Vaksinasi dan kasus COVID-19 turun, permintaan produk Indocement naik

Vaksinasi dan kasus COVID-19 turun, permintaan produk Indocement naik

Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Indocement, Antonius Marcos (kiri) saat bersama Dirut Indocement Christian Kartawijaya (tengah) saat webinar Paparan Publik ITP yang diikuti dari Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (19/3/2021) petang. (FOTO ANTARA/HO-Humas Indocement)

Citeureup, Bogor (ANTARA) - PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (ITP) mulai mengalami peningkatan permintaan produksi semen seiring vaksinasi dan penurunan kasus penularan COVID-19 secara nasional.

"Industri semen sudah mulai menunjukkan peningkatan permintaan semen di mana pada bulan Februari telah bertumbuh positif 1 persen YoY (year over year) untuk pertama kalinya sejak pandemi COVID-19," kata Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Indocement, Antonius Marcos saat webinar Paparan Publik ITP yang diikuti dari Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (19/3) petang.

YOY adalah metode untuk mengevaluasi dua atau lebih peristiwa yang diukur untuk membandingkan hasil pada satu periode secara tahunan.

Mendampingi Direktur Utama (Dirut) PT Indocement, Christian Kartawijaya, ia menjelaskan sejak awal tahun 2020 industri semen diterpa berbagai tantangan, mulai dari lebatnya hujan di awal tahun, kemudian disusul pandemi COVID-19.

"Keseluruhan pertumbuhan ekonomi termasuk industri semen berada pada titik terendah selama triwulan kedua saat awal pandemi dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)," katanya.

Marcos menyebutkan pemulihan mulai terjadi secara gradual di paruh kedua tahun 2020, walau relatif lambat yang disebabkan oleh kasus baru COVID-19 harian yang masih meningkat seiring dengan berjalannya pembatasan mobilitas.

Pada awal tahun 2021 pun, menurut dia, industri semen masih tertekan karena siklus tahunan musim hujan dan meningkatnya kasus COVID-19 usai libur akhir tahun.

"Namun dengan cuaca yang lebih kering dan kecenderungan penurunan kasus baru COVID-19 harian belakangan ini, termasuk proses vaksinasi yang sudah mulai berjalan sejak Januari, kondisi permintaan membaik," katanya.

Ia meyakini beberapa kebijakan pemerintah seperti pembentukan sovereign wealth funds (SWF), kredit kepemilikan rumah (KPR) bunga rendah, dan PPN 0 persen untuk kepemilikan rumah jenis tertentu menjadi katalis positif bagi industri semen.

"Pertumbuhan konsumsi semen yang lebih kuat akan terjadi pada semester kedua tahun ini, khususnya semen curah dengan dimulainya beberapa proyek besar baik infrastruktur, pembangunan pabrik-pabrik baru, proyek smelting dan pembangunan kawasan industri dan pariwisata baru serta proyek-proyek perumahan dari berbagai developer," kata Antonius Marcos.

Sementara itu Dirut Indocement Christian Kartawijaya dalam webinar itu menyatakan produsen semen "Tiga Roda" itu memproyeksikan penjualan semen pada 2021 akan tumbuh 4 persen hingga 5 persen dengan mengacu pada perkiraan permintaan semen bakal tumbuh lagi dan lebih baik dibanding tahun 2020, yang tertekan dampak pandemi.

Di samping itu, keyakinan membaiknya penjualan semen akan ditopang dengan kenaikan anggaran infrastruktur sebesar 38 persen dari tahun lalu di mana Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mendapat porsi terbesar dalam APBN 2021 sebesar Rp149,8 triliun dan serapannya baru 7 persen per Februari ini.

Baca juga: Indocement: Semen hidrolik turunkan emisi debu jadi "green cement"

Baca juga: Mulai pulih, volume penjualan Indocement meningkat 43,4 persen

Baca juga: Mewujudkan lahirnya inovasi lewat penelitian melalui P4M

Baca juga: Indocement Peduli bantu korban bencana alam di Indonesia

Pewarta : M Fikri Setiawan
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2021