Riset dosen IPB terkait sidat masuk prioritas riset nasional

Riset dosen IPB terkait sidat masuk prioritas riset nasional

Ikan Sidat. (Ist)

Jakarta (ANTARA) - Riset dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) atau IPB University tentang pengembangan inovasi teknologi penangkapan benih dan calon induk sidat masuk prioritas riset nasional sehingga diharapkan mampu meningkatkan kualitas serta alat tangkap ramah lingkungan.

"Pengembangan inovasi teknologi dari kegiatan penangkapan ikan sidat dilakukan dengan mengidentifikasi keragaman jenis alat tangkap yang digunakan oleh nelayan dalam menangkap benih sidat atau glass eel dan induk sidat," kata peneliti dan dosen IPB dari Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Dr Ronny Irawan Wahju dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa.

Baca juga: Jadi prioritas nasional komersialisasi bawang merah varietas baru IPB

Ia mengatakan efisiensi dan efektivitas alat tangkap benih sidat dan induk dilakukan melalui kajian hasil tangkapan yang dikategorikan ke dalam target dan hasil tangkapan sampingan.

Informasi yang didapat dari hasil kegiatan penangkapan benih atau induk sidat secara umum menjadi parameter dalam mengestimasi efisiensi dari alat penangkapan benih atau induk sidat.

Selanjutnya, kata dia, dilakukan perbaikan dalam teknologi penangkapan ikan yang dapat meningkatkan kualitas benih dan induk sidat serta dapat menciptakan alat tangkap yang ramah lingkungan.

Baca juga: IPB kerja sama perbanyak invensi ayam kampung unggul IPB D-1

Ronny Irawan menjelaskan selain teknik penangkapan, sistem holding mempunyai peranan penting ketika benih atau induk sidat ditangkap sampai ke pengumpul dan terakhir ke tempat pembesaran sidat.

Menurutnya, penerapan sistem holding yang sesuai untuk benih diperlukan terutama bagi kelangsungan hidup fase glass eel sampai elver dimana pada fase tersebut tingkat mortalitasnya masih tinggi yakni lebih dari 80 persen.

Baca juga: IPB perkuat riset bidang logistik

Sehingga, ujarnya, dengan memiliki teknologi sistem holding yang sesuai maka akan meningkatkan "survival rate" atau tingkat bertahan dari benih dan induk sidat baik itu sejak ditangkap hingga ke pembesaran.

Pengembangan inovasi teknologi dilakukan melalui perbaikan alat penangkapan benih atau induk sidat serta sistem holding sehingga dapat meningkatkan kualitas benih dan induk sekaligus menunjang industri pembesaran dan pengolahan sidat.

"Nelayan penangkap benih sidat perlu melakukan pengendalian dan pengaturan jumlah tangkapan glass eel, misalnya melalui pengaturan waktu dan lokasi penangkapan," ujar dia.

Hal tersebut dilakukan agar cukup tersedia benih sidat yang lolos dari upaya penangkapan yang kelak akan menjadi induk dan menghasilkan benih kembali.

Baca juga: KKP kerja sama IPB tingkatkan pendidikan dan riset

Selain itu, terdapat pula pengaturan tentang jumlah minimal yang ditangkap, pelarangan penangkapan induk sidat dewasa, serta melindungi habitat calon induk dan menentukan prioritas kawasan konservasi bagi larva maupun calon induk sidat di perairan estuaria dan sungai sehingga ketersediaan larva dan calon induk bisa terjaga.

Untuk meningkatkan benih dan calon induk sidat dalam penjualan, ia menilai perlu peningkatan benih dimana jumlahnya cukup, ukurannya siap tebar di wadah budidaya serta tersedia sepanjang tahun dengan kualitas yang baik.

Baca juga: IPB gandeng Taiwan perkuat riset laut dalam

Pemeliharaan ikan sidat memerlukan waktu relatif lama sehingga pembudidaya dapat membuat segmentasi usaha mulai dari pemeliharaan, pendederan benih sidat dengan beberapa kelompok ukuran elver siap tebar yakni 20-50 gram sampai pembesaran untuk menghasilkan ikan konsumsi yakni 150-300 gram.

Secara umum, pengembangan calon induk adalah upaya untuk pengembangan pembenihan sidat karena benih tersebut masih diperoleh dari tangkapan alam yang jumlahnya terus menurun.

Baca juga: Riset IPB: biji nangka hambat kanker
Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2020