Pakar: Banjir berulang akibat akumulasi masalah dalam waktu lama

Pakar: Banjir berulang akibat akumulasi masalah dalam waktu lama

Tangkapan layar - Guru besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Hariadi Kartodiharjo dalam diskusi tentang banjir dan permasalahan tata ruang yang dipantau virtual dari Jakarta pada Kamis (28/1/2021). ANTARA/Prisca Triferna.

Jakarta (ANTARA) - Guru besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Hariadi Kartodiharjo mengatakan bahwa bencana hidrometeorologi seperti banjir adalah akumulasi permasalahan tata ruang yang sudah terjadi dalam waktu lama.

"Ini sebenarnya adalah perubahan yang sifat dasarnya tidak seketika," kata Hariadi Kartodiharjo dalam diskusi virtual tentang permasalahan tata ruang di balik banjir berulang, dipantau dari Jakarta pada Kamis.

Permasalahan tata ruang itu bisa terjadi bertahun-tahun, kata Hariadi, melampaui sifat dasar kepemimpinan. Implikasinya adalah berbagai faktor tersebut dikontestasikan jika terjadi bencana, berbagai pihak akan saling melemparkan tuduhan.

Padahal menurut dia, karakteristik dari lokasi bencana tersebut sangat spesifik sehingga apa saja bisa berpengaruh di sana.

"Yang penting saya kira belum diungkap di media juga adalah sifat akumulasinya. Jadi ini bukan tunggal tapi terakumulasi dari waktu ke waktu," kata Guru Besar bidang kebijakan kehutanan itu dalam diskusi yang diselenggarakan Thamrin School of Climate Change and Sustainability.

Baca juga: Pakar tata ruang perkirakan banjir bandang di Bogor bisa terulang
Baca juga: Pemprov DKI investigasi indikasi pelanggaran tata ruang di Ciganjur


Dia mengandaikan seperti penyakit jantung bukan bawaan, yang kebanyakan tidak terjadi seketika tapi memiliki periode yang panjang dan dipengaruhi berbagai faktor gaya hidup.

Karena itu, salah satu cara untuk mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut adalah keterbukaan informasi akan sektor tata ruang . Hal itu karena permasalahan bencana berulang akibat faktor aktivitas manusia, tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja.

"Ini persoalan sulit karena dampak-dampaknya melampaui pertanggungjawaban kerja kita. Yang kita rusak sekarang dampaknya bisa sepuluh tahun lagi, tapi cara-cara kelembagaan sebenarnya sudah ditemukan untuk memastikan bagaimana itu dikendalikan," tegasnya.

Baca juga: Satukan tata ruang Jabar-DKI guna minimalisasi banjir, kata legislator
Baca juga: Pengembalian fungsi konservasi DAS solusi atasi banjir, sebut BNPB
Pewarta : Prisca Triferna Violleta
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021