini, jumlah PCR di Kepri terbatas, hanya ada di kota besar, padahal Provinsi Kepri terdiri dari ribuan pulau yang lokasinya relatif jauh. Apabila hanya mengandalkan PCR di Batam, dikhawatirkan penanganan COVID-19 menjadi tidak maksimal.

PCR digunakan untuk mendiagnosis COVID-19, dengan mendeteksi material genetik virus corona. Apabila mendapatkan bantuan PCR, akan didistribusikan ke seluruh kabupaten/kota di provinsi setempat.

Pada kesempatan itu, Plt Gubernur juga menyampaikan terima kasih kepada Yayasan Temasek yang memberikan bantuan masker yang dapat digunakan kembali.

"Masker ini berbahan katun dan berlapis yang dapat dicuci kembali. Kami harapkan masyarakat bisa semakin disiplin dalam menggunakan masker setiap beraktivitas di luar rumah," kata dia.

Baca juga: Masih berisiko, KPAID Kepri rekomendasikan tunda buka sekolah

Ketua Harian Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Provinsi Kepri TS Arif Fadillah menyatakan masih menunggu arahan Plt Gubernur Kepri terkait distribusi masker ke masyarakat.

"Untuk pendistribusian masker kami membicarakan lagi sesuai arahan Plt Gubernur bagaimana cara yang efektif, cepat sampai ke masyarakat dan merata," kata dia.
Pewarta : Yuniati Jannatun Naim
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020