Kalung anti-Corona, Gus Nabil: Kementan harus berbasis riset

Kalung anti-Corona, Gus Nabil: Kementan harus berbasis riset

Anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Muchamad Nabil Haroen atau Gus Nabil. (Istimewa)

Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Muchamad Nabil Haroen atau Gus Nabil mengingatkan Kementerian Pertanian harus menunjukkan basis riset terkait inovasi kalung anti-Corona yang dipublikasikannya.

"Kementan harus tunjukkan basis riset terkait Kalung anti-Corona. Kementan harus berhati-hati dan mendasarkan pada riset yang jelas, sebelum mengeluarkan inovasi untuk publik," katanya, dalam pernyataan tertulisnya, di Jakarta, Senin.

Baca juga: Kementan luncurkan inovasi produk tangkal Corona berbahan eucalyptus

Baca juga: Akademisi UGM dukung inovasi kalung antivirus Eucalyptus


Seperti diketahui, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementan telah memublikasikan produk antivirus Corona berupa kalung, "roll on", "in haler", salep, balsem dan "defuser" yang diklaim mampu mematikan COVID-19.

Menurut dia, Kementan jangan hanya ingin kelihatan berinovasi, tetapi harus jelas basis risetnya karena akan menimbulkan pro-kontra dan dikritik beberapa ilmuan atau periset dari kampus-kampus internasional.

"Saya mengapresiasi usaha dan inovasi Kementan, tapi sebaiknya harus berbasis riset yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademik," kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Pagar Nusa Nahdlatul Ulama (NU) itu.

Di satu sisi, politikus PDI Perjuangan itu mengingatkan pemerintah dan masyarakat untuk saling bekerja sama demi kebaikan, terutama mengurangi penyebaran COVID-19.

"Pemerintah harus terus menerus menyediakan fasilitas kesehatan, menganalisa perkembangan, dan mengeksekusi kebijakan yang tepat bergantung pada kondisi kawasan masing-masing," katanya.

Baca juga: Balitbangtan gandeng swasta kembangkan eucalyptus sebagai anti Corona

Baca juga: Tepis keraguan, Balitbangtan beberkan keunggulan antivirus eucalyptus


Ia melihat masih banyak tenaga medis yang wafat karena COVID-19 sehingga menjadikan kerugian aspek sumber daya manusia (SDM) yang besar sekali bagi bangsa Indonesia.

"Di sisi lain, warga harus terus patuh pada protokol kesehatan, dengan menggunakan masker, jaga jarak, jaga kebersihan, dan protokol lainnya," kata Gus Nabil.

Baca juga: Ketua MPR dorong Kementan uji klinik antivirus corona

Baca juga: Kemarin, minyak di bawah 43 dolar hingga antivirus Kementan diragukan
Pewarta : Zuhdiar Laeis
Editor: Nurul Hayat
COPYRIGHT © ANTARA 2020