Luhut minta Jateng tingkatkan fasilitas isolasi terpusat

Luhut minta Jateng tingkatkan fasilitas isolasi terpusat

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan yang juga Wakil Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN).  ANTARA/HO Kemenko Kemaritiman dan Investasi.

Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meminta Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meningkatkan pemanfaatan fasilitas isolasi terpusat sebagai upaya menekan kenaikan angka terkonfirmasi positif COVID-19 di lima kabupaten dan kota di Jateng.

Luhut menilai pemanfaatan fasilitas isolasi terpadu akan dapat menekan penularan virus corona tersebut. Dia juga khawatir bila pasien yang sudah terkonfirmasi positif tidak segera diisolasi justru akan menularkan kepada keluarga terdekat sehingga menjadi klaster keluarga.

"Tolong Pak Ganjar (Gubernur Jateng) dan wali kota yang kasusnya tinggi segera perbanyak fasilitas isolasi mandiri terpusat berkoordinasi dengan BNPB, nanti dananya dibantu mereka," pinta Luhut dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Kenaikan Kasus COVID-19 Jawa Tengah yang dilaksanakan secara virtual, Selasa.

Fasilitas isolasi terpadu bisa digunakan untuk pasien tanpa gejala dan bergejala ringan sehingga pasien dapat dipantau secara optimal.

"Seperti di Wisma Atlet, pasien bergejala awal dan ringan cepat ditangani dan diisolasi sehingga mencegah kondisi gawat yang menyebabkan kematian," kata Luhut yang juga Wakil Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN) itu dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.

Dua minggu pascaliburan panjang pada 28 Oktober - 4 November 2020, kasus positif COVID-19 di Semarang, Kudus, Surakarta, Pati, dan Kudus mengalami kenaikan.

Luhut juga menyebutkan kini Kota Semarang memiliki kasus tertinggi di Jawa Tengah sebanyak 12.019 kasus dengan tingkat kematian tertinggi hingga 751 orang.

Luhut juga meminta agar Pangdam Diponegoro dan Kapolda Jawa Tengah membantu Gubernur Jawa Tengah untuk melakukan sosialisasi terus-menerus kepada masyarakat mengenai protokol kesehatan.

"Tolong bantu juga untuk mendorong supaya mereka yang kena atau positif segera ke tempat isolasi. Tidak usah malu," tambahnya.

Kampanye tersebut menurutnya penting agar masyarakat tidak menunda mencari pengobatan sekalipun masih bergejala ringan.

Luhut juga meminta segenap pihak ikut fokus dalam penanganan kasus di rumah sakit.

"Untuk Dinkes Jateng, tolong cek baik obat atau penanganan di RSnya. Angka kematian harus kita tekan serendah mungkin, dengan obat dan pengalaman kita mestinya bisa kita cegah," pesannya.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan dalam tiga hari ini pihaknya akan menggenjot upaya-upaya menekan penyebaran COVID-19, termasuk menambah fasilitas isolasi terpusat.

"Dalam tiga hari ini kami minta untuk gas pol termasuk isolasi mandiri karena kalau di rumah tidak merasa diisolasi. Saya minta kepada para bupati kita cari hotel untuk isolasi mandiri, kita bayar," katanya.

Ganjar juga mengaku telah meminta kepada Dinkes Jateng untuk terus melakukan tes, pelacakan, dan penelusuran terus menerus.

"Bersama dengan berbagai asosiasi, kami buat gerakan masuk ke rumah karena untuk menyosialisasikan mengenai protokol kesehatan dan pentingnya isolasi terpisah karena tingginya klaster rumah tangga," jelasnya.

Mengenai tingginya angka kematian, beberapa direktur rumah sakit di Jawa Tengah membeberkan bahwa salah satu penyebabnya adalah keterlambatan penanganan pasien.

"Pasien masuk ke kami kasusnya sudah sangat berat dan terlambat masuk ICU," ujar Direktur RS Kariadi Semarang Agoes OP.

Parahnya kondisi pasien saat masuk rumah sakit dan keterbatasan ruang ICU untuk isolasi pasien COVID-19 juga dituturkan oleh perwakilan dari RSUD Temanggung.

Baca juga: Luhut akan gunakan taktik militer tekan klaster baru COVID saat banjir
Baca juga: Menko Luhut ungkap tiga strategi pemerintah cegah lonjakan kasus COVID
Baca juga: Menko Luhut: AS mau bantu RI, kerja sama pengadaan vaksin COVID-19


 
Pewarta : Ade irma Junida
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2020