Sebanyak 19 ekor Anoa ada di Taman Nasional Rawa Aopa

Sebanyak 19 ekor Anoa ada di Taman Nasional Rawa Aopa

Kantor Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara (Sultra).(ANTARA/Harianto)

Kendari (ANTARA) - Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat sebanyak 19 ekor Anoa masih berada di alam liar kawasan taman nasional tersebut.

Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Balai TNRAW Benny E Purnama mengatakan data tersebut merupakan data terakhir sejak tahun 2019 lalu.

"Data terakhir 2019 untuk Anoa ada sekitar 19 ekor terbagi atas Anoa dataran tinggi 3-4 ekor dan Anoa dataran rendah sekitar sekitar 11-15 individu," kara Benny saat diwawancara via WhatsApp di Kendari, Senin.

Menurut pria berkacama ini, data tersebut tentu bertambah karena semua satwa yang ada di alam liar di taman nasional tersebut pasti akan berkembang biak.

Baca juga: Kawasan Taman Nasional Rawa Aopa terbakar

Baca juga: Pertahankan polulasi rusa, Balai TN Rawa Aopa buat penangkaran


Selain hewan jenis Anoa, pihaknya juga mencatat yakni burung Maleo, Kakatua kecil jambul kuning, Rusa dan burung air, Aopa dan mangrove.

"Data 2019 itu spesies di Taman Nasional Rawa Aopa, yakni Maleo 30-36 individu, Kakatua kecil jambul kuning individu, Rusa 17-26 individu, Burung air, Aopa 24 jenis dan mangrove 23 jenis," kata Benny.
 
Penangkaran rusa di belakang Kantor Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara (Sultra) (ANTARA/Harianto)


Benny mengungkapkan bahwa semua spesies yang ada di Taman Nasional Rawa Aopa tersebut masih bisa dijumpai hingga saat ini, namun ada satu jenis spesies yang langkah dijumpai yaitu Anoa, karena hanya dapat dilihat melalui kamera Trap.

Selain itu, Benny juga menyampaikan bahwa salah satu yang menjadi masalah di Taman Nasional Rawa Aopa adalah masih adanya oknum-oknum yang melakukan perburuan liar sehingga mengancam spesies Anoa, Maleo dan Rusa.

"Upaya yang kami lakukan mengantisipasi perburuan liar adalah melakukan patroli rutin pada site monitoring satwa prioritas, patroli mandiri habitat satwa tersebut, dan sosialisasi perlindungan satwa liar," ujar Benny.*

Baca juga: 300 hektare savana Taman Nasional RAW terbakar
Pewarta : Muhammad Harianto
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020