Pakar minta ada evaluasi regulasi mengenai prediksi bibit ayam petelur

Pakar minta ada evaluasi regulasi mengenai prediksi bibit ayam petelur

Petugas Suku Dinas Ketahanan Pangan, Keluatan dan Pertanian (KPKP) Kota Jakarta Selatan melakukan pengecekan telur dalam sidak pangan jelang perayaan Natal dan tahun baru 2020 di Galael Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (21/12/2020). ANTARA/Laily Rahmawaty/aa.

Jakarta (ANTARA) - Pakar Peternakan dari IPB University Prof Niken Ulupi mengatakan perlu adanya evaluasi regulasi mengenai prediksi dan pengadaan kebutuhan bibit ayam petelur untuk menjaga harga telur ayam tetap stabil.

“Ini penting dievaluasi agar bisa diantisipasi adanya kenaikan permintaan konsumsi masyarakat terhadap telur konsumsi. Selain itu yang perlu dievaluasi adalah regulasi tentang larangan penjualan telur hatching egg ayam broiler (telur tertunas) fresh sebagai telur konsumsi,” ujar Niken dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu.

Menjelang akhir tahun harga telur ayam terus melonjak dari sebelumnya Rp22.000 menjadi Rp30,000 per kilogram. Prof Niken yang berasal dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan tersebut mengatakan hampir setiap tahun terjadi, terutama pada akhir tahun menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.

Kenaikan harga telur juga dipicu oleh adanya beberapa faktor pendukung, seperti adanya peningkatan konsumsi telur pada 2020. Pada masa pandemi ini, konsumsi telur naik dari 14.7 kg/kapita menjadi 18.7 kg/kapita (data dari Asosiasi Peternakan Ayam Petelur Nasional, 2020).

Baca juga: 500 kg telur terjual dalam Gelar Pangan Murah di Jakarta

Baca juga: Harga telur ayam murah ada di 15 pasar di DKI Jakarta

“Peningkatan permintaan ini tentu saja berdampak pada peningkatan harga telur. Selain itu menjelang akhir tahun 2020 ini, terjadi lonjakan harga bibit ayam petelur. Sebelumnya harga Day Old Chicken (DOC) ayam petelur berkisar Rp7000/ekor, sekarang harga DOC mencapai Rp 17.000/ekor. Pemicu lainnya juga adalah adanya peningkatan bahan baku pakan impor, yang mencapai 40 persen,” ujar dia.

Pada dasarnya, terjadinya perubahan harga telur karena adanya ketidakseimbangan antara ketersediaan dan permintaan telur. Selain itu, penyaluran penjualan telur juga masih cukup panjang. Selama ini masih melalui perantara atau pedagang telur, seharusnya langsung ke pengecer biar sedekat mungkin dengan konsumen.*

Baca juga: Ketua DPD minta pemerintah atasi harga telur naik jelang akhir tahun

Baca juga: DKI Jakarta siapkan operasi pasar kendalikan harga telur

Pewarta : Indriani
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020